Adat dan Siasat Aristokrat: Studi Tentang Strategi Rekonstrusi Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan
MUHAMMAD FADZRYL A, Longgina Novadona Bayo, S.I.P., M.A.
2019 | Tesis | MAGISTER POLITIK DAN PEMERINTAHANPenelitian ini ingin melihat praktik rekonstruksi Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan pada era pasca-reformasi, lebih spesifik terkait motivasi dan strategi yang digunakan oleh para aktor-aktor penggeraknya. Studi atas fenomena rekonstruksi ini menarik dan sekaligus penting karena dua alasan. Pertama, secara empirik kasus ini menunjukan tumbuhnya gerakan komunitarian lokal yang mewakili kelompok aristokrat. Praktik ini dapat dibaca sebagai sebuah gerakan konsolidasi dikalangan kelompok bangsawan untuk mengejar kepentingan tertentu. Kedua, secara teoritik studi-studi terhadap fenomena rekonstruksi institusi kekuasaan tradisional seperti kesultanan dan kerajaan yang telah hadir sebelumnya belum maksimal memetakan tipologi strategi yang digunakan. Sehingga ada kebutuhan untuk menghadirkan penjelasan yang komprehensif terkait motif dan strategi yang digunakan, serta menggambarkan tipologi strategi yang hadir secara terstruktur. Temuan menujukan bahwa selain alasan pelestarian terhadap budaya dan adat, terlihat ada motivasi lain untuk mengembalikan posisi adat sebagai sumber rujukan utama masyarakat lokal yang akan berimbas kembalinya strata sosial tinggi dari bangsawan yang sempat hilang dalam kurun waktu yang sangat lama. Upaya konsolidasi dari para kaum bangsawan untuk menghadirkan kembali kesultanan menghadirkan beberapa strategi utama. Pertama, dengan memanfaatkan kekuasaan formal yang dimiliki oleh sang sultan dalam pemerintahan. Kedua, dengan menggunakan dana CSR dari perusahaan-perusahaan pribadi para bangsawan untuk mendanai praktik rekonstruki kesultanan. Ketiga, penggunaan aspek-aspek kultural dan simbolik adat seperti penegasan garis genealogis dan penganugerahaan gelar kehormatan adat untuk menarik dukungan. Keempat, strategi membangun wacana-wacana baru terkait kesultanan untuk membangun opini positif dan pemanfaatan media massa.
This study wants to exercise the practice of reconstruction of the Banjar Sultanate in South Kalimantan in the post-reform era, more specifically related to the motivations and strategies used by its driving actors. The study of the phenomenon of reconstruction is both interesting and important for two reasons. First, this case empirically shows the growth of local communitarian movements that represent aristocratic groups. This practice can be read as a consolidation movement among aristocratic groups to pursue certain interests. Second, theoretically, studies of the phenomena of reconstruction of traditional institutions such as the sultanates that have been present before have not maximally mapped the typology of the strategies used. So there is a need to present a comprehensive explanation of the motivations and strategies used in a structured manner. The findings show that in addition to the preservation of cultural and customary reasons, there is also another motivation to restore the position of adat as the main source of social reference for the local community which will impact the return of high social strata of the aristocrats which had disappeared in a very long period of time. The consolidation efforts of the aristocrats to bring back the sultanate presented several main strategies. First, by utilizing the formal power held by the sultan in government. Second, by using CSR funds from private companies of the aristocrats to fund the practice of reconstructing the sultanate. Third, the use of cultural and symbolic aspects of adat such as affirming genealogical lines and granting customary honorary titles to attract support. Fourth, strategies to build new discourses related to the sultanate to build positive opinions and the use of mass media.
Kata Kunci : Rekonstruksi, Institusi Tradisional, Motif, Strategi / Reconstruction, Traditional Institutions, Motivation, Strategy.