Perlawanan Masyarakat dalam Pengelolaan Kawasan Wisata Internasional Lagoi di Kabupaten Bintan Tahun 2013-2018
KHAIRI RAHMI, Longgina Novadona Bayo S.I.P, M.A.
2019 | Tesis | MAGISTER POLITIK DAN PEMERINTAHANPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena di balik pengelolaan Kawasan Wisata Internasional Lagoi yang menimbulkan konflik perebutan ruang pemukiman masyarakat dan ruang pariwisata bagi pihak swasta asing. Hadirnya pihak swasta asing sebagai bentuk kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Singapura menimbulkan resistensi atau perlawanan masyarakat yang bercorak hidup sebagai nelayan dalam memperjuangkan lahan pemukimannya. Selain itu, pihak pengelola kawasan yang datang dengan menjadikan Singapura sebagai role model dalam mengelola kawasan wisata tersebut yang tentunya tidak sesuai dengan kondisi sosio kultural masyarakat setempat ikut serta memicu penolakan oleh masyarakat. Penelitian ini memakai teori perlawanan oleh James Scott yang menjelaskan bahwa setiap tindakan yang bertentangan dilakukan oleh masyarakat terhadap pihak yang mendominasi memiliki pola dan strategi tersendiri dalam memperjuangkan keinginan mereka. Berdasarkan penjelasan ini, penelitian ini akan menjawab pola dan strategi perlawanan masyarakat untuk memperjuangkan lahan pemukimannya dalam pengelolaan kawasan wisata. Penelitian ini menggunakan model riset studi kasus, dengan menggunakan pengamatan partisipatif, in-depth interview dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Temuan dari penelitian ini adalah perlawanan masyarakat nelayan terhadap pihak pengelola kawasan mengalami pergesaran dari yang semula berpola simbolik-tertutup ke pola yang frontal-terbuka. Perlawanan masyarakat juga mengalami pelemahan yang diakibatkan oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor-faktor yang mempengaruhi yakni, faktor internal berupa: proses cooled down (berkaitan dengan umur gerakan), bergesernya komitmen aktor penggerak sebagai pemimpin yang mempengaruhi tujuan awal gerakan perlawanan, kegagalan gerakan perlawanan dalam pengelolaan sumber daya (anggota dan pendanaan) dan faktor eksternal berupa: tindakan represif dari sisi lawan yang melibatkan aparat keamanan, tindakan dependensi dari sisi lawan yang meciptakan ketergantungan ekonomi, dampak bencana alam yang mempengaruhi struktur internal gerakan perlawanan. Kata Kunci; pengelolaan kawasan wisata, perlawanan masyarakat, konflik perebutan ruang
This study aims to uncover the phenomenon behind the management of Lagoi International Tourism Area which has bring to a conflict over the struggle for community settlement space and tourism space for foreign private parties. The presence of foreign private parties as a form of cooperation between the Indonesian government and the Singapore government raises resistance of people who are patterned to live as fishermen in fighting for their residential land. In addition, the area manager who came to make Singapore as a role model in managing the tourist area which certainly did not fit the socio-cultural conditions of the local community participated in triggering resistance by the community. This study uses the theory of resistance by James Scott who explained that every action that is contradicted by the community towards the dominating party has its own pattern and strategy in fighting for their wishes. Based on this explanation, this study will answer the patterns and strategies of community resistance to fight for residential land in the management of tourist areas. This research uses case study research models, using participatory observation, in-depth interviews and documentation as data collection techniques. The findings of this study are the resistance of the fishermen community to the management of the area experiencing a shift from the symbolic-hidden transcript pattern to the frontal-public transcript pattern. The resistance of the people also experienced weakness caused by external factors and internal factors. Factors that influence are, Internal factors in the form of: cooled down process (related to the age of the movement), shifting commitment of driving actors as leaders that influence the initial objectives of the resistance movement, failure of resistance movements in resource management (members and funding), and external factors in the form of: repressive actions from the opposing side involving security forces, dependency actions from the opposing side that create economic dependence, the impact of natural disasters that affect the internal structure of the resistance movement. Keywords; tourism area management, community resistance, spacial conflict
Kata Kunci : Kata Kunci; pengelolaan kawasan wisata, perlawanan masyarakat, konflik perebutan ruang