Survival Strategy Masyarakat Desa Wijirejo Pijenan Bantul dalam Mempertahankan Batik Sebagai Barang Publik
RIZKU ARNAWA GUSMI, Dr. Suripto, A.Md., S.I.P., MPA.
2019 | Skripsi | S1 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIKPenelitian ini berangkat dari kondisi ancaman kelestarian Batik Bantul akibat dari perkembangan zaman seperti kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi hasil dampak globalisasi yang mendorong kancah perdagangan batik semakin meluas serta kompetitif. Masalah ditambah dengan masuknya era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dan perdagangan bebas yang merupakan konsekuensi bagi pemangku industri batik untuk tetap mempertahankan serta bersaing dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia maupun luar Indonesia. Dari latar belakang tersebut, penelitian ini berusaha mengetahui bagaimana survival strategy masyarakat Desa Wijirejo, Pandak, Bantul dalam mempertahankan batik sebagai barang publik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi, cara, dan langkah-langkah yang di gunakan Masyakarat Desa Wijirejo khususnya pelaku industri batik dalam mempertahankan batik sebagai barang publik. Hasil penelitian ini selaras dengan dua aspek teori survival strategy yaitu, Household Survival Strategy (Harbinson, 2010) dan Survival Emansipasi (Leiten, 1989). Penelitian dilakukan di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan melakukan wawancara 13 responden yang berbeda dan observasi lapangan. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini diharapkan mampu untuk mengupas tentang bagaimana survival strategy yang dilakukan masyarkat Desa Wijirejo dalam mempertahankan batik sebagai barang publik dalam enam aspek yang berbeda yaitu aspek historis, kolektivitas, sosial, budaya, ekonomi dan kebijakan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa untuk mempertahankan batik dapat ditempuh dengan enam cara. Pertama, mereka melakukan perubahan materi dasar, ragam hias, dan teknik pembuatan batik yang senantiasa mengikuti perubahan zaman. Kedua, mereka membentuk kelompok batik yang bernama Paguyuban Perajin Batik Wijirejo atau disingkat PPBW. Ketiga, mereka melakukan perubahan okupasi yang memperngaruhi status sosial, dari petani menjadi buruh batik, lalu dari buruh batik menjadi pengusaha batik. Keempat, mereka melakukan perubahan mindset kepada generasi muda bahwa pembatik memiliki penghasilan yang lebih tinggi. Kelima, mereka memanfaatkan sumberdaya lain selain hasil dari produksi batik, seperti bertani dan beternak. Keenam, Pemerintah Desa Wijirejo dan Dinas KUKMP melakukan sosialisasi disertai pelatihan tentang pengembangan industri batik. Rekomendasi dari penelitian ini adalah mengaktifkan kembali paguyuban batik yang selama ini pasif, memperbanyak sosialisasi serta pelatihan yang dilakukan oleh pemerintah desa maupun dinas terkait dan menggencarkan kembali program sertifikasi perajin batik.
This research departs from the condition of the sustainability threat of Bantul Batik due to the development of times such as the advancement of information technology and tele communications as a result of the impact of globalization which has pushed the batik trade scene to expand and become more competitive. The problem is coupled with the entry of the MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) era and free trade which is a consequence for batik industry stakeholders to maintain and compete with other regions in Indonesia and outside Indonesia. From this background, this study sought to find out how the survival strategy of the people of Desa Wijirejo, Pandak, Bantul in maintaining batik as a public good. The purpose of this study was to find out how the strategies, methods, and steps used by the people of Wijirejo Village, especially the batik industry players in maintaining batik as a public good. The results of this study align with the two aspects of survival strategy theory, namely, Household Survival Strategy (Harbinson, 2010) and Emancipation Survival (Leiten, 1989). The study was conducted in Wijirejo Village, Pandak, Bantul, with a qualitative descriptive research method. Data was obtained by interviewing 13 different respondents and field observations. Through the phenomenology approach, this research is expected to be able to explore how survival strategy is carried out by the community of Wijirejo Village in maintaining batik as a public good in six different aspects, namely historical, collectivity, social, cultural, economic and policy aspects. Based on the results of the study, it is known that to maintain batik can be reached in six ways. First, they made changes to basic materials, decorative items, and batik-making techniques that always followed the changing times. Second, they formed a batik group called Paguyuban Wajirejo Batik Crafters or abbreviated as PPBW. Third, they make occupational changes that affect social status, from farmers to batik laborers, then from batik laborers to become batik entrepreneurs. Fourth, they made a change of mindset to the younger generation that batik makers have higher income. Fifth, they use other resources besides the results of batik production, such as farming and raising livestock. Sixth, the Government of the Wijirejo Village and the KUKMP Office conducted socialization along with training on the development of the batik industry. The recommendation of this study is to reactivate the batik community which has been passive, increasing the socialization and training carried out by the village government and related agencies and re-intensifying the batik crafters certification program.
Kata Kunci : Survival, Survival Strategy, Kebijakan Publik, Publicness, Public Goods