Laporkan Masalah

DEGRADASI BAHAN KERING DAN PARAMETER FERMENTASI RUMEN BAHAN PAKAN LOKAL DARI SULAWESI SELATAN OLEH MIKROBIA RUMEN DALAM SISTEM CONSECUTIVE BATCH CULTURE

Wahyuningrum, Tri, Dr. Ir. Subar Priyono

2003 | Skripsi | S1 ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

Penelitian ini • bertujuan untuk mengetahui degradasi bahan kering limbah pertanian seperti kulit cokelat(KC), biji kapuk(BK), biji markisa(BM), jongajonga( JJ) dan kulit markisa(KM), dengan menggunakan sistem Consecutive Batch Culture (CBC) in vitro. Sistem ini terdiri dari 6 tahap inkubasi, masing-masing berisi 8 ml medium, 7 mg sampel dan 2 ml inokulum mikrobia rumen yang kemudian diinkubasi selama 48 jam pada suhu 39°C. CBC dilakukan dengan cara memindahkan 2 ml inokulum yang telah diinkubasi pada set 1 ke set berikutnya. Supernatan dari setiap set disimpan dalam freezer untuk analisis VFA. Produksi gas diukur dengan menginjeksikan Hypodermic syringe 10 cc ke dalam tabung yang sudah diinkubasi selama 48 jam. Tabung yang sudah diambil supernatannya dicuci dengan aquades sebanyak tiga kali dan dicentrifuge (1000 rpm) selama 5-10 menit lalu dioven 105°C untuk mengetahui degradasi bahan keringnya. Variabel yang diamati adalah produksi gas, degradasi bahan kering dan persentase asetat, propionat dan butirat. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 5X6 dan apabila ada variabel yang berbeda diteruskan dengan uji Duncant New Multiple Range Test (DMRT). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa sampel pakan dan tahap inkubasi yang berbeda berpengaruh nyata terhadap degradasi bahan kering pakan, produksi gas, persentase asetat, propionat dan butirat. Degradasi bahan kering dan produksi gas tertinggi dicapai oleh JJ, persentase asetat oleh biji markisa, propionat tertinggi oleh kulit markisa dan butirat tertinggi oleh biji 'kapuk. JJ merupakan bahan pakan yang paling baik sebagai pakan ternak ruminansia. (Kata Kunci: Mikrobia Rumen, Fermentasi, In Vitro, Consecutive Batch Culture)

This experiment was conducted to determine the rumen fermentation parameters (VFA, gas production) and dry matter (DM) degradation of local feed resources e.g cacao pod (KC), whole kapok seed (BK), Passiflora seed (BM), woody weeds Chromolaena odorata (JJ) and Passiflora pod (KM) under in vitro Consecutive Batch Culture. This research was carried out at The Department of Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Science Gadjah Mada University. A rumen fistulated Frisien holstein grade cattle were used for investigating rumen fermentation parameters (VFA and gas production) and DM degradation. Using anaerobic rumen fluid medium, CBC were established as described by Theodorou et al.(1987). Tubes were incubated at 39°C for 48h before 2 ml of each culture was transferred to a tube of fresh medium for six sets. Supernatan from each set were storaged for VFA analysis. Gas production were determined by Hypodermic syringe 10 cc. Tubes free of supernatan were cleaned and centrifuged 5-10 minutes then ovened at 105°C for DM degradation value. The values found then subjected to statistical analysis following Completely Randomized Design, followed by Duncant New Multiple Range Test (DMRT) whenever significant effect of feed sample was found. The result showed that the gas production, DM degradation, asetic, propionic and butiric acid proportion significantly different among feed sample (P<0,05). The result showed that JJ gave higest value in DM degradation and gas production (48,29% and 4,65ml) and KC gave the lowest value of DM degradation and gas production (24,06% and 2,73ml). (Key Word: Rumen Microorganism, Fermentation, Consecutive Batch Culture, In Vitro)

Kata Kunci : Mikrobia Rumen, Fermentasi, In Vitro, Consecutive Batch Culture

  1. S1-FPT-2003-TRIWAHYUNINGRUM-abstract.pdf  
  2. S1-FPT-2003-TRIWAHYUNINGRUM-bibliography.pdf  
  3. S1-FPT-2003-TRIWAHYUNINGRUM-tableofcontents.pdf  
  4. S1-FPT-2003-TRIWAHYUNINGRUM-title.pdf