PERSEPSI KERUANGAN MASYARAKAT TRADISIONAL DI LERENG BARAT LAUT GUNUNG LAWU TERHADAP POLA SEBARAN TEMPAT SAKRAL: STUDI KASUS DUSUN DEMPING
WILLIBRORDUS DAMAR G, Dr. Anggraeni., M.A.
2019 | Skripsi | S1 ARKEOLOGIGunung Lawu dikenal oleh masyarakat tradisional di sekitarnya, sebagai tempat yang menghubungkan antara manusia dan roh. Gunung Lawu terkenal pula karena memiliki tinggalan-tinggalan arkeologis yang tersebar dari kawasan lereng hingga puncak. Sebagian besar dari tinggalan ini masih digunakan oleh masyarakat Dusun Demping yang terdapat di lereng barat laut Gunung Lawu, sebagai sarana untuk menjalankan aktivitas religi. Masyarakat Dusun Demping dan keterkaitan budayanya terhadap situs-situs arkeologis dan tempat-tempat yang mereka sakralkan akan menjadi objek dalam penelitian ini. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran tempat sakral dan persepsi masyarakat Dusun Demping terhadap pola sebaran tersebut. Kajian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kajian etnoarkeologi lingkup strategis, dengan model kesinambungan budaya, yang didasarkan atas pandangan bahwa kebudayaan masyarakat yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah perkembangan dari kebudayaan masa lampau, sehingga ciri budaya yang ada saat ini adalah warisan dari budaya yang telah berkembang sebelumnya pada lokasi yang sama. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data survei lapangan mengenai atribut-atribut dari situs-situs arkeologis, tempat-tempat sakral, dan sebaran hunian yang akan diteliti dalam penelitian ini. Data lain yang akan digunakan adalah data etnografi dari wawancara yang akan dilakukan peneliti di lapangan mengenai aspek-aspek non-fisik dari obyek yang hendak dikaji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Demping memiliki persepsinya sendiri terhadap pola sebaran tempat sakral, yang menyatakan bahwa nilai kesakralan suatu tempat tidak ditentukan berdasarkan bentuk maupun ketinggiannya, namun ditentukan berdasarkan sumbu kosmik, serta nilai filosofis yang terkandung dalam makna dan fungsinya masing-masing. Adanya persepsi tersebut secara tidak langsung juga mempengaruhi aturan-aturan yang berlaku di Dusun Demping untuk memposisikan dan menentukan arah hadap hunian masyarakat.
Mount Lawu, which the surrounding communities recognize as a place that connects the people and the spirit, is also known for its archaeological remains that spread from the foothill to the top. Most of the remains are still in use by the people in Demping Hamlet in the Nort West area of the mountain as a means to conduct religious activities. Demping people and their connectedness to the archaeological sites and places they consider sacred are the objects of this research. Problems are formulated in this research in order to find out the distribution pattern of sacred places and Demping people’s perception of such pattern. This research employs ethno archaeological study on a strategic level, with a cultural continuity model, based on a perception that the culture of the community studied in this research was developed in continuous manner from a past culture, therefore, all cultural characteristic existing presently were inherited from previous culture within the same location. Data used in this research are field observation data concerning attributes from archaeological sites, sacred places, and distribution pattern of dwellings that will be studied in this research. Supporting data used are ethnographic data from interviews done by researcher on the field concerning nonphysical aspects of the objects studied. This research shows that the community in Demping Hamlet have formed their own perception concerning the distribution pattern of sacred sites, which stated that sacredness value of a particular site is not determined by their shapes or altitude, it was determined however, by cosmic alignment, and philosophical values contained within their meanings and functions. This perception indirectly influence the rules and regulations concerning the positioning and the direction of dwellings in Demping Hamlet.
Kata Kunci : Kata Kunci : pola sebaran, etnoarkeologi, Gunung Lawu, tempat sakral, hunian, konsep kedewataan, ritual, orientasi, sacral