Articulation of Slametan in Surobayan of Central Java
WATINI, Dr. Samsul Maarif
2019 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYAAgama memiliki peran penting dalam budaya Jawa. Meskipun sebagian besar orang Jawa beragama Islam, banyak agama Jawa juga masih eksis sejak Indonesia merdeka. Agama-agama asli termasuk penganut agama Jawa (abangan) tampak runtuh karena Islam memiliki lebih banyak pengikut. Ini disebabkan oleh perubahan politik, politik agama dan perubahan agama. Ini termasuk kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah seperti penyebaran pondok pesantren, penyusunan ketegangan santri-abangan ke dalam partai politik, terutama pada 1950-an dan awal 1960-an; dan negara mendukung upaya-upaya 'pembinaan' sosial dan keagamaan dari tahun 1970-an. Bagaimanapun, masih terdapat komunitas-komunitas yang masih melanjutkan dan melaksanakan tradisi Jawa seperti slametan. Kondisi ini terjadi di desa Surobayan. Hal ini menimbulkan pertanyaan penelitian: (1) mengapa warga desa Surobayan melakukan dan melanjutkan slametan? (2) bagaimana penduduk desa Surobayan mengartikulasikan ritual slametan? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam. Penelitian ini membingkai dan menafsirkan penganut ritual keagamaan dengan menggunakan teori tentang artikulasi dari James Clifford yang didukung oleh Stuart Hall. Studi ini juga dianalsis menggunakan teori mystic synthesis dari M.C Ricklefs.Beberapa temuan adalah: Tiga komunitas agama utama: Islam reformis, penghayat kepercayaan, dan abangan. Islam reformis (Salafi dan santri), penghayat kepercayaan dan abangan mempertahankan tradisi Jawa mereka melalui slametan yang diartikulasikan. Karena Islamisasi, khususnya abangan tampaknya mereka telah pergi. Meskipun demikian, abangan masih ada. Mereka beradaptasi atau menginternalisasi diri dalam sintesis mistik. Abangan mempertahankan tradisi Jawa dan tradisi Islam. Mereka menghidupkan kembali slametan melalui slametan yang diartikulasikan karena slametan adalah tradisi leluhur mereka. Abangan ingin mempertahankannya karena slametan dapat menyatukan mereka dalam kehidupan yang harmonis.
Religion has an important role in Javanese people culture. Although Javanese are mostly Muslim, many Javanese religions also still exist since Indonesia became independence Indigenous religions including adherents of Javanese religions (abangan) seem collapse because Islam have more follower. It is caused by political changes, the politic of religion and religious changes. It includes policies which are issued by government, such as spread of Islamic boarding schools, the drawing up of santri-abangan tensions into party politics, especially in the 1950s and early 1960s; and state supported efforts at social and religious building up (pembinaan) from the 1970s. However, there are communities who conduct Javanese tradition like slametan. This condition occurs in Surobayan village. This leads to research questions: (1) Why do Surobayan villager conduct and continue slametan? (2) How do villagers of Surobayan articulate slametan ritual? The research employed qualitative method through deep interview. This study frame and interpret adherent of religious ritual by using theories about articulation from James Clifford supported by Stuart Hall. This study is also analyzed with mystic synthesis theory by M.C Ricklefs. Some findings are: Three major religious communities: reformist Islam, penghayat kepercayaan, and abangan. Reformist Islam (Salafi and santri), penghayat kepercayaan and abangan maintain their Javanese tradition through articulated slametan. Because of Islamization, particularly abangan seems that they have gone. Nevertheless, abangan still exist. They adapt or internalize themselves in a mystic synthesis. Abangan maintain Javanese tradition and Islamic tradition. They revive slametan through articulated slametan because slametan is their ancestral tradition. Abangan want to keep it because slametan could unify them in harmonious life.
Kata Kunci : Santri-abangan, slametan, penduduk desa Surobayan, mistik sintesis /santri-abangan, slametan, Surobayan villagers, mystic synthesis