Laporkan Masalah

POLITICS OF NIQAB: SALAFI WOMEN, AGENCY AND EVERYDAY LIFE

YUYUN SUNESTI, Prof. Noorhaidi, MA., M.Phil., Ph.D.; Dr. Muhammad Najib Azca

2019 | Disertasi | DOKTOR INTER-RELIGIOUS STUDIES

Perkembangan gerakan Salafisme sebagai sebuah gerakan keagamaan baru di Indonesia membawa beragam perubahan wajah keagamaan di Indonesia, salah satunya adalah menjamurnya praktik pemakaian niqab oleh para perempuan Muslim. Niqab menjadi praktik yang mulai mudah ditemukan di tengah-tengah masyarakat Indonesia dan dikenakan oleh berbagai perempuan dengan latar belakang yang berbeda. Pilihan akan niqab yang seringkali dilihat sebagai praktik keagamaan konservatif menimbulkan berbagai pertanyaan tentang agensi perempuan mereka dalam membuat piihan-pilihan untuk hidup mereka. Niqabi yang secara ketat mengikuti aturan-aturan keagamaan yang mereka yakini seperti memakai jubah yang lebar, menutup seluruh tubuhnya termasuk juga wajah dan membatasi keterlibatan mereka di ruang public seringkali dilihat sebagai subyek yang pasif dan secara terus menerus mereproduksi ketidaksetaraan melalui pilihan-pilihan hidup yang mereka buat. Dalam cara pandang feminist barat mainstream, perempuan-perempuan dalam tradisi keagamaan konservatif ini adalah kelompok perempuan subordinat dan memiliki agensi terbatas karena pilihan-pilihan mereka akan cara hidup yang berbeda dengan kelompok perempuan mainstream lainnya. Penelitian ini menganalisis tentang kehidupan keseharian niqabis di Surakarta dengan memfokuskan pada dua pertanyaan utama: apakah niqabi-niqabi tersebut memiliki agensi? Dan bentuk-bentuk agensi yang seperti apa yang mereka mainkan? Dan diperdalam dengan tiga pertanyaan dasar berikut: apa alasan para perempuan memilih berniqab? Apa tantangan yang dihadapi dan strategi yang diperjuangkan? dan sejauh mana mereka memainkan agensi dan apa bentuk agensi yang mereka mainkan? Beberapa pertanyaan ini mengekplore proses perjuangan niqabi dalam bernegosiasi dalam menjembatani kehidupan mereka sebelumnya dan kehidupan baru sesuai manhaj Salafi yang saat ini diikuti. Menggunakan teori Accommodating Protest yang dikembangkan Macleod, penelitian ini hendak mengungkap perjuangan niqabis yang kompleks di antara relasi kuasa yang mengitari kehidupan mereka. Dengan mengaplikasikan metode etnografi melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, penelitian ini menemukan bahwa tindakan-tindakan ambigu yang dilakukan niqabi dalam menegosiasikan dilema-dilema yang mereka hadapi sebagai seorang perempuan bukanlah semata-mata sebagai sebuah bentuk tindakan perempuan subordinat yang pasif dan memiliki agensi yang terbatas, namun hal tersebut merupakan perjuangan politik niqabi dalam bentuk kekuatan-kekuatan informal dan tersembunyi, namun ditampakkan dalam bentuk yang jelas yaitu niqab sebagai media komunikasi perempuan.

The development of the Salafi movement as a new religious movement in Indonesia brings many changes into the religious face of Indonesia, one of which is the mushrooming niqab wearing practice among Muslimah (Muslim women). Niqab becomes a practice found easily amid Indonesian people and is worn by many women with different backgrounds. The choice of wearing niqab is often viewed as a conservative religious practice that generates many questions about women's agency in making choices for their lives. Niqab, tightly following the religious rules they believe in such as wearing a wide robe, covering the entire body including the face, and restricting their participation in public space, is often viewed as a passive subject that continuously reproduces inequality through the life choices they have made. In Western mainstream feminism's view, women in this conservative religious tradition are a subordinate group that has limited agency because their choice of life way is different from other mainstream women's groups. This research analyzed niqabis' daily life in Surakarta by focusing on two primary questions: do niqabis have agency? and what forms of agency do they play? And are deepen through these three basic questions: what motivated the women to wear niqab? What are the challenges they deal with and their strategies for their struggles? To what extent do they exercise their agency and what forms of agency do they play to negotiate? These questions explored the niqabis' struggling process in negotiating their situation to bridge their previous and their new life corresponding to Salafi manhaj they currently follow. Using Macleod's Accommodating Protest theory, this research reveals niqabis' complex struggle amid the power relation encircling their lives. By applying an ethnographic method using in-depth interviews and participatory observation, this study found that the ambiguous actions the niqabis took in negotiating the dilemmas they face as women is not merely a form of passive, subordinate woman's action that has limited agency. In fact, it shows a niqabis' political struggle in the form of informal and hidden power shown in a clear form, niqab, as a women's communicating medium.

Kata Kunci : Niqabi, Salafisme, manhaj Salafi, accommodating protest, agensi, Niqabi, Salafism, Salafi manhaj, accommodating protest, agency

  1. S3-2019-359891-abstract.pdf  
  2. S3-2019-359891-bibliography.pdf  
  3. S3-2019-359891-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2019-359891-title.pdf