Perilaku Pergerakan dan Penggunaan Koridor oleh Kukang Jawa (Nycticebus Javanicus) di Talun Desa Cipaganti, Garut, Jawa Barat
MUHAMMAD HARMANSYAH RIZKY RAMDHAN, Dr.rer.silv. M. Ali Imron, S.Hut., M.Sc.
2019 | Skripsi | S1 KEHUTANANTalun agroforestri di Desa Cipaganti menyediakan habitat untuk kukang jawa (Nycticebus javanicus), spesies primata yang terancam punah. Terlepas dari lahan pertanian modifikasi manusia di luar kawasan yang tidak dilindungi, penelitian terbaru menunjukan bahwa primata dapat bertahan hidup dan bereproduksi di daerah ini. Kukang jawa bergantung pada keberadaan pohon, sementara penerapan agroforestri di Cipaganti mengurangi pohon-pohon dan menyisakan pepohon yang terfragmentasi. Perubahan pola ini telah mempengaruhi pergerakan kukang jawa. Baru-baru ini petani telah mengubah produk mereka menjadi labu dan secara tidak sengaja menyediakan koridor untuk pergerakan kukang jawa. Para petani juga membangun pipa air untuk pengairan lahan pertanian mereka yang kemudian berperan menjadi koridor buatan. Selain itu, Little Firefice Project dari Oxford Brookes University juga telah membuat jembatan kukang yang juga berperan sebagai koridor buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan koridor alami dan buatan oleh kukang jawa di Desa Cipaganti, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. kukang jawa yang terpasang radio collar dan dipantau pergerakannya sebelum (2014), saat (2015-2017), dan sesudah (2018) pembuatan koridor buatan manusia. Lokasi GPS dan perilaku setiap kukang yang terpilih dicatat untuk analisis pola pergerakan. Pola pergerakan (daerah jelajah, jarak, arah, dan kecepatan) dibandingkan selama tiga periode pengamatan. Saat semua individu kukang telah menunjukan perbedaan yang signifikan pada jarak dan kecepatan pergerakan mereka, hanya tiga dari mereka yang menunjukan perbedaan daerah jelajah sebelum, saat dan sesudah pembuatan koridor. Meskipun koridor buatan telah dibuat, kukang sebagian besar menggunakan koridor alami, termasuk sebelum dan saat pengembangan koridor. Kami menemukan bahwa kukang menggunakan koridor sebagian besar untuk perilaku sosial, mencari makan/menjelajah, dan menelisik di koridor alami, sedangkan kukang menggunakan koridor buatan untuk mencari makan/menjelajah dan berpindah tempat. Kesimpulannya, talun agroforestri memberikan dukungan untuk konservasi spesies yang terancam punah melalui pemeliharaan koridor alami dan buatan.
Talun agroforestry in Cipaganti Village provides habitat for javan slow loris (Nycticebus javanicus), a critically endangered primate species. Regardless this human modification agriculture in non-protected areas, recent studies showed that the primate can survive and reproduce in this area. Javan slow loris depends on the presence of trees, while agroforestry practice in Cipaganti reduced trees and remained fragmented trees. This type of conversion have affected the movement of javan slow lorises. Recently, farmers have changed their products into pumpkins and un-intentionally provide corridor for javan slow loris movements. Farmers also have established water lines for supporting their agricultural land which have been playing as artificial corridors. In addition, to support loris bridges between trees as also for artificial corridors. This study investigates the use of natural and artificial corridors by javan slow loris in Cipaganti village, Garut regency, West Java Indonesia. Six Javan slow lorises were radio collared and monitored their movement before (2014), during (2015-2017) and after (2018) establishment of man-made corridor. Each GPS location and behavior of selected lorises were recorded for movement pattern analysis. The movement patterns (home range, distance, angle, and speed) were compared during three period of observations. While all individuals of lorises have shown significant different on their movement distance and speed, only three of them showed a distinct home range size before, during and after corridor establishment. Although artificial corridors have been established, lorises predominantly used natural corridors, including before and during corridor development. We found that lorises used corridors mostly for social behavior, exploring, and grooming on natural corridors, whereas lorises used artificial corridors for exploring and travelling. In conclusion, the Talun agroforestry provides support for conservation of endangered species through the maintenance both natural and artificial corridors.
Kata Kunci : Kukang Jawa, Talun Desa Cipaganti, Perilaku Pergerakan, Penggunaan Koridor;Kukang Jawa, Talun Desa Cipaganti, Perilaku Pergerakan, Penggunaan Koridor