Evaluasi Pola Tanam pada Rehabilitasi Hutan dan Lahan Desa Kepuharjo Paska Erupsi 2010 dengan Analisis Multi Kriteria
Tristiayu Permata Dwiputri, Djoko Soeprijadi, S. Hut., M.Cs.;Ir. Sri Danarto, M.Agr.Sc.
2019 | Skripsi | S1 KEHUTANANRehabilitasi hutan dan lahan (RHL) merupakan upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan. Kegiatan RHL memerlukan evaluasi agar dapat menekan resiko kegagalan dan meningkatkan kemungkinan keberhasilan RHL. Salah satu yang dipertimbangkan dalam melakukan evaluasi RHL adalah penentuan pola tanam yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria dan indikator dan menentukan pola tanam yang sesuai untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan paska erupsi Gunung Merapi di Desa Kepuharjo. Analisis Multi Kriteria (AMK) dapat digunakan untuk menyusun kriteria dan indikator pada permasalahan yang kompleks dalam kegiatan RHL. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 2 aspek yang dapat digunakan untuk evaluasi, yaitu aspek biofisik dan sosio-cultural. Penelitian menghasilkan 4 kriteria pada aspek biofisik, antara lain produk, fungsi konservasi tanah dan air (KTA), resiko gangguan, dan kesesuaian jenis terhadap mitigasi bencana. Adapun pada aspek sosio-cultural menghasilkan 3 kriteria, antara lain peningkatan pendapatan, perbaikan modal sosial, dan perluasan bisnis. Berdasarkan penilaian pada kriteria dan indikator, pola tanam terbaik untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan paska erupsi Gunung Merapi di Desa Kepuharjo adalah pola tanam 4. Komposisi jenis pola tanam tersebut adalah tanaman sengon, tanaman keras lainnya baik komersial maupun nonkomersial, tanaman perkebunan, dan tanaman buah-buahan.
Forest and land rehabilitation is an effort to restore, maintain, and improve the function of forests and land. Forest and land rehabilitation activities need evaluation to reduce the risk of failure and increase its success possibility. One of the considerations in evaluating forest and land rehabilitation is the determination of suitable planting patterns. This study aims to identify the criterias and indicators for selection and determine the best planting patterns for forest and land rehabilitation activities after the eruption of Mount Merapi in Kepuharjo Village. Multi criterias analysis is used for construct the structure of criterias and indicators due to the complex problems of these forest and land rehabilitation. Meanwhile, Analytical Hierarchy Process (AHP) is applied for determining weight of its criterias and indicators. The result of criterias and indicators construct show that the evaluation need 2 aspects, that are bio-physical and sosio-cultural aspect. The bio-physical aspect including products, soil and water conservation function, risks of disruption, and type of suitability for disaster mitigation. The sosio-cultural aspects results in 3 criteria, including an increase in income, improvement of social capital, and business expansion. Based on assessments on these criterias and indicators, the best planting patterns for forest and land rehabilitation activities after the eruption of Mount Merapi in Kepuharjo Village are cropping patterns 4. The composition of the types of cropping patterns are sengon plants, other hard plants both commercial and non-commercial, plantation crops, and fruit plants.
Kata Kunci : Pola tanam, rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), dan analisis multi kriteria (AMK);Plant pattern, forest and land rehabilitation, dan multi-criteria analysis