TRANSISI PEMUDA DALAM INSTITUSI TOTAL (Studi pada Anak Didik Pemasyarakatan di LPKA Klas II Yogyakarta)
INTAN SARI YUNIATI, Dr. Oki Rahadianto Sutopo., S.Sos., M.Si.
2019 | Tesis | MAGISTER SOSIOLOGIPenelitian ini berusaha untuk melihat dua hal yang berkaitan dengan kehidupan andikpas (anak didik pemasyarakatan), yaitu andikpas sebagai agensi bernegosiasi dalam transisi dari ranah yang bisa dikatakan bebas ke dalam ranah tertutup (institusi total), berupa penjara. Setelah membahas mengenai negosiasi pemuda di dalam institusi total, dilanjutkan dengan berbicara mengenai rencana andikpas untuk masa depannya setelah bebas dari LPKA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif berdasarkan data primer dan sekunder. Untuk data primer, teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Sedangkan data sekunder berasal dari artikel, jurnal, buku, dokumen, sosial media pihak LPKA dan data-data tidak langsung lainnya yang berkaitan dengan fokus penelitian. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa andikpas sebagai pemuda bernegosiasi terhadap ranah di LPKA dengan melakukan beberapa perlawanan sebagai wujud heterodoxa serta mempertahankan habitus lamanya sebelum masuk LPKA. Namun perlawanan tersebut tidak berlangsung lama, karena ternyata doxa di LPKA lebih kaku dan mendominasi. Pada akhirnya, andikpas secara terpaksa harus bernegosiasi dengan diri sendiri agar bisa keluar dan bebas dari jeruji penjara sesuai yang dijadwalkan dan masa kurungannya tidak diperpanjang karena perlawanan tersebut dapat menyebabkan dijatuhkannya sanksi administrasi. Kendati terbelenggu dibalik jeruji, namun keinginan dan harapan andikpas untuk masa depan tergolong bebas. Andikpas sudah berencana mengkonversikan kapital yang dimiliki untuk mencapai masa depannya. Namun, perlu ditegaskan sekali lagi bahwasanya distribusi kapital pada tiap agen berbeda-beda, sehingga agen perlu membuat strategi dengan memposisikan diri sekaligus mendistribusikan kapital yang dimilikinya secara efektif agar harapannya dapat tercapai. Kapasitas refleksif agen diperlukan untuk merancang rencana-rencana yang akan dilakukan dikemudian hari serta dalam mengantisipasi risiko-risiko yang dapat muncul kapan saja. Sikap refleksif agen tidak datang begitu saja, melainkan dibentuk oleh budaya yang mengelilinginya.
This study aims to see two things related to the life of Andikpas (correctional education students), which discussed Andikpas as a negotiating agency in the transition from the domain that can be said to be free into the closed domain (total institution) called prison. After discussing youth negotiations in the total institution, it was continued by discussing about the Andikpas plan for their future after being free from LPKA. This research was a descriptive qualitative research based on primary and secondary data. For the primary data, the data collection technique was carried out through observation and interview. While the secondary data was collected from articles, journals, books, documents, LPKA's social media and other indirect data related to the focus of the research. The findings of the study show that Andikpas as a youth negotiated the domain in LPKA by making some resistance as a form of heterodoxa and maintaining his old habitus before entering LPKA. But the resistance did not last long, because it turned out that doxa in LPKA was more rigid and dominating. Eventually, Andikpas was forced to negotiate with himself in order to get out and be free from prison as scheduled and the period of imprisonment was not extended because such resistance could result in administrative sanctions. Although imprisoned, the wishes and hopes of Andikpas for the future were free. Andikpas already planned to convert the owned capital to achieve his future. However, it must be emphasized that the distribution of capital in each agent is different, so the agents need to make a strategy by positioning themselves while distributing their capital effectively so that their expectations can be achieved. The agent's reflexive capacity is needed to design plans that will be achieved in the future and to anticipate risks that can arise at any time. The agent's reflexive attitude does not come just like that, but rather is formed by the culture that surrounds it.
Kata Kunci : Andikpas, Teori Praktik, Institusi Total, Refleksivitas, Masa Depan