Relasi
DIANA ZAIN RAHMAWATI, Drs. Soeprapto, SU
2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIDesa Wisata Tembi merupakan lokasi wisata berbasis pedesaan. Desa Wisata Tembi dirilis tahun 2004 kemudian kembali dibuka melalui pembangunan homestay dan diresmikan tanggal 31 Agustus 2007 oleh Sri Sultan HB X. Setelah dibangun beberapa homestay, Desa Tembi mulai dikunjungi wisatawan baik mancanegara maupun domestik. Keberadaan wisatawan tersebut membuat warga lokal menjadi interaksi dengan mereka. Sehubungan dengan itu, penelitian ini memfokuskan tentang relasi sosial antara warga lokal dengan wisatawan mancanegara di Homestay Tembi dan manfaat relasi sosial warga lokal dengan wisatawan mancanegara. Peneliti mengacu pada teori Greenwood tentang tahapan-tahapan sikap masyarakat terhadap wisatawan mancanegara. Terdapat empat tahapan yaitu Euphoria, Apathy, Annoyance, dan Antagonism. Masyarakat akan bersikap Euphoria apabila masyarakat menerima keberadaan wisatawan mancanegara. Masyarakat akan Apathy apabila masyarakat memaklumi keberadaan wisatawan mancanegara. Dalam tahapan Annoyance masyarakat akan merasa terganggu atas keberadaan wisatwan mancanegara. Tahapan Antagonism terjadi apabila masyarakat menunjukkan sikap menolak atas keberadaan wisatawan mancanegara. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan objek dalam bentuk naratif. Data didapat dalam bentuk kata atau gambar. Peneliti mendeskripsikan fenomena sosial yang menggambarkan kejadian yang terjadi di lapangan. Desa Wisata Tembi memiliki keunikan yaitu merupakan satu-satunya Desa Wisata yang tidak memiliki lokasi wisata, namun hanya menjual bentuk seperti: Homestay, bangunan khas Jawa, dan pemandangan lainnya. Icon Desa Wisata Tembi yaitu Homestay. Homestay Tembi terinspirasi dari Warwick Pursen Larsen yang mendirikan Homestay bernama d’Omah Hotel. Meskipun Homestay tersebut didirikan di pedesaan namun banyak wisatawan mancanegara berkunjung. Hal ini membuat Bapak Dawud sebagai Ketua Desa Wisata tergerak untuk membuat suatu perubahan di desanya dengan membuat Homestay Tembi. Di Homestay Tembi para wisatawan mancanegara tidak hanya melakukan kegiatan menginap saja tapi juga melakukan kegiatan di Homestay Tembi seperti out bound, Tembi tour, Gejog Lesung, pelatihan membuat gerabah dan melukis batik. Wisatawan mancanegara sangat antusias mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut membuat terjadi suatu interaksi dan relasi antara wisatawan mancanegara dengan masyarakat lokal, ditunjukkan dari interaksi kegiatan melalui mimic muka ataupun gesture tubuh.
Desa Wisata Tembi is a village-base tourist site. It released on 2004 and began to revived through building up homestay that officially announced by Sri Sultan HB X on August 31st 2007. After building up several homestay, tourists come after another whether domestic and foreign. Local residents start to interact with the tourists. This will be the focus of this research about the social relation of local residents with foreign tourists in Tembi homestay and the advantages that come with it. Researcher using Greenwood theory about the phase of people interaction with foreign tourists to explain this social relation. There are four phase, that is Euphoria, Apathy, Annoyance, and Antagonism. Euphoria is seen when people accepting foreign tourists existence. Apathy is seen when people be understanding of foreign tourists existence. Annoyance is seen when people feel disturbed by foreign tourists existence. Antagonism is seen when people rejecting foreign tourists existence. Researcher using qualitative methods by describing the object in narrative way by words and images. Researcher describing the social phenomena as seen from what really happen there. Desa Wisata Tembi is unique by it's the only desa wisara that don't have a specific tourist site except for the homestay, the Javanese architecture building, and the view around the homestay. The homestay is the icon of Desa Wisata Tembi. It was inspired by d'Omah Hotel that was build by a foreign name Warwick Pursen Larsen. d'Omah Hotel is build in a village but is popular by foreign tourists. This is inspired Bapak Dawud as the chief of Desa Wisata to build Tembi homestay. Foreign tourists not only stay the night but also do various activities in Tembi such as out bound, Tembi tour, gejog lesung, making gerabah, and painting batik. Foreign tourists enthusiast and enjoy doing those activities. The social relation between foreign tourists and local residents is seen by their everyday interaction in homestay. If the foreign tourists face a problem when making gerabah they don't hesitate to ask for help from the local residents whether through face mimic or body language.
Kata Kunci : relasi sosial, penduduk lokal, wisatawan mancanegara