Laporkan Masalah

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KEWIRAUSAHAAN SOSIAL. Studi Proses Pemberdayaan Masyarakat oleh Bambooland Social Enterprise dalam Pembangunan Ekonomi Lokal di Dusun Ngepring, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DIY

MUHAMMAD NAJIH I, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.Si.

2019 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Pluralisme kesejahteraan memberikan keleluasaan bagi berbagai aktor untuk mengambil peran dalam pewujudan kesejahteraan pada khalayak. Social entrepreneur (kewirausahaan sosial) muncul dan mendapat sorotan karena mernjadi sebuah bentuk alternatif, yakni sebagai entitas hybrid, dengan dua prinsip utama yakni; 1) upaya memaksimalkan profit, yang dilakukan dengan melakukan aktivitas ekonomi yang berhubungan dengan isu sosial, 2) dengan tujuan utama agar hasil dari aktivitas ekonomi tersebut dapat diinvestasikan kembali untuk membangun komunitas/masyarakat dimana ia berada. Salah satunya adalah Bambooland Social Enterprise (BSE) di Purwobinangun, Pakem, Sleman yang telah berdiri selama 2 tahun dan mendefinisikan dirinya sebagai satu model kewirausahaan sosial. Selain telah menginisiasi wadah bagi studi mengenai pemanfaatan bambu di Sleman, juga tidak luput membangun perlahan ekonomi masyarakat melalui pendampingan usaha serta berbagai peningkatan kapasitas masyarakat secara menyeluruh mengenai tanaman bambu sejak hulu (proses tanam dan budidaya) hingga hilir (produk ekonomi dan berbagai produk turunannya). Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana proses pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui kewirausahaan sosial oleh BSE dan perannya dalam pembangunan ekonomi lokal. Konsep yang digunakan untuk mengkerangkai penelitian ini adalah Konsep Faktor Kewirausahaan Sosial oleh Thomas Lumpkin dalam menganalisa kewirausahaan sosial yang dilakukan oleh BSE, konsep pemberdayaan masyarakat, serta konsep Pembangunan Ekonomi Lokal oleh Birkohzler. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam mengungkapkan secara deskriptif tentang proses pemberdayaan yang dilakukan oleh BSE. Unit analisis dalam penelitian ini adalah BSE di Dusun Ngepring, Purwobinangun, Pakem, Sleman, serta masyarakat yang terlibat dan ada di sekitarnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam serta analisis dokumen. Proses analisis data diawali dengan reduksi data, penyajian data, serta verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kewirausahaan sosial dilakukan BSE dalam membangun Bamboo Living Laboratory bersama masyarakat. Proses pemberdayaan dilakukan melalui program Sekolah Lapang dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, serta diimplementasikan dengan membentuk kelompok pengurus Bambooland Dusun Ngepring sebagai bentuk pendelegasian otoritas. Pembangunan ekonomi lokal yang dilakukan BSE ditinjau melalui perannya dalam membangun modal sosial, melakukan pengembangan berfokus pada komunitas, melakukan pengembangan masyarakat dengan pendekatan terintegrasi, serta utamanya dalam pembangunan kembali siklus ekonomi di masyarakat Dusun Ngepring.

Welfare pluralism has given wide opportunity to every different actor to participate at welfare development process. Nowadays, social entrerpreneurship is highlighted and rising as an altrenative form, called as hybrid entity, with two core principles: profit optimization work, by doing economical activity that focused on social issues, with main goals to invest their economical activities back to develop the community. One of them is Bambooland Social Enterprise (BSE) located in Purwobinangun, Pakem, Sleman which had took action for 2 years, and define itself as a social enterprise. They manage to take a role at inisiate a melting pot for bamboo utilization-related studies. They also manage to slowly develops communitys economic aspect through empowerment of micro business and building holistic community capacity. This research aim is to answer the research question in analyzing at how was the process of community empowerment implemented by BSE as a social entrepreneur, and its role at developing local economic. Social Entrepreneur Factor concept is being used in this research to analyze how BSE implements as a social entrepreneur. Moreover, Community Empowerment concept and Local Economic Development concept is being used to analyze the process of empowerment. Qualitative approach is being used to reveal descriptively about the process of community empowerment implemented by BSE. Purposive and snowballing technique is used into selection of this researchs informant. Unit analysis for this research is BSE social entreprenutship in Dusun Ngepring, Purwobinangun, Pakem Sleman, and community that involved in the process of empowerment. Data collection process in this research is through observation, in-depth interview and document analysis. Data analysis process in this research is through data reduction, data presentation, and data verification. The results of this research are shown that BSE practiced concept of social entrepreneurship through developing process of Bamboo Living Laboratory in Dusun Ngepring, along with the community. Empowerment process implemented through Sekolah Lapang at building communitys capacity, and delegating its activity and responsibility to local organizator group Bambooland Dusun Ngepring. Local economic development role of BSE is implemented especially at rebuilding economic cycle at Dusun Ngepring.

Kata Kunci : Kewirausahaan Sosial, Bambooland Social Enterprise, pemberdayaan masyarakat, pembangunan ekonomi lokal

  1. S1-2019-335920-abstract.pdf  
  2. S1-2019-335920-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-335920-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-335920-title.pdf