EVALUASI PROGRAM DOKTER KECILDI SEKOLAH DASAR KOTA BIMA (STUDI KASUS DI DUA SEKOLAH DASAR)
DWI RAHMAWATY, Dr.Supriyati, S.Sos, M.Kes.
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang : Kemenkes Republik Indonesiamengakui bahwa implementasi program dokter kecil di sekolah masih kurang optimal, oleh karenanyadicanangkan program revitalisasi dokter kecil dan diharapkan dapat menempatkan fungsi dokter kecil sebagai agent of change di lingkungan sekolah melalui pendidikan sebaya.Inkonsistensi dan kurangnya perencanaan berkala menunjukkan evaluasi program dokter kecil sangat diperlukan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untukmengevaluasi program dokter kecil di SDN 11 Kota Bima dan SDN 10 tahun 2019. Metode : Jenis penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus (case study).Subjek dalam penelitian ini adalah tim pembina UKSyang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokter kecil dengan menggunakan metode FGD, observasi dan studi dokumentasi.Informan untuk wawancara mendalam terdiri dari 7 orang,diantaranya 4 orang perwakilan unit pusat dan 3 orang perwakilan unit perantara.Informan untuk FGD jumlahnya adalah 30 orang yang terdiri dari masing-masing 8 orang perwakilan dokter kecil dan masing-masing 7 orang perwakilansiswa non-dokter kecil dari SDN 10 dan SDN 11 Kota Bima yang terbagi menjadi dua kelompok. Penelitian ini menggunakan 3 komponen analisis yaitu kondensasi data (data condensation), penyajian data(data display), penarikan dan verifikasi kesimpulan (drawing and verifying conclusions) Hasil : Secara keseluruhan kegiatan program dokter kecil baik di SDN 11 Bima maupun SDN 10 Bimatelah dilakukan namun, ketersediaan fasilitas pendukung masih belum memadai pada SDN 10 Bima. SDM yang terlibat dalam Tim Pembina tidak memadai.Telah adanya koordinasi dan kerjasama secara berkala, tetapitanpa pertemuan rutin. Selain itu baik pemantauan dan evaluasi dilakukan oleh masing-masing sektor tanpa panduan khusus. Untuk fasilitas serta pembiayaan dari setiap kegiatan program dokter kecil di sekolah berprestasi lebih mandiri. Koordinasi antara tim pembina kecamatan, tim pelaksana diperlukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan UKS. Kesimpulan : Hambatan pelaksanaan program dokter kecil di SDN 10 Bima berkaitan dengan sarana prasarana ruang UKS, peralatan dokter kecil, toilet serta kantin sehat, anggaran dana, SDM, koordinasi serta peran tim pelaksana, namun dibandingkan pada SDN 11 Bima dalam sumber danalebih mandiri dan lebih lengkap dari segi sarana prasarana UKS.
Background: The Ministry of Health of the Republic of Indonesia recognizes that the implementation of the little doctor program in schools is still not optimal, therefore a small doctor revitalization program is launched and is expected to place the function of small doctors as agents of change in the school environment through peer education. Inconsistencies and lack of periodic planning suggest that small doctor program evaluations are needed. Objective: This study aims to evaluate the program of little doctors in SDN 11 Kota Bima and SDN 10 in 2019. Method: This type of qualitative research with a case study research design. The subjects in this study were the UKS advisory team who were collected through in-depth interviews, little doctors using the FGD method, observation and documentation study. The informants for indepth interviews consisted of 7 people, including 4 representatives of the central unit and 3 representatives of intermediary units. There were 30 informants for the FGD consisting of 8 representatives of minor doctors and 7 representatives of non- minor students from SDN 10 and SDN 11 in Bima, which were divided into two groups. This study uses 3 components of analysis namely data condensation (data condensation), data presentation (data display), drawing and verifying conclusions (drawing and verifying conclusions) Results:A little doctor program activities in both SDN 11 Bima and SDN 10 Bima have been carried out, however, the availability of supporting facilities is still inadequate at SDN 10 Bima. Inadequate human resources involved in the Advisory Team. There has been regular coordination and cooperation, but without regular meetings. In addition, both monitoring and evaluation are carried out by each sector without specific guidance. For facilities and funding from each of the small doctor program activities in schools with more independent achievement. Coordination between the sub-district development team, the implementation team is needed to optimize the implementation of the UKS. Conclusion: Barriers to the implementation of the little doctor program at SDN 10 Bima relate to the infrastructure of the UKS room, small doctor equipment, toilets and healthy canteens, budget funds, human resources, coordination and the role of the implementing team, but compared to SDN 11 Bima in funding sources are more independent and more complete in terms of UKS infrastructure.
Kata Kunci : Evaluasi Program, Dokter Kecil,Usaha Kesehatan Sekolah, Program Evaluation, Little Doctor, School Health Business.