ANALISIS KESEPADANAN SISTEM KETAKRIFAN DALAM PENERJEMAHAN BAHASA MANDARIN KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA BUKU SERI CERITA SHENGMING DE HUIHUANG
Dai, Wenhui, Dr. Sailal Arimi, M. Hum.
2019 | Tesis | MAGISTER LINGUISTIKEkspresi sistem ketakrifan dalam bahasa Mandarin berciri tersirat, sedangkan ekspresi sistem ketakrifan dalam bahasa Indonesia berciri tersurat sehingga sistem ketakrifan antara dua bahasa ini sangat berbeda. Kesepadanan adalah permasalahan pokok dalam penerjemahan. Oleh karena itu, kedua bahasa ini harus mencapai kesepadanan pragmatik ketika proses penerjemahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk takrif dan taktakrif dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia, serta menganalisis bentuk-bentuk takrif dan taktakrif diterjemahkan dari bahasa Mandarin ke dalam bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif yang dikemukakan oleh Sudaryanto (1993). Pelaksanaan metode ini ditempuh melalui tahap pengumpulan data, penganalisisan data, dan penyajian hasil analisis data. Data yang diperoleh dengan metode simak dan catat, data yang dianalisis dengan metode padan. Hasil penelitian ini secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut. Pertama, bentuk-bentuk takrif dalam bahasa Mandarin dapat diklasifikasikan menjadi lima bentuk dan semua bentuk dapat ditemukan dalam buku seri cerita Shengming de Huihaung, sedangkan bentuk-bentuk takrif dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi tiga belas bentuk, tapi hanya ditemukan delapan bentuk dalam buku ini. Kedua, bentuk-bentuk taktakrif dalam bahasa Mandarin dapat diklasifikasikan menjadi empat bentuk dan hanya tiga bentuk dapat ditemukan dalam buku seri cerita Shengming de Huihaung,sedangkan bentuk-bentuk taktakrif dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi sembilan bentuk, tetapi hanya ditemukan delapan bentuk dalam buku ini. Ketiga, ekspresi sistem ketakrifan dalam bahasa Mandarin tidak ditandai oleh pemarkah tertentu, sedangkan ekspresi sistem ketakrifan dalam bahasa Indonesia selalu ditandai pemarkah tertentu. Oleh karena itu, dalam proses penerjemahan harus fokus pada kebiasaan pada ekspresi bahasa sasaran berdasarakan tidak mengubah arti teks sumber untuk mencapai kesepadanan pragmatik.
The definite and indefinite expression in Chinese is characterized by implicit, while the Indonesian expression is explicit so that the expression between the two languages is very different. Equivalence is the main problem in translation, therefore it is necessary to look for pragmatic equivalence between these two languages during the translation process. This study aims to describe definite and indefinite forms in Chinese and Indonesian, and analyze definite and indefinite forms were translated from Chinese into Indonesian. The research was conducted with a comparative-descriptive approach which be proposed by Sudaryanto (1993). The implementation of this method is achieved through the stages of providing data, analyzing data, and presenting the results of data analysis. Data obtained with the referential identity and note-takin methods. The method used in data analysis is the equivalent method. The results of this study can be briefly presented as follows. First, definite forms in Chinese can be classified into five forms and all of these forms can be found in the book Shengming de Huihaung, while definite forms in Indonesian can be classified into thirteen forms, but only eight forms were found in this book. Second, indefinite forms in Chinese can be classified into four forms and only three forms can be found in the book Shengming de Huihaung, while indefinite forms in Indonesian can be classified into ten forms, but only nignt forms were found in this book. Third, the definite and indefinite expression in Chinese without certain makers, while the definite and indefinite expression in Indonesian always marked by certain makers, so in the translation process it is necessary to focus on the habits of the target language and not change the meaning of the source text to achieve pragmatic equivalence.
Kata Kunci : kesepadanan pragmatik, bentuk takrif, bentuk taktakrif, bahasa Mandarin, bahasa Indonesia/ pragmatic equivalence, definite form, indefinite form, Chinese, Indonesian