KONSEP KETUHANAN DALAM PEMIKIRAN EMHA AINUN NADJIB
AHMAD MUSLIMIN, Dr. Agus Himawan Utomo, M.Ag.
2019 | Skripsi | S1 FILSAFATPenelitian ini berjudul Konsep Ketuhanan dalam Pemikiran Emha Ainun Nadjib. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bertuhan. Demikian pula, bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan dan menjadikan nilai ketuhanan sebagai salah satu dasar negara. Namun dalam realitanya kehidupan di Indonesia dihegemoni oleh paham-paham keduniaan seperti materialisme dan kapitalisme. Tuhan dan nilai-nilai ketuhanan kerap kali dilupakan. Padahal, manusia sebagai makhluk yang bertuhan idealnya menjadikan Tuhan sebagai landasan dan tujuan setiap gerak dan aktivitasnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pemikiran ketuhanan Nadjib, dan menemukan relevansi pemikiran tersebut dalam berbagai konteks di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model penelitian historis faktual mengenai tokoh dengan metode analisis: interpretasi, induksi & deduksi, holistika dan heuristika. Penelitian ini ditempuh dalam lima tahapan: inventarisasi data, klasifikasi data, analisis data, evaluasi kritis, dan penyusunan hasil. Penelitian ini bersifat kepustakaan. Terdapat tiga pokok pikiran Nadjib tentang ketuhanan. Pertama, pemikiran Nadjib dipengaruhi ajaran Tuhan sebagai sangkan-paran, yaitu Tuhan sebagai pencipta dan tujuan akhir segala makhluk. Tuhan berkuasa secara mutlak atas semua makhluknya. Yang kedua adalah tentang relasi Tuhan dan manusia. Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifah yang bertugas mengelola alam semesta dengan berpedoman pada aturan-aturan Tuhan. Yang ketiga adalah solusi segitiga cinta, semacam jalan selamat yang mengharuskan manusia selalu terhubung dengan cinta dan kasih sayang Tuhan dengan cara mencintai dan mengikuti Nabi Muhammad agar sukses dalam menghadapi berbagai permasalahan di dunia dan selamat dalam perjalanan kembali menuju Tuhan. Pemikiran ketuhanan Nadjib memiliki relevansi dengan beberapa konteks di Indonesia seperti paradigma pembangunan, kepemimpinan, dan toleransi. Pelaksanan pembangunan di Indonesia harusnya berlandaskan nilai-nilai ketuhanan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Begitu pula dengan kepemimpinan, pemerintah sebagai pemimpin harus menjadikan aturan Tuhan dan kepentingan rakyat sebagai pertimbangan utama dalam menyelenggarakan negara. Pemikiran Nadjib tentang "tauhid basyariyah" dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk mengkampanyekan pentingnya toleransi antar warga Indonesia. Bahwa kepercayaan terhadap Tuhan harusnya membuat manusia menyayangi sesamanya.
This study is entitled The Divine Thought of Emha Ainun Nadjib. Humans are essentially creatures that believe in God. Likewise, the nation of Indonesia is a nation that believes in God and makes the divine value one of the foundations of the state. But in real life, Indonesia is overwhelmed by worldly notions such as materialism and capitalism. God and divine values are often forgotten. Humans as creatures that believe in God ideally make God as the foundation and purpose for every movement and activity. The purpose of this study is to analyze Nadjib's divine thought and find the relevance of these thoughts to various contexts in Indonesia. The method that used in this study is historical factual research models about figures with analytical methods: interpretation, induction & deduction, holistic and heuristics. This research was carried out in five stages: data inventory, data classification, data analysis, critical evaluation, and compilation of results. This is a library-based research. There are three main ideas of Nadjib's thought about divinity. First, God is the origin and destination. God is the creator and the ultimate destination of all beings. God has absolute power over all of His creatures. The second thought is about the relationship between God and humans. God created man as the caliph who is tasked with managing the universe by referring to God's rules. The third is the love triangle solution, a kind of a salvation path that requires humans to be always connected with God's love and grace by loving and following the Prophet Muhammad to succeed in dealing with various problems in the world and be safe on the way back to God. Nadjib's divine thought has relevance to several contexts in Indonesia such as the paradigm of development, leadership, and tolerance. Implementation of development in Indonesia should be based on divine values and uphold humanity. Likewise, with leadership, the government as a leader must make God's rules and the interests of the people as the main consideration in running the state. Nadjib's thoughts about "tauhid basyariyah" can be used as inspiration to campaign for the importance of tolerance among Indonesians. That belief in God should make humans love each other.
Kata Kunci : Filsafat Ketuhanan, sangkan-paran, khalifah, toleransiDivine philosophy, origin and destination, caliph, tolerance