Gejala 'Tomophobia' dalam Pemilihan Pengobatan Cedera Patah Tulang di Kota Pemalang
MUHAMMAD KAUTSAR, Prof. Dr. Irwan Abdullah
2019 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAFraktur, atau secara umum disebut dengan cedera patah tulang, merupakan salah satu kondisi medis yang lazim ditemukan di Kota Pemalang. Pengobatannya mengalami keberagaman dengan adanya enam rumah sakit modern dan jasa pengobatan tradisional 'sangkal putung' dengan kompleksitas tersendiri yang dapat dipilih seiring dengan keterikatan yang kuat antara fraktur dan pengejawantahan tubuh yang terasosiasi dengan konfigurasi-konfigurasi simbolik terkait pengalaman kultural pasien fraktur, dalam konteks ini adalah masyarakat Kota Pemalang yang menjadi bagian dari masyarakat urban, dalam memilih suatu pengobatan seiring dengan rasa sakit tak tertahankan dan limitasi tertentu yang tak terhindarkan oleh pasien selama mengikuti proses pengobatan. Penelitian mengenai perilaku mencari kesehatan terkait pemilihan pengobatan fraktur di Kota Pemalang lewat analisis terkait faktor-faktor yang memengaruhinya akan mengarah kepada gejala 'tomophobia', bukan sebagai diagnosis medis melainkan sebagai argumentasi interpretatif, untuk memahami fenomena penghindaran untuk datang ke rumah sakit di kota tersebut. Penelitian dilakukan di Kota Pemalang selama sebulan (dari pertengahan Juni hingga pertengahan Juli) di tahun 2017 dengan pengumpulan data kualitatif lewat metode etnografi dengan observasi partisipatoris dan wawancara mendalam dengan informan untuk mengumpulkan data-data empiris secara primer berupa leksikon-leksikon yang terasosiatif dengan 'bedah' dan unsur-unsur terkait dalam konteks polisemis di lokasi penelitian dan data-data sekunder yang dikumpulkan sebagian besar lewat studi literatur. Terdapat empat informan kunci yang memiliki empat pilihan berbeda dalam memilih pengobatan fraktur dan beberapa informan lain yang memberikan konteks-konteks eksternal terkait. Analisis jaringan semantik digunakan untuk menganalisis keterhubungan antara leksikon satu dengan yang lain dengan prinsip interdisipliner dan dikategorisasikan menjadi tiga bingkai, yaitu (1) bingkai situasional; (2) bingkai institusional; dan (3) bingkai emosional yang mempengaruhi proses pembuatan keputusan dalam memilih pengobatan sekaligus mencerminkan suatu karakteristik serupa dengan gejala 'tomophobia'. Gejala 'tomophobia' menjadi suatu bentuk ekspansi atas akuisisi pengetahuan baru yang terakomodir secara diferensial seiring dengan gerak jalar kebudayaan yang tak terbendung telah memberikan horizon baru dalam menilik bedah ortopedi dan sangkal putung sebagai dua pilihan pengobatan fraktur yang bertolak belakang namun memiliki kemiripan dalam partisi luaran tertentu. Hal tersebut telah menunjukkan kompatibilitas riset kolaboratif antara disipilin antropologi dan disiplin lain, baik pada tingkat teoretis dan metodologis, dalam memahami perilaku mencari kesehatan secara khusus dan suatu fenomena atau isu tertentu secara umum dengan lebih menyeluruh. Dengan demikian, dikotomi Timur-Barat yang melatarbelakangi penelitian ini semakin mengabur seiring dengan melebur sekat-sekat dari apa yang disebut dengan modernitas dan tradisionalitas.
Fracture, or commonly called bone fracture injury, is one of the medical conditions that prevalently be found in the Town of Pemalang. Its treatment is vary with the existence of six modern hospitals and traditional bonesetting 'sangkal putung' with complex differences which can be chosen according to the strong bond between fracture and the personification of body associated with symbolic configurations related to fracture patients' cultural experiences, the Town of Pemalang's Townspeople who are part of urban society in this context, in choosing certain treatment along with unbearable pain and certain limitations that are inevitable by patients during the treatment process. Study of health-seeking behavior related to the selection of fracture treatment in the Town of Pemalang through the analysis of factors that influence such behavior leads to 'tomophobia' symptoms, not as a medical diagnosis but as an interpretative argumentation, to understand the phenomenon of avoiding hospital visits in the town. The research has been conducted in the Town of Pemalang for a month (during mid-June to mid-July) in 2017 with qualitative data collecting through ethnographic method with participatory observation and in-depth interviews with informants to collect empirical primary data in form lexicons which associated with 'surgery' and related elements in polysemic context on the fieldwork and secondary data collecting mostly through literature studies. Four core informants have four different kinds of choices in the selection of fracture treatment and several informants who provided related external contexts. Semantic network analysis is used to analyze the relationship between lexicons with interdisciplinary principles and categorize it into three frames, namely (1) situational frame; (2) institutional frames; and (3) emotional frames which influence the decision-making process and reflect certain characteristics that similar with 'tomophobia' symptoms at the same time. 'Tomophobia' symptoms become a form of expansion of the acquisition of new knowledge which accommodated differentially as with the unstoppable move of cultural transformation has given a new horizon in reviewing orthopedic surgery and 'sangkal putung' as two different treatment options that contrary to each other but have similarity in certain output partitions. Such perspective has shown the compatibility of collaborative research between anthropology and other disciplines, both in theoretical and methodological levels, for understanding health-seeking behavior in particular and certain phenomenon or issue in general in a more holistic approach. That said, East-West dichotomy that underlying this research is increasingly blurred as the barriers which divide what we call modernity and traditionality has started to melt.
Kata Kunci : gejala 'tomophobia', perilaku mencari kesehatan, fraktur, masyarakat urban, jaringan semantik