Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Self-efficacy dengan Perilaku Seksual Pranikah Remaja SMA di Kabupaten Gunungkidul
RIZA NABILA, Prof.dr.Ova Emilia, M.Med, SpOG(K), Ph.D; Dr. Dra. Budi Wahyuni, MM, MA
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Kategori usia remaja merupakan kategori yang paling rentan terhadap berbagai perilaku negatif, seperti perilaku seksual berisiko. Akibatnya terjadi peningkatan masalah kesehatan remaja seperti penularan infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, pernikahan dini dan aborsi. Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan dasar-dasar kepribadian remaja serta berperan dalam membimbing remaja untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab, termasuk hal-hal yang menyangkut permasalahan seksualitasnya. Segala bentuk interaksi yang terjadi antara orang tua dan remaja terwujud dalam bentuk pola asuh orang tua. Selain peran orang tua, remaja itu sendiri juga harus memiliki self-efficacy yang tinggi agar terhindar dari perilaku seksual pranikah. Pernikahan anak menjadi salah satu persoalan sosial di Kabupaten Gunungkidul. Hingga tahun 2017 Kabupaten Gunungkidul masih menempati urutan tertinggi untuk pernikahan dini diantara kabupaten/kota lain di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan: Mengkaji hubungan pola asuh orang tua dan self-efficacy dengan perilaku seksual pranikah pada remaja SMA di Kabupaten Gunungkidul. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan rancangan cross-sectional study. Penelitian dilakukan pada 232 siswa-siswi kelas X dan XI SMA di Kabupaten Gunungkidul. Analisis bivariabel menggunakan Chi-square dan analisis multivariabel menggunakan regresi logistik dengan tingkat kepercayaan 95% dan α <0,05. Hasil: Remaja yang berperilaku seksual pranikah berisiko sebesar 36,21%. Tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara pola asuh orang tua dengan perilaku seksual pranikah pada remaja SMA (p>0,05). Ada hubungan yang signifikan secara statistik antara self-efficacy dengan perilaku seksual pranikah. Jenis kelamin dan teman sebaya secara signifikan berhubungan dengan perilaku seksual pranikah (p<0,05), sedangkan paparan informasi tidak berhubungan dengan perilaku seksual pranikah (p>0,05). Kesimpulan: Remaja yang memiliki self-efficacy rendah berpeluang lebih besar untuk berperilaku seksual pranikah berisiko.
Background: The adolescent age category is the category in which the most vulnerable to various negative behaviors, such as risky sexual behavior. As a result, there is an increase in adolescent health problems such as the transmission of sexually transmitted disease, unwanted pregnancies, early marriage, and abortion. Parents have an important role in providing the fundamentals of adolescent personality as well as a role in guiding adolescents to take responsible decisions, including matters relating to issues of sexuality. All of the interactions that occur between parents and adolescents manifest in the form of parenting style. In addition to the role of parents, adolescents themselves must also have high self-efficacy to avoid premarital sexual behavior. Child marriage is one of the social problems in Gunungkidul. Until 2017, Gunungkidul still ranks at the top of early marriages among other districts/cities in the Special Province of Yogyakarta. Objective: To examine the association of parenting style and self-efficacy towards premarital sexual behavior of high school students in Kabupaten Gunungkidul. Method: This quantitative research is using a cross-sectional study design. The study was conducted in 232 high school students of class X and XI in Kabupaten Gunungkidul. This research employed bivariable analysis using chi-square and multivariable analysis using logistic regression with a confidence level of 95% and α <0.05. Results: Adolescents who have premarital sexual behavior are at risk of 36.21%. There is no stasticillay significant relationship between parenting and premarital sexual behavior in high school students (p>0.05). The relationship between self-efficacy and premarital sexual behavior is stasticillay significant. Gender and peers were significantly associated with premarital sexual behavior (p<0.05), while information exposure is not statistically related to premarital sexual behavior (p>0.05). Conclusion: Adolescents who have low self-efficacy have a greater chance to risk their premarital sexual behavior.
Kata Kunci : remaja, pola asuh, self-efficacy, perilaku seksual pranikah