Laporkan Masalah

Diplomasi "Tim Negosiasi RI" Melawan Diskriminasi Kelapa Sawit di Uni Eropa

ILHAM DARY ATHALLAH, Dr. Siti Muti'ah Setiawati

2019 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Pada Maret hingga Juni 2018, Tim Negosiasi RI untuk Perundingan Pembatasan Produk Turunan Kelapa Sawit di Uni Eropa yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, berhasil melakukan perlawanan terhadap diskriminasi kelapa sawit di Uni Eropa. Perlawanan tersebut berlangsung dalam bentuk menegosiasikan moratorium kebijakan Renewable Energy Directive (RED), yang sedianya diterapkan pada tahun 2019 dengan cara melabeli kelapa sawit sebagai komoditas yang beresiko tinggi terhadap lingkungan dan dilarang untuk ditransaksikan di Uni Eropa. Skripsi ini hendak mendalami bagaimana negosiasi dalam "diplomasi sawit" tersebut dilangsungkan Tim Negosiasi RI, menggunakan kacamata multi-track diplomacy dan special mission. Bagaimana kepemimpinan Menko Luhut dan penggunaan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan yang diwujudkan industri sawit sebagai poin negosiasi hingga memperoleh dukungan Vatikan layaknya direfleksikan dari interaksi Indonesia dalam rangkaian diplomasi, juga akan dianalisis untuk menarik benang merah dalam kesepakatan Trilog Uni Eropa melakukan moratorium RED. Pendalaman ini penting untuk menambah khasanah keilmuan terkait diplomasi dan praktik hubungan luar negeri Indonesia. Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah diplomasi sawit, Indonesia memperoleh hasil yang menguntungkan dari negosiasi sawit dengan Uni Eropa.

In March to June 2018, Republic of Indonesia's Negotiation Team for Discussing Limitation of Palm Oil Derivatives in European Union which led by Coordinating Minister of Maritime Affairs Luhut Binsar Pandjaitan, succesfully resisted discrimination of palm oil in European Union. That resistance happened in form of negotiating the suspension of Renewable Energy Directive (RED) regulation, which was scheduled to go into effect in 2019 by labelling palm oil as environmentally high-risk comodity and banned to be sold in European Union teritories. This thesis aims to analyze how negotiation in "sawit diplomation" was done by Indonesia's Negotiation Team, using the lens of multi-track diplomacy and special mission. How both Minister Luhut's leadership and using welfare-palm oil correlation as negotiating point that got the heart of Vatican which reflected in Indonesia's diplomation series, will also be analayzed to look at the bottom line on the agreement of European Union's Trilogue in suspending RED. This analysis is important to expand the scientific knowledge in diplomatic and Indonesia's foreign affair practices. Because for the first time in the history of palm oil's diplomacy, Indonesia earned beneficial results from palm oil negotiation with European Union.

Kata Kunci : Diplomasi Sawit, Indonesia; Vatikan; Uni Eropa; Luhut Binsar Pandjaitan; Renewable Energy Directive

  1. S1-2019-394558-abstract.pdf  
  2. S1-2019-394558-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-394558-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-394558-title.pdf