Laporkan Masalah

PERSPEKTIF KOMUNIKASI EKOLOGI DALAM KONTEKS KOMUNIKASI PEMBANGUNAN KEBENCANAAN: KOMUNIKASI EKOLOGI BENCANA KEBAKARAN LAHAN GAMBUT DI PROVINSI RIAU DAN KALIMANTAN BARAT

ARIFUDIN, Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP., M.Si; Ir. F. Trisakti Haryadi, M.Si., Ph.D

2019 | Disertasi | DOKTOR PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

Bencana asap yang disebabkan oleh kebakaran lahan gambut di Indonesia, terjadi sejak tahun 1997, puncaknya pada tahun 2015. Hingga saat ini, telah banyak riset dan publikasi guna mendorong penyelesaian persoalan bencana asap ini. Kenyataannya, para pihak belum mampu memahami apa yang menjadi persoalan dasar kebakaran lahan gambut, ada problem dalam mengkomunikasikan persoalan ekologi di Indonesia. Oleh sebab itu, penelitian ini bermaksud melihat bagaimana perspektif komunikasi ekologi yang ditawarkan oleh Niklas Luhmann (1989) dalam konteks komunikasi pembangunan untuk kebencanaan di Indonesia, dengan menetapkan tiga tujuan, yaitu: (1) Mendeskripsikan variasi wacana pada masyarakat dan media terkait kebakaran lahan gambut; (2) Mengidentifikasi serta menjelaskan subsistem yang ada dalam sistem sosial masyarakat yang beresonansi terhadap kebakaran lahan gambut, dan; (3) Menjelaskan kualitas interpenetrasi antar subsistem sosial guna menyusun strategi komunikasi pembangunan untuk kebencanaan yang lebih baik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif pada kasus kebakaran lahan gambut di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat. Kedua provinsi menjadi sorotan, dengan jumlah hotspots relatif tinggi, dimana terdapat perusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan focus group discussion kepada pemerintah daerah, dunia usaha, LSM, dan masyarakat desa. Selain itu juga, digunakan data wacana pada harian lokal, yakni Riau Pos dan Pontianak Post. Analisa data dilakukan dengan cara analisis kualitatif dengan langkah-langkah yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (2014), yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, masing-masing pihak memiliki wacana berbeda dalam melihat persoalan kebakaran lahan gambut di Indonesia, sesuai dengan kepentingannya. Kedua, setiap subsistem beresonansi dengan cara merespons persoalan kebakaran lahan gambut menggunakan kodenya masing-masing, dimana terdapat sembilan subsistem sosial (politik, ekonomi, hukum, sains, pendidikan, agama, seni, kesehatan masyarakat, dan kesukarelawanan) yang beresonansi di Riau, dan delapan subsistem (kecuali seni) yang beresonansi di Kalimantan Barat. Ketiga, interpenetrasi sebagai proses alamiah dari sistem sosial dalam melakukan penyesuaian terhadap perubahan lingkungan dapat didorong dengan strategi komunikasi pembangunan yang tepat dengan memperhatikan tiga unsur yang ada dalam komunikasi menurut Luhmann, yakni information, utterance dan understanding pada setiap subsistem yang berpenetrasi positif ke subsistem lainnya.

The haze disaster caused by peat land fires in Indonesia, occurred since 1997, culminating in 2015. Until now, there has been a lot of researchs and publications to encourage the resolution of this haze disaster. In fact, the parties have not been able to understand what the basic problem of peatland fires is. There are problems in communicating ecological issues in Indonesia. Therefore, this study intends to see how is the perspective of ecological communication offered by Niklas Luhmann (1989) in the context of development communication regarding disaster in Indonesia, by setting three objectives, namely: (1) Describing variations in discourse on the community and the media regarding peatland fires; (2) Identifying and explaining the subsystems within the social system of the community that resonate with peatland fires, and; (3) Explaining the quality of interpenetration between social subsystems in order to establish a development communication strategy for a better disaster management. This research is a qualitative descriptive study in the case of peatland fires in Indonesia, especially in Riau and West Kalimantan provinces. The two provinces are in the spotlight with a relatively high number of hotspots, where there are oil palm plantation companies and industrial forest plantation. Data were collected by participatory observation, in-depth interviews, and focus group discussions to local governments, businesses, NGOs, and rural communities. In addition, discourse data were used in local newspapers, namely Riau Pos and Pontianak Post. Data analysis was carried out by means of qualitative analysis with steps proposed by Miles and Huberman (2014), namely data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results showed that, first, each party had a different discourse in looking at the issue of peatland fires in Indonesia, in accordance with their interests. Second, each subsystem resonates by responsding to the issue of peatland fires using their respective codes, where there are nine social subsystems (politics, economy, law, science, education, religion, art, public health and volunteerism) that resonate in Riau, and eight subsystems (except art) that resonate in West Kalimantan. Third, interpenetration as a natural process of the social system in adjusting to changes in the environment can be encouraged with the right development communication strategy by paying attention to the three elements in communication according to Luhmann, namely information, utterance and understanding on each subsystem that has positive penetration to other subsystems.

Kata Kunci : komunikasi ekologi, kebakaran lahan gambut, bencana asap, variasi wacana, resonansi, interpenetrasi, sistem sosial, komunikasi pembangunan

  1. S3-2019-373818-abstract.pdf  
  2. S3-2019-373818-Bibliography.pdf  
  3. S3-2019-373818-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2019-373818-title.pdf