POLA ASUH SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6-24 BULAN DI KECAMATAN MANTIKULORE PROVINSI SULAWESI TENGAH
ANITATIA RATNA M, Dr. dr. Emy Huriyati, M.Kes; Dr. rer. nat. dr. BJ. Istiti Kandarina
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah usia lima tahun karena kekurangan gizi kronis sehingga anak menjadi pendek diantara anak seusianya dengan nilai z-score panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) kurang dari -2 Standar Deviasi (SD). Pada tahun 2017, prevalensi stunting di Indonesia pada anak berusia 0-23 bulan sebesar 20,1%, sedangkan prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tengah masih diatas prevalensi nasional yaitu sebesar 21,8%. Prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tengah pada anak berusia 0-23 bulan tertinggi yaitu terdapat di Kota Palu sebesar 27,3%. Salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita adalah pola asuh. Anak yang mendapatkan pola asuh yang kurang baik, cenderung berisiko 2 kali lebih besar mengalami stunting jika dibandingkan dengan anak yang mendapat pola asuh baik dimana pola asuh yang dimaksud meliputi pengasuhan makan anak, perawatan dasar anak, personal hygiene dan sanitasi lingkungan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko pola asuh dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kota Palu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif (retrospective study dengan rancangan case control study) dan kualitatif atau mix method research dengan model campuran sekuensial eksplanatori. Variabel bebas yaitu pola asuh, dan variabel terikat yaitu stunting. Sampel penelitian ini adalah seluruh anak berusia 6-24 bulan di puskesmas pada Kecamatan Mantikulore, serta orang tuanya yang bertempat tinggal di lokasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dengan melakukan pengukuran ulang, kuesioner terstruktur, dan wawancara mendalam. Analisis bivariabel dengan menggunakan uji chi-square, sedangkan analisis multivariabel menggunakan logistic regression dengan p-value <0,05. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting dimana anak dengan pola asuh kurang baik berisiko 2,66 kali lebih besar mengalami stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling dominan terhadap kejadian stunting adalah pola asuh. Kesimpulan: Pola asuh merupakan faktor risiko kejadian stunting. Oleh karena itu diharapakan untuk dinas terkait untuk memberikan edukasi berkala serta pendampingan kepada keluarga bayi terutama ibu terkait pola asuh yang baik.
Background: Stunting is a condition of failure to thrive in children under the age of five due to chronic malnutrition so that children become short among children of their age with z-score body length (PB / U) or height (TB / U) less than -2 Standard Deviation (SD). In 2017, the prevalence of stunting in Indonesia in children aged 0-23 months was 20.1%, while the prevalence of stunting in Central Sulawesi Province was still above the national prevalence of 21.8%. The prevalence stunting in Central Sulawesi Province in children aged 0-23 months was highest, which was found in Palu City at 27.3%. One risk factor that affects the incidence of stunting in children under five is parenting. Children who get poor parenting tend to be 2 times more likely to experience stunting when compared to children who get good parenting where the parenting style includes child feeding, basic child care, personal hygiene and environmental sanitation. Objective: This study aimed to determine the risk of parenting with the incidence of stunting in children aged 6-24 months in Palu City. Method: This study uses a quantitative method (retrospective study with a case control study design) and qualitative or mix methods research with an explanatory sequential mixed model. The independent variable is parenting, and the dependent variable is stunting. The sample of this study was all children aged 6-24 months in a health center in the District of Mantikulore, as well as their parents who resided in the study locations who met the inclusion and exclusion criteria. Data collection by re-measuring, structured questionnaires, and in-depth interviews. Bivariable analysis using the chi-square test, while multivariable analysis using logistic regression with p-value <0.05. Results: The results of the bivariate analysis showed that there was a relationship between parenting and the incidence of stunting where children with poor parenting risked 2.66 times greater stunting. The results of multivariate analysis showed that the most dominant factor in stunting was parenting. Conclusion: Parenting is a risk factor of stunting. Therefore, it is hoped that the relevant agencies will provide periodic education and assistance to the families of babies, especially mothers related to good parenting.
Kata Kunci : Usia 6-24 bulan, pola asuh, stunting/Age 6-24 months, parenting, stunting