KEARIFAN LOKAL GENERASI MUDA DI ERA KONTEMPORER (Studi Partisipasi Pemuda dalam Perayaan Tradisi Rasulan di Dukuh Jaten, Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul)
LATIFFATHUL HIDAYAH, Dewi Cahyani Puspitasari, S.Sos., M.A.
2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGITradisi Rasulan merupakan salah satu budaya lokal yang eksistensinya masih terjaga sampai saat ini di masyarakat Dukuh Jaten. Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi Rasulan kini telah mengalami transformasi dan pergerakan progresif dalam prosesinya. Hal ini dikarenakan adanya upaya masyarakat terutama kaum muda untuk tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi Rasulan di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus yang sadar akan perannya, pemuda Jaten melakukan suatu gerakan pelestarian yang dilakukan secara kolektif dengan menghadirkan inovasi acara yang mengandung unsur kontemporer dalam perayaan tradisi Rasulan. Tujuannya yaitu untuk menarik minat masyarakat khususnya pemuda-pemudi Jaten agar lebih antusias dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan penyelenggaraan tradisi Rasulan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan penelusuran dokumen. Informan pada penelitian ini dipilih secara purposive, yang terdiri dari unsur pemuda sebagai informan utama, serta tokoh masyarakat dan warga setempat sebagai informan pendukung. Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, mendeskripsikan, dan kemudian data disajikan dalam bentuk narasi beserta skema, bagan, dan gambar, lalu menarik kesimpulan. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan adanya pemaknaan subjektif oleh pemuda Jaten terhadap tradisi Rasulan yaitu sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas keberkahan yang telah diberikan, sebagai sarana untuk melestarikan tradisi peninggalan leluhur, sebagai simbol identitas diri, serta sebagai wadah untuk mempererat tali silaturahmi dan merekatkan relasi antar warga dan kerabat. Pemaknaan tersebut kemudian menciptakan iklim partisipasi pemuda secara sadar dan positif untuk terlibat aktif dalam perayaan tradisi Rasulan. Kegiatan partisipasi berjalan sesuai dengan kapasitas pemuda sebagai aktor kekinian dengan berbagai dinamika perkembangan yang terjadi di dalamnya. Partisipasi pemuda dalam upaya pelestarian tradisi Rasulan ditunjukkan dengan terlibat secara langsung pada proses penyelenggaraan acara (perencanaan, pelaksanaan, penutupan, dan evaluasi). Selain itu, adapun bentuk-bentuk partisipasi pemuda Jaten yakni berupa materi, fisik dan tenaga, serta keterlibatan secara mental dan emosional. Secara menyeluruh, partisipasi pemuda Jaten ditinjau dalam konsep The Ladder of Young People's Participation Roger Hart termasuk dalam kategorisasi tingkat partisipasi Young People are Involved in Decision-Making Process.
The Rasulan tradition is one of local cultures still maintained by the community in Dukuh Jaten. In this modern and global era, the tradition has been transformed and shifted progressively, especially its procedures. It happens because the community, especially youths want to maintain and preserve the tradition. Therefore, as the next generation, youths in Dukuh Jaten are aware of their roles. They maintain the tradition through innovating the procedures through adding contemporary aspects. It aims to attract the community's interest, particularly to make youths in Dukuh Jaten participate in this tradition actively and enthusiastically. This study applied qualitative method with case study design. The data were collected through observation, interview, and literature study. The informants were selected purposively. The key informant was youths supported by other informants such as public figure and local communities. The data were analyzed through reduction. Then, the result was described and presented in narratives completed with schemes, charts, and pictures to draw the conclusion. The result of the study indicated that the youths in Dukuh Jaten interpreted the tradition subjectively as an expression of gratitude to God for the blessings, a means to preserve cultural heritage, a symbol of self-identity, and a forum to strengthen ties relationships among the relatives and communities. The interpretation then led the youths to participate actively and consciously and positively in the celebration of the Rasulan tradition. The participation was in accordance with their capacity as modern figures experiencing dynamic world. Youths participation to preserve the Rasulan tradition is showed by engaging actively in organizing events (planning, implementation, closing, and evaluation). In addition, the participations were also in the forms of material, physical and energy, as well as mental and emotional. Overall, youths participation in Dukuh Jaten is categorized into 'Young People are Involved in Decision-Making Process' level based on the concept of The Ladder of Young People's Participation Roger Hart.
Kata Kunci : Generasi muda, pemaknaan subjektif, partisipasi, tradisi Rasulan/Young generation, subjective interpretation, participation, Rasulan tradition