Faktor-Faktor yang Mendorong Urgensi Jepang Membentuk Japan-EU Economic Partnership Agreement
ALVIN YUDHISTIRA, Dra. Siti Daulah Khoiriati, M.A.
2019 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALSejak tahun 2007, Jepang telah berusaha untuk melakukan negosiasi pembentukan kerja sama perdagangan komprehensif dengan Uni Eropa. Bertolak belakang dengan posisi selama ini terhadap perdagangan bebas, Jepang sangat proaktif dalam inisiasi kerja sama tersebut. Hal ini tak pelak menimbulkan pertanyaan apakah yang mendorong Jepang dengan proaktif mengejar kesepakatan liberalisasi pasar bersama Uni Eropa. Penulis berpendapat bahwa keputusan Jepang dalam pengejar negosiasi pembentukan EPA bersama Uni Eropa didorong oleh urgensi yang dirasakan Jepang akibat proliferasi FTA. Proliferasi FTA memberikan ancaman akan terekslusinya Jepang dari pasar Eropa sebagai dampak dari fenomena tersebut. Kondisi ini yang kemudian memaksa Jepang untuk melakukan bandwagon dengan menginisiasi perjanjian serupa. Untuk memperdalam argumen tersebut, penulis juga melihat relevansi aktor-aktor politik domestik dalam mendorong terciptanya negosiasi pembentukan Japan-EU Economic Partnership Agreement.
Since 2007, Japan has tried to initiate negotiation regarding the formation of comprehensive trade agreement with European Union. On the contrast of its traditional position towards market liberalization, Japan showed proactive behaviour calling for official negotiation between the two partners. This behaviour thus raises the question regarding Japan�s unyealding motivation towards the formation of this comprehensive agreement. I argue that Japan has been driven by national urgencies to conclude an comprehensive trade agreement with European Union. Japan is put to face disadvantages in European Market as Korea-EU Free Trade Agreement is concluded.. This condition certainty gives Japan the urgency of bandwagoning to form similar agreement. Also the develop this argument, I seek the relevance of Japanese domestic actors to push the formulation of Japan-EU Economic Partnership Agreement.
Kata Kunci : Jepang, Uni Eropa, EPA, pembuatan kebijakan perdagangan, bandwagon