ANALISIS PENILAIAN KINERJA REKSA DANA SAHAM MELALUI METODA SHARPE, TREYNOR, DAN JENSEN ALPHA RATIO PADA PERIODE JANUARI 2012-DESEMBER 2018
ADI SAID, Tandelilin Eduardus, Prof., Dr., M.B.A.,
2019 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN (KAMPUS JAKARTA)Setiap orang yang melakukan investasi memiliki harapan mendapatkan nilai pengembangan dari invetasi yang dilakukan. Reksa dana sebagai salah satu instrumen keuangan, menjadi salah satu opsi investasi yang dapat dipilih oleh individu yang ingin melakukan investasi. Reksa dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, dan memiliki keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Reksa dana diharapkan dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik ketimbang indeks pembandingnya (benchmark). Hal ini sangat wajar, dikarenakan reksa dana adalah produk investasi yang dikelola manajer investasi yang dinilai berkompeten melakukan pengelolaan portofolio investasi. Sehingga para investor memiliki harapan, reksa dana dapat meminimalisir resiko investasi yang ada dan secara bersamaan memiliki tingkat pertumbuhan nilai investasi yang lebih baik. Harapan kinerja reksa dama yang baik dibandingkan benchmark tidak terjadi pada tiga tahun terakhir, yaitu pada periode tahun 2016, 2017, dan 2018. Pada tiga tahun terakhir rata-rata reksa dana saham memiliki tingkat pengembalian yang lebih rendah dibandingkan benchmarknya, yaitu IHSG. Kinerja yang cukup baik dibukukan oleh IHSG pada tahun 2016 dengan kenaikan sebesar 15,32%, sedangkan di tahun yang sama Reksa dana saham hanya mengalami pertumbuhan 7,7%. Kinerja yang baik juga dicatat oleh IHSG pada tahun 2017, dengan kenaikan sebesar 19,9%. Di saat bersamaan reksa dana saham hanya mengalami pertumbuhan 11,25%. Pada tahun 2018, IHSG mengalami penurunan sebesar -2,45% dan Reksa dana saham turun lebih dalam sebesar -3,67%. Reksa dana saham diharapkan oleh investor dapat memberikan pengembalian investasi yang lebih baik daripada IHSG, akan tetapi kenyataannya tiga tahun terakhir hal itu tidak dapat ditunjukan dalam kinerja Reksa dana saham. Resiko reksa dana yang juga pernah terjadi pada tahun 2005 adalah panic redemption. Pada tahun 2005, redemption dalam jumlah besar terjadi pada reksa dana. Awal tahun 2005, total dana kelolaan sebesar 117 Triliun Rupiah turun menjadi hanya 36 Triliun Rupiah pada tanggal 20 September 2005. Hal ini disebabkan oleh penurunan harga dari sekuritas yang menjadi portofolio reksa dana ditambah penjualan (redemption) yang terjadi cukup masif, akibat dari kepanikan investor akan keadaan ekonomi global. Pemilihan reksa dana yang baik menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan investasi reksa dana. Selain itu, perlunya dilakukan analisis kinerja reksa dana dapat memberikan informasi apakah reksa dana saham masih dapat diandalkan untuk investasi jangka panjang. Penelitian ini dilakukan atas informasi yang tersaji pada kinerja nilai aktiva bersih pada periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2018 dan data-data pendukung lain yang terkait dengan uji statistik kendals W coeffiencient concordance dan metoda risk adjusted return yang digunakan, yaitu sharpe ratio, treynor ratio dan jensen alpha. Atas analisis yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa: Analisis yang dilakukan pada reksa dana sampel menunjukan ada sejumlah kecil dari sampel yang masih memiliki kinerja lebih baik dan konsisten dalam jangka panjang. Sehingga, pemilihan manajer invesatsi dan strategi yang tepat diindikasi akan mempengaruhi kinerja dari reksa dana itu sendiri. Akan tetapi kinerja reksa dana dalam jangka panjang tetap menarik untuk menjadi salah satu investasi, melihat dari kemudahan investor dalam melakukan invetasi meskipun investor tidak memiliki pengetahuan investasi yang mendalam. Reksa dana yang baik selain memiliki return yang baik juga perlu memiliki risk yang terjaga, dengan melakukan diversifikasi yang baik suatu reksa dana dapat meminimalisir risk yang diterima. Reksa dana sampel memiliki diversifikasi yang baik ditunjukan dengan uji statistik kendals W coeffiencient concordance yang mendekati nilai W = 1. Sehingga, investasi reksa dana secara jangka panjang masih baik dilakukan dengan memilihan reksa dana yang tepat.Kredibilitas, track record, dan strategi manajer investasi dapat menjadi hal yang dapat dipertimbangkan dalam melakukan pemilihan reksa dana.
Everyone who invests has the hope of getting the capital gain from investments that they made. Mutual funds as one of the financial instruments become one of the investment options that can be chosen by individuals who want to invest. Mutual funds are designed to raise funds from people who have capital, and have the desire to invest, but only have limited time and knowledge on investment. Therefore, mutual funds can be interpreted as a instrument that is used to raise funds from the public, investors, then the funds will be reinvested into the securities portfolio by the Investment Manager. The funds collected will be invested by investment managers, into several investment instruments such as stocks, bonds, or other instruments. Mutual funds are expected to provide a better rate of return than the benchmark index. This is very reasonable, because mutual funds are investment products managed by investment managers who are considered as a competent institution to manage investment portfolios. Therefore, investors have hope, that mutual funds can minimize the risk and simultaneously have a better investment value growth rate rather than benchmark. Expectations of good mutual fund performance compared to benchmarks did not occur in the last three years, namely in the periods of 2016, 2017 and 2018. In the last three years the average equity fund had a lower rate of return than the benchmark, namely the Jakarta Composite Index (JCI). The good performance was recorded by the JCI in 2016 with an increase of 15.32%, while in the same year equity funds only grew 7.7%. The good performance was also recorded by the JCI in 2017, with an increase of 19.9%. At the same time, equity funds only grew 11.25%. In 2018, the JCI fell by -2.45% and equity funds fell deeper by -3.67%. Equity mutual funds are expected by investors to provide a better return on investment than the JCI, but in reality the last three years cannot be shown in the performance of equity mutual funds. Risk of mutual is panic redemption. In 2005, a large amount of redemption occurred in mutual funds. At the beginning in 2015, the total managed funds of mutual fund counted to 117 Trillion Rupiah, down to 36 Trillion Rupiah on September 20, 2005. This was caused by a massive decline in the price of securities as a mutual fund portfolio plus sales (redemption), due to investor panic the condition of the global economy. The selection of good mutual funds is a matter that needs to be considered in investing in mutual funds. In addition, the need to analyze the performance of mutual funds can provide information on whether equity funds can still be relied on for long-term investment. This study was conducted on information presented on the performance of net asset values in the period January 2012 to December 2018 and other supporting data related to the statistical test of the W 'coefficient efficiency concordance and the risk adjusted return method, such as sharpe ratio, treynor ratio and alpha jensen. For the analysis that has been done, it can be concluded that: The analysis conducted on sample mutual funds show that there are only a small number of samples that still have better and consistent performance in the long run. Therefore, the selection of investment managers and appropriate strategies is indicated to affect the performance of the mutual funds itself. However, the performance of mutual funds in the long term remains attractive to become one of the investments, since the ease of investors in investing even though investors do not have deep investment knowledge. In addition, Good mutual funds also need to have maintained risk, by making good diversification a mutual fund can minimize the risk received. Sample of mutual funds have good diversification as indicated by the statistical test of kendal W coefficient of concordance which approaches W = 1. Thus, long-term mutual fund investments are still good to do with choosing the right mutual funds. Credibility, track record, and investment manager strategy can be a thing that can be considered in selecting mutual funds.
Kata Kunci : reksa dana, perencanaan keuangan, risk adjusted return, mutual fund, Kendall w coefficient of concordance, sharpe ratio, treynor ratio, jensen alpha