Pengaruh Workshop Penggunaan Obat Rasional (POR) disertai Umpan Balik terhadap Penggunaan Antibiotik pada Penyakit ISPA Non Pneumonia di Puskesmas se- Kecamatan Jagakarsa
DEWI ISNAWATI Q I, Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc, Ph,D
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi menular di dunia. prevalensi ISPA di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2013 lebih besar dari prevalensi ISPA Nasional. Penggunaan antibiotik pada terapi ISPA non Pneumonia merupakan salah satu bentuk ketidakrasionalan pengobatan. Obat yang tidak rasional dapat menimbulkan berbagai dampak buruk. Tujuan: Mengetahui pengaruh workshop Penggunaan Obat Rasional (POR) disertai umpan balik terhadap penggunaan antibiotik pada penyakit ISPA non Pneumonia di puskesmas se- kecamatan Jagakarsa. Metode: Penelitian ini adalah eksperimen yang menggunakan pendekatan studi kuasi eksperimental dengan jenis rancangan the one group pretest-postest design. Rancangan ini digunakan untuk menguji pengaruh intervensi terhadap kelompok uji sebelum dan setelah diberikan intervensi tanpa kelompok pembanding. Hasil: Penggunaan antibiotik yang tidak rasional lebih banyak pada responden dengan masa kerja lebih dari 3 tahun dibandingkan dengan masa kerja kurang dari 3 tahun (6,1% dan 4,3%) dan perbedaan ini signifikan secara statistik (p<0,05). Responden sebelum mengikuti workshop lebih sering meresepkan antibiotik dibandingkan setelah responden mengikuti workshop (21,13% dan 10,38%) dan signifikan secara statistik (p<0,05). Pada tingkat pendidikan terlihat bahwa penggunaaan resep tidak rasional lebih besar pada dokter umum/ Strata 1 dibanding dengan dokter spesialis/ Strata 2 (8,3% dan 2%) dan signifikan secara statistik (p=0,014). Penggunaaan antibiotik tidak rasional lebih besar pada responden dengan sikap tidak setuju terhadap POR dibanding dengan responden yang setuju terhadap POR (6,8% dan 3,6%) dan signifikan secara statistik (p<0,05). Penggunaan antibiotik yang tidak rasional juga lebih besar pada puskesmas yang belum terakreditasi dibandingkan dengan puskesmas yang telah terakreditasi (6,1% dan 4,3%) dan perbedaan ini signifikan secara statistik (p<0,05). Kesimpulan: Workshop Penggunaan Obat Rasional (POR) dan umpan balik dapat menurunkan persentase penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada penyakit ISPA non pneumonia di puskesmas se- kecamatan Jagakarsa dari 21,13% menjadi 10,38%. Faktor faktor yang berhubungan dengan peresepan tersebut diantaranya lamanya masa kerja, tingkat pendidikan, keikutsertaan dalam workshop Penggunaan Obat Rasional, sikap terhadap penggunaan obat rasional, serta akreditasi puskesmas mempunyai hubungan yang signifikan dengan penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada kasus ISPA non pneumonia di puskesmas se- kecamatan Jagakarsa
Background: Among all infectious diseases, acute respiralory infection (ARI) are the leading cause of death and sickness in worldwide. The prevalence of ARI in Jakarta on 2013 is bigger than the national prevalence. The use of antibiotics on non pneumonia ARI are the example of irrational theraphy. Irrational therapy can cause negative impacts. Objective: To understand the effect of workshop with feedback of rational drug use toward the usage of antibiotics on non pneumonia ARI in Primary Health Centre at Jagakarsa district area. Method: The research is using quasi experiment approach with the one group pretest-protest design. The design is using to test the intervention effect on study group before and after intervention without control group. Result: The irrational use of antibiotics found more in respondent with working period of more than 3 years compared to those with working period of less than 3 years (6.1% and 4.3%) and this difference was statistically significant (p<0.05). Respondent, before attending workshop, prescribed antibiotik more often tahn after they attending the workshop (21.13% dan 10.38%) and was statistically significant (p<0.05). The level of education, it can be seen that the irrational use of antibiotics found more in general practitioner than the medical specialist (8.3 and 2%) and was statistically significant (p=0.014). The irrational use of antibiotics more common in respondent that disagree with the the rational use of antibiotics than the respondent that agree 6.8% dan 3.6% and was statistically significant (p<0.05). The irrational use of antibiotics also found more in unaccredited primary health centre than the accredited (6.1% and 4.3%) and was statistically significant. Conclusion: The workshop with feedback of rational drug use can decrease the percentage of irrational theraphy on non pneumonia ARI in Primary Health Centre at Jagakarsa district are from 21,13% to 10,38%. The relevant factor that coherent with it are duration of work, level of education, the status of attending or not the workshop of rational drug use, an outlook toward rational drug use, and the accreditation of primary health centre have a significance correlation with the irrational antibiotics use on non pneumonia ARI in Primary Health Centre at Jagakarsa district area.
Kata Kunci : workshop, umpan balik, ISPA non pneumonia, penggunaan obat rasional (POR), antibiotik, Workshop, feedback, non pneumonia ARI, rational drug use, antibiotic