Bringing Back China's Peaceful Rise: Wuling Investment and the South China Sea Dispute
HAFIDH RAHMAN Z, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro
2019 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALBangkitnya Cina sebagai calon negara adikuasa sudah sering menjadi bahan pembicaraan, namun ia tetap memiliki ambiguitas dalam konteks ini. Pada awal abad ke-21, Cina mengadopsi sebuah kebijakan luar negeri bernama peaceful rise (kebangkitan damai), yang menekankan pada posisi kekuatan Tiongkok yang relatif lunak dan tidak mengganggu dalam komunitas internasional. Namun, relevansi kebijakan tersebut dinilai hilang setelah munculnya aktivitas militer Cina di Laut Cina Selatan, sebuah daerah yang ia klaim sebagai bagian dari kedaulatannya dengan menggunakan dasar Sembilan Garis Putus. Sejak Xi Jinping menjadi presiden pada 2013, Cina menjadi lebih ambisius dalam meraih status negara adidaya, tidak hanya dengan kekuatan militer, tetapi juga dengan perkembangan ekonominya. Menggunakan realisme ofensif dari Mearsheimer sebagai kerangka dasar analisis, skripsi ini diharapkan mampu memberikan argumen yang kuat bahwa di bawah kepresidenan Xi, Cina sedang menerapkan kembali kebijakan peaceful rise, dengan menganalisis peningkatan jumlah investasi dalam industri otomotif oleh salah satu produsen mobil terbesar Cina dan meningkatnya ketegangan dan kehadiran militer dalam sengketa Laut Cina Selatan.
China's emergence as a potential superpower has always been in the talks, yet it keeps a value of ambiguity with it. In the early 21st century, the country adopted the so-called 'peaceful rise' policy which underlined its positioning as a relatively soft and non-interfering power within the international community. Yet, the policy's relevance evaporated following military activities in the South China Sea following a controversial territorial claim using the Nine-Dash Line. Since Xi Jinping's presidency in 2013, however, China has become more ambitious in gaining the superpower title, not only in terms of military, but also with its economic development. Using Mearsheimer's offensive realism as a base framework, this thesis seeks to provide a solid argument that under Xi's presidency, China is undergoing a re-application of the peaceful rise policy, putting into perspective the increasing investment figures in the automotive industry sector in Southeast Asia through one of its largest automakers and the increasing tension and military presence in the South China Sea dispute.
Kata Kunci : China, Southeast Asia, automotive, investment, South China Sea, peaceful rise