BUILDING INTERRELIGIOUS DIALOGUE FROM THE GRASSROOTS: A CASE STUDY OF COMMUNITY DEVELOPMENT PROGRAM IN JAYAPURA, PAPUA
ANTHON JASON, Dr. Samsul Maarif
2019 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYADalam jangka waktu yang lama, masyarakat papua masih hidup dalam keadaan infrastruktur yang tak memadai juga terus mengalami konflik yang berkepanjangan. Banyak pihak, lokal maupun nasional, pemerintah dan Lembaga swadaya, telah mencoba berbagai upaya untuk membawa damai di bumi Papua. Akan tetapi, semua usaha perdamaian itu tidak menyentuh masyarakat akar rumput sebagai pihak yang paling terdampak dari kekerasan struktural tersebut. Melihat situasi tersebut dan berdasarkan keyakinan bahwa kedamaian berkelanjutan mesti berakar pada masyarakat akar rumput pada agama dan budaya lokal, UGM CaRED bekerjasama dengan Ilalang Papua, merancang sebuah program pembangunan komunitas (Comdev) untuk masyarakat akar rumput di Jayapura, Papua. Program ini dirancang sebagai pendekatan untuk melemahkan pertumbuhan politik identitas di Papua, yang juga berarti berfungsi sebagai jembatan sosial dan memberdayakan masyarakat melalui aktivitas yang berguna secara sosial dan ekonomi. Salah satu program dari pembangunan komunitas ini adalah pengolahan sampah. Program pengolahan sampah ini menjadi sebuah kesempatan untuk orang-orang dari berbagai latar belakang agama untuk berdialog. Sesungguhnya, program pengolahan sampah memang dirancang untuk sebagai media agar dialog antar agama di masyarakat akar rumput bisa berlangsung. Tesis ini berupaya untuk memeriksa dialog antar agama seperti apa yang berlangsung pada program pembangunan komunitas di Jayapura melalui tujuh level dialog antar agama oleh Banawiratma (2009) dan empat langkah dialog pembebasan oleh Knitter (1995).
For such a long time, Papuan society still lives underdeveloped and stay in conflict-prone areas. Many parties, local and national, government and NGO (non-governmental organisation) has attempted to bring peace in Papua. However, the attempts to build peace did not reach grassroots society as the most impacted victim of structured violence. On that situation, based on the belief that sustainable peace should be rooted in the local culture and religion, namely parts of social capital on grassroots society, UGM CaRED program collaborated with Ilalang Papua, had designed a community development for grassroots level in Jayapura, Papua. It was built as an approach to weaken the growth of political identity in Papua, which was also meant to be a social bridge and empowering people through some advantageous activities, socially and economically. One of the programs of this community development in Jayapura is waste management. Waste management program becomes an opportunity for people from diverse religious background to do dialogue. Indeed, waste management program was designed for a medium for interreligious dialogue at the grassroots happened. This thesis attempts to examine what kind of interreligious dialogue is the community development program in Jayapura through the seven levels of interreligious dialogue by Banawiratma (2009) and four steps of liberative dialogue by Knitter (1995).
Kata Kunci : Papua, Community Development, Interreligious Dialogue, Grassroots Society