Analisis Tingkat Dan Kualitas Pengungkapan Aset Takberwujud Pada Perusahaan Berbasis Ilmu Pengetahuan Atau Teknologi Di Indonesia
AIDA MUYASAROH, Ratna Nurhayati, S.E., M.Com., Ak., CA., Ph.D.
2019 | Tesis | MAGISTER AKUNTANSIAbstrak Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tingkat dan kualitas pengungkapan aset takberwujud oleh perusahaan berbasis ilmu pengetahuan atau teknologi di Indonesia dengan menggunakan kerangka kerja Sveiby (1997) yang dikembangkan oleh Guthrie dan Petty (2000). Metode penelitian yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis konten. Penelitian ini terbatas pada informasi aset takberwujud yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan tahun 2017. Sampel penelitian ini berjumlah 84 perusahaan terbuka di Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal eksternal adalah kategori aset takberwujud yang paling banyak diungkapkan dengan tingkat pengungkapan 28%, sedangkan modal internal adalah yang paling sedikit diungkapkan. Diantara pengungkapan sukarela, modal manusiawi adalah kategori aset takberwujud yang memiliki kualitas pengungkapan paling tinggi yaitu 55%. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk adalah perusahaan dengan tingkat dan kualitas pengungkapan aset takberwujud tertinggi. Tingkat pengungkapan perusahaan sampel berada pada kategori cukup yaitu 71%, sedangkan kualitas pengungkapan perusahaan sampel berada pada kategori rendah yaitu 49%. Penelitian ini adalah studi pertama di Indonesia yang secara bersamaan menganalisis tingkat dan kualitas pengungkapan aset takberwujud baik sukarela maupun wajib. Belum banyak peneliti yang menganalisis kualitas pengungkapan aset takberwujud dengan menggunakan kerangka kerja Sveiby (1997) di Indonesia.
The purpose of this paper is to analyze the extent and quality of intangible assets disclosure by science or technology-based companies in Indonesia using the Sveiby framework (1997) developed by Guthrie and Petty (2000). The research method adopted for this study is content analysis. This research is limited to information on intangible assets disclosed in the company's 2017 annual report. The sample for this research is based on 84 science or technology companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX). The results show that external capital is the most frequently reported disclosure category with a disclosure rate of 28%, while the internal capital is the least one. Among voluntary disclosures, human capital is an intangible asset category that has the highest disclosure quality of 55%. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk is a company with the highest extent and quality of intangible assets disclosure. The disclosure extent of sample companies is in the sufficient category, which is 71%, while the quality disclosure of sample companies is in the poor category, which is 49%. This research is the first study in Indonesia that simultaneously analyzes the extent and quality of intangible assets disclosure both voluntary and mandatory. Not many researchers have analyzed the quality of intangible assets disclosure using the Sveiby framework (1997) in Indonesia Keywords intangible assets, content analysis, level of disclosure, quality of disclosure, human capital, external capital, internal capital.
Kata Kunci : aset takberwujud, analisis konten, tingkat pengungkapan, kualitas pengungkapan, modal manusiawi, modal eksternal, modal internal.