RESILIENSI PENYANDANG PARAPLEGIA KORBAN BENCANA GEMPA BUMI DI KABUPATEN BANTUL TAHUN 2006
ASTRI HANJARWATI, Prof. Dr. Muh Aris Marfai, M.Sc
2019 | Disertasi | DOKTOR ILMU GEOGRAFIPenelitian resiliensi penyandang paraplegia korban bencana gempa bumi Bantul tahun 2006 menggunakan pendekatan kajian geografi. Kajian ini berfokus pada manusia yaitu penyandang paraplegia tentang bagaimana strategi yang dilakukan sehingga mampu resilien/ bertahan dengan kehidupan yang baru sebagai penyandang paraplegia. Perbedaan dan kebaruan (novelty) dari penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada subjek penelitiannya yaitu difabel baru. Difabel baru ini merupakan masyarakat korban gempa bumi Bantul tahun 2006 yang mengalami cedera tulang belakang dan sekarang menjadi penyandang paraplegia. Tujuan penelitian adalah (1)Menganalisis faktor-faktor yang menjadi penyebab korban bencana gempa bumi menjadi penyandang paraplegia. (2)Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi/ ketahanan penyandang paraplegia pasca bencana gempa bumi Bantul tahun 2006. (3)Menganalisis perbedaan kondisi aset penghidupan sebelum bencana gempa bumi, sesaat setelah bencana gempa bumi dan kondisi saat ini berdasarkan konsep dari DFID (Departement for International Development) livelihood Analysis. (4)Menganalisis distribusi spasial rumah penyandang paraplegia berdasarkan pada kelas kerawanan gempa bumi yang telah disusun oleh Pusat Studi Bencana UGM. Lokasi penelitian adalah enam kecamatan dengan jumlah penyandang paraplegia terbanyak, yaitu Kecamatan Piyungan, Kecamatan Bambanglipuro, Kecamatan Jetis, Kecamatan Sewon, Kecamatan Pundong, dan Kecamatan Pleret. Populasi penyandang paraplegia di enam kecamatan 124 orang, dan diambil sampel dengan metode simple random sampling sebanyak 44 orang untuk diwawancara dengan kuisioner. Wawancara mendalam juga dilakukan kepada 10 orang keluarga penyandang paraplegia. Analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif terhadap data hasil kuesioner, wawancara mendalam, hasil pengamatan, dan data sekunder. Hasil penelitian sebagai berikut: (1)Faktor-faktor yang menjadi penyebab menjadi penyandang paraplegia adalah: wilayah tempat tinggal rawan bencana gempa bumi, kerentanan fisik yang tinggi, kapasitas fisik dan sosial yang rendah. Menjadi penyandang paraplegia merupakan risiko karena tingginya ancaman dan kerentanan, sedangkan kapasitas fisik dan sosial rendah. (2) Proses resiliensi penyandang paraplegia melalui empat fase yaitu fase stres, fase penerimaan diri dan adaptasi, fase pengembangan diri dan peningkatan kapasitas, fase resilien. Penyandang paraplegia resilien apabila mampu bersosialisasi, bekerja untuk mencari penghidupan dan mandiri dalam mobilitas. Faktor-faktor resiliensi dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. (3) Aset penghidupan yang mengalami penurunan adalah modal manusia dan modal keuangan. Sedangkan modal sosial mengalami peningkatan pada saat ini dari kondisi sebelum bencana dan sesaat setelah bencana. (4) Distribusi spasial rumah penyandang paraplegia berada di wilayah sangat rawan (54), rawan (59) dan kurang rawan (11).
Research on the resilience of people with paraplegia victims of the Bantul earthquake in 2006 used a geographic study approach. This study focuses on humanity, namely persons with paraplegia, how the strategy is carried out so that they are able to resilience / survive with new life as persons with paraplegia. The research objectives are (1) Analyzing the factors that cause earthquake victims to become paraplegia. (2) Analyzing the factors that influence the resilience / resilience of people with paraplegia after the Bantul earthquake in 2006. (3) Analyzing the differences in the conditions of livelihood assets prior to the earthquake, shortly after the earthquake and current conditions based on the concept of DFID (Department for International Development) Livelihood Analysis. (4) Analyzing the spatial distribution of houses with paraplegia based on earthquake vulnerability classes compiled by the UGM Center for Disaster Studies. The research locations were the six sub-districts with the highest number of people with paraplegia, namely Piyungan sub-district, Bambanglipuro sub-district, Jetis sub-district, Sewon sub-district, Pundong sub-district, and Pleret sub-district. The population with paraplegia in six sub-districts of 124 people, and taken by sample with simple random sampling method as many as 44 people to be interviewed with a questionnaire. In-depth interviews were also conducted with 10 families with paraplegia. The analysis used is quantitative and qualitative analysis of data from questionnaires, in-depth interviews, observations, and secondary data. The results of the study are as follows: (1) The factors that cause becoming a person with paraplegia are: areas that are prone to earthquakes, high physical vulnerability, low physical and social capacity. Being a person with paraplegia is a risk because of the high threat and vulnerability, while low physical and social capacity. (2) The process of resilience of persons with paraplegia through four phases, namely the stress phase, the phase of self-acceptance and adaptation, the phase of self-development and capacity building. People with resilient paraplegia when able to socialize, work to make a living and be independent in mobility. Resilience factors are divided into two, namely internal factors and external factors. (3) Livelihood assets that have decreased are human capital and financial capital. Whereas social capital has increased at this time from conditions before the disaster and shortly after the disaster. (4) The spatial distribution of houses with paraplegia is in a very vulnerable area (54), vulnerable (59) and less vulnerable (11).
Kata Kunci : Resilience, Earthquakes, Paraplegia, Livelihood Assets, Spatial Distribution,Resiliensi, Gempa bumi, Penyandang Paraplegia, Aset Penghidupan, Distribusi Spasial