Laporkan Masalah

POLA ASUH DAN POLA MAKAN SEBAGAI FAKTOR RISIKO STUNTING BALITA USIA 6-24 BULAN SUKU PAPUA DAN NON PAPUA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ARSO III KABUPATEN KEEROM

FIYANITA NESA R, Dr. rer. nat. dr. BJ. Istiti Kandarina; Dr. Ir. I Made Alit Gunawan, M.Si

2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar Belakang : Stunting atau pendek merupakan salah satu indikator status gizi kronis yang berpengaruh jangka panjang. Sebanyak 151 juta anak-anak di dunia menderita stunting pada 2017. Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 37,2% dan di Papua tahun 2016 sebesar 51,72%. Tahun 2017 terdapat 527 balita stunting di Kabupaten Keerom dan 214 balita terdapat di wilayah kerja Puskesmas Arso III. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko pola asuh dan pola makan terhadap kejadian stunting balita usia 6-24 bulan suku Papua dan Non Papua di wilayah kerja Puskesmas Arso III Kabupaten Keerom. Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan Case Control. Total sampel 160 balita yang terbagi dalam 40 kelompok kasus dan 40 kelompok kontrol pada masing-masing suku. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pola asuh dan SQ-FFQ serta faktor risiko lainnya. Analisis data menggunakan uji McNemar, Mantel Haenszel, dan Regresi Logistik Berganda. Hasil : Hasil analisis bivariat menunjukkan pada suku Papua terdapat hubungan antara pola asuh pemberian makan (OR=9), pola asuh higiene sanitasi (OR=3,75), asupan energi (OR=23), asupan protein (OR=24), jenis makanan (OR=13) dan diare (OR=2,8) dengan kejadian stunting. Pada suku Non Papua terdapat hubungan antara pola asuh pemberian makan (OR=7,3), pola asuh higiene sanitasi (OR=4,5), asupan energi (OR=11,5), asupan protein (OR=28) dan jenis makanan (OR=4) dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada suku Papua adalah pola asuh pemberian makan, asupan energi, asupan protein dan diare, sedangkan pada suku Non Papua adalah pola asuh pemberian makan, asupan energi dan asupan protein. Kesimpulan : Pola asuh pemberian makan, pola asuh higiene sanitasi, asupan energi, dan asupan protein merupakan faktor risiko kejadian stunting pada suku Papua maupun Non Papua. Asupan energi merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi stunting pada suku Papua, sedangkan pada suku Non Papua adalah asupan protein. Diharapkan pemerintah setempat dapat membuat program atau kegiatan pendampingan keluarga khusus untuk mengatasi stunting, memanfaatkan lahan yang dapat mencegah maupun mengatasi kejadian stunting serta menambahkan variabel pengetahuan gizi bagi penelitian selanjutnya.

Background: Stunting or short is one indicator of chronic nutritional status that has long-term effects. As many as 151 million children in the world suffer from stunting in 2017. The stunting prevalence in Indonesia in 2013 was 37.2% and in Papua in 2016 amounted to 51.72%. In 2017 there were 527 stunting toddlers in Keerom Regency and 214 toddlers found in Skanto District. This study aims to determine the risk of parenting and eating patterns to the incidence of stunting of children aged 6-24 months in the Papuan and Non-Papuan tribes in the working area of Arso III Health Center, Keerom Regency. Method: This type of research is observational with a case-control design. A total of 160 toddlers were divided into 40 case groups and 40 control groups in each tribe. Data collection uses parenting questionnaires and SQ-FFQ and other risk factors. Data analysis used the McNemar, Mantel Haenszel, and Multiple Logistic Regression tests. Results: The results of the bivariate analysis showed in the Papuan tribe there is a relationship between feeding patterns (OR=9), sanitation hygiene patterns (OR=3,75), energy intake (OR=23), protein intake (OR=24), type of food (OR=13) and diarrhea (OR=2,8) with the incidence of stunting. In the Non-Papuan tribe, there is a relationship between feeding patterns (OR=7,3), sanitation hygiene patterns (OR=4,5), energy intake (OR=11,5), protein intake (OR=28), and type of food (OR=4) with the incidence of stunting. The results of multivariate analysis showed that the factors that contributed to the incidence of stunting in the Papuan tribe were feeding patterns, energy intake, protein intake, and diarrhea, while in the Non-Papuan tribes were feeding patterns, energy intake and protein intake. Conclusion: Feeding patterns, sanitation hygiene patterns, energy intake, and protein intake are risk factors for stunting in Papuans and Non-Papuans. Energy intake is the most dominant factor influencing stunting in Papuans, while in Non-Papuans is protein intake. It is hoped that the local government can create special family assistance programs or activities to overcome stunting, utilize land that can prevent or overcome stunting events and add nutritional knowledge variables for future research.

Kata Kunci : Pola Asuh, Pola Makan, Balita 6-24 bulan, Suku Papua dan Non Papua, Stunting

  1. S2-2019-418243-abstract.pdf  
  2. S2-2019-418243-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-418243-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-418243-title.pdf