Laporkan Masalah

Elite in The Making and Circulation of Power (Studi Kasus Instrumentasi Modalitas Nurdin Abdullah Pada Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan 2018)

Defila Priana Falarima, Ulya Niami Efrina Jamson, M.A.

2019 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Penelitian ini akan menjelaskan tentang bagaimana proses pembentukan elit politik yang menempatkan Nurdin Abdullah sebagai contoh kasus dalam mengeksplorasi segala modalitas yang dimiliki untuk mengikuti pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan 2018. Pilkada 2018 muncul sebagai kejutan besar untuk Sulawesi Selatan sebab menghasilkan Nurdin Abdullah dan Sudirman Sulaiman sebagai pemenang. Kemenangan Nurdin Abdullah dalam Pilkada Sulawesi Selatan 2018 memutus dominasi Partai Golkar dalam beberapa dekade terakhir dan juga politik dinasti yang telah dibangun oleh Gubernur sebelumnya. Limitasi penelitian ini terbatas pada penjelasan mengenai proses pembentukan elit politik baru, namun tidak untuk menjelaskan perubahan struktur kekuasaan yang terjadi setelah Pilkada Sulawesi Selatan 2018. Untuk menunjang penelitian, pendekatan kualitatif dipilih untuk memahami langsung fenomena yang sedang terjadi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modalitas Pierre Bourdieu, yang menganalisa proses pembentukan Nurdin Abdullah sebagai elit politik dengan melihat modal simbolik, modal sosial, modal budaya dan modal ekonomi yang melekat padanya. Modal simbolik yang dimiliki berupa kedudukan Nurdin sebagai bangsawan keturunan ke 28 Raja Bantaeng dan seorang Professor. Kemudian modal budaya yaitu kepemilikan nilai siri’ na pacce dan sulapa eppa’e yang terlihat dari kualitas pendidikan, penghargaan dan karakter yang melekat padanya. Modal sosial yaitu kemampuan komunikasi Nurdin Abdullah yang memberikan keuntungan dalam membangun relasi dan kepercayaan masyarakat. Serta modal ekonomi yang kuat diperoleh dengan penghasilan sebagai pengusaha di empat Perusahaan Jepang dan gaji seorang akademisi berhasil menghantarkan Nurdin Abdullah di posisi kedua dengan kekayaan terbesar dibanding calon gubernur dan wakil gubernur lainnya. Mekanisme instrumentasi modal-modal Nurdin Abdullah tersebut dapat dilihat dengan cara pemanfaatan segala atribut dan simbol yang melekat pada Nurdin, pemanfaatan jaringan komunikasi dan relasi Nurdin, serta pemanfaatan hasil kerja dan prestasi yang telah dihasilkan selama menjabat sebagai Bupati Bantaeng dua periode. Instrumentasi ini dikatakan berhasil karena adanya dukungan baik dari internal maupun eksternal terhadap agenda dan pemikiran Nurdin Abdullah. Sehingga, kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa proses pembentukan elit dari elit non-politik menjadi elit politik dapat dilakukan oleh Nurdin Abdullah dengan mentransformasikan paket komplit modalitas yang dimiliki menjadi sebuah modal politik yang kuat. Penelitian ini menunjukkan kemenangan Nurdin Abdullah yang berhasil memberikan dampak yang besar bagi sirkulasi kekuasaan di Sulawesi Selatan, meskipun tidak menjelaskan perubahan struktur kekuasaan secara lebih luas. Kata kunci: Elite in the making, Sirkulasi kekuasaan, Elit baru, Pilkada

The 2018 regional election emerged as a big surprise for South Sulawesi because it produced Nurdin Abdullah as the winner. Nurdin Abdullah, who was not from a political womb, but an academic who had never aspired to become a politician, was able to present a circulation of power in the local politics of South Sulawesi. However, this victory certainly would not have happened if Nurdin Abdullah was unable to demonstrate his existence and expertise in forming himself as a new political elite. Therefore, this study seeks to explain how the process of forming a political elite that places Nurdin Abdullah as an example case in exploring all the modalities possessed to take part in the election of the Governor of South Sulawesi 2018. To support research, a qualitative approach is chosen to understand the current phenomenon. Data collection techniques were carried out by in-depth interviews and documentation studies. In accordance with Pierre Bourdieu's modality theory, that to analyze Nurdin Abdullah's formation process as a political elite, where his presence is able to present a circulation of power in South Sulawesi's local politics, it is necessary to look at the modalities attached to it. These modalities include symbolic capital, social capital, cultural capital, and finally economic capital. The mechanism of instrumentation of Nurdin Abdullah's capital can be seen by utilizing all the attributes and symbols attached to Nurdin, the use of Nurdin's communication network and relations, and the utilization of the work and achievements that have been produced while serving as Bantaeng Regent for two periods. This instrumentation is said to be successful because of the support from both internal and external to Nurdin Abdullah's agenda and thoughts. Thus, the conclusions of this study indicate that Nurdin Abdullah is a new political elite with a complete package of modalities possessed and its presence has a major impact on the circulation of power in South Sulawesi.

Kata Kunci : Elite in the making, Sirkulasi kekuasaan, Elit baru, Pilkada

  1. S1-2019-379850-Abstract.pdf  
  2. S1-2019-379850-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-379850-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-379850-title.pdf