Resiliensi Ayah Menghadapi Peran Baru sebagai Single Father Pasca Kematian Istri
FANNY ALDRIAN, Prof. Drs. Subandi, M.A, Ph.D
2019 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIPenelitian terdahulu menemukan bahwa pria sanggup mengasuh anak setelah istri meninggal dimana disaat yang sama ia harus menangani perasaaan berdukanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat lebih dalam bagaimana dinamika resiliensi seorang ayah tunggal menghadapi tantangan baru yang tidak pernah diduga sebelumnya. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan fenomenologis. Data penelitian primer diperoleh melalui wawancara semi terstruktur kepada ayah tunggal dan informan, kemudian dilakukan kategorisasi data untuk menemukan tema-tema spesifik yang muncul. Hasil penelitian menemukan bahwa ayah tunggal menyadari adanya ketergantungan akan keberadaan peran istri di rumah dan mengakui ketidakberdayaan sebagai pria. Kecemasanayah tunggal semakin meningkat bila memikirkan kondisi keseharian dan masa depan anak, di sisi lain kepercayaan diri untuk mengasuh anak seorang diri mengalami peningkatan. Komunikasi ayah tunggal dengan anak semakin intens dan terbuka yang bertujuan untuk saling memahami kondisi dan kebutuhan masing-masing. Kerabat sesama orang tua dan orang tua tunggal memperlihatkan peningkatan dukungan materiil secara sukarela di masa awal transisi. Sementara, keluarga cenderung memberikan bantuan materiil bila ayah tunggal menjelaskan lebih dahulu kebutuhan mendesak yang perlu segera dipenuhi.
Previous research found that men were able to care for children after the wife died where at the same time he had to deal with grief. This study aims to look deeper into how the dynamics of resilience of a single father face new challenges that have never been predicted before. The research approach uses a phenomenological approach. Primary research data was obtained through semi-structured interviews to single fathers and informants, then data categorization was carried out to find specific themes that emerged. The results of the study found that single fathers were aware of the dependence on the existence of a wife's role at home and acknowledged helplessness as a man. Single father's anxiety is increasing when thinking about the daily conditions and future of the child, on the other hand the self-confidence to take care of children alone increases. Communication of single fathers with children is increasingly intense and open which aims to understand each other's conditions and needs. Relatives of parents and single parents showed an increase in voluntary material support in the early transition. Meanwhile, families tend to provide material assistance if a single father explains in advance the urgent needs that need to be met immediately.
Kata Kunci : resiliensi, orang tua tunggal, ayah tunggal, duka