Laporkan Masalah

Dampak Pengelolaan Ekowisata Mangrove terhadap Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat (Studi Kasus Dusun Pasir Mendit dan Pasir Kadilangu, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo)

Widya Fistiningrum, Dr. Rika Harini, M.P.

2019 | Skripsi | S1 GEOGRAFI LINGKUNGAN

Desa Jangkaran merupakan salah satu daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki hutan mangrove. Hutan mangrove memiliki ciri khas yang unik dan nilai keindahan alam sehingga memiliki potensi untuk dikelola menjadi ekowisata mangrove. Pengelolaan hutan mangrove menjadi ekowisata mangrove telah dilakukan sejak tahun 2016 dengan melibatkan masyarakat setempat, yakni masyarakat Dusun Pasir Mendit dan Pasir Kadilangu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui (1) kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sebelum adanya ekowisata mangrove, (2) tingkat partisipasi masyarakat pada pengelolaan ekowisata mangrove, dan (3) dampak pengelolaan ekowisata mangrove terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Penelitian dilakukan menggunakan metode survai dengan instrumen kuesioner untuk mengumpulkan data. Sasaran penelitian yaitu masyarakat yang terlibat maupun tidak terlibat dalam pengelolaan ekowisata mangrove. Penentuan jumlah sampel menggunakan quota sampling yakni 40 responden. Data diolah menjadi tabel frekuensi dan skoring dengan skala likert untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dan analisis secara statistik menggunakan uji T untuk mengetahui perbedaan kondisi masyarakat sebelum dan sesudah adanya ekowisata mangrove. Hasil penelitian menunjukkan (1) kondisi masyarakat sebelum adanya ekowisata mangrove yakni sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petambak (40%), interaksi sosial yang lebih banyak dilakukan yaitu kerja bakti (47,5%), tidak terdapat aturan yang mengikat masyarakat (72,5%), dan tidak terdapat konflik masyarakat (100%). Rata-rata pendapatan masyarakat sebelum adanya ekowisata mangrove yakni Rp 1.965.00,00, (2) tingkat partisipasi masyarakat pada pengelolaan ekowisata mangrove yaitu tahap perencanaan sedang (3,05), pelaksanaan sangat tinggi (4,24), pengambilan manfaat sangat tinggi (4,60), dan evaluasi tinggi (3,56), dan (3) pengelolaan ekowisata mangrove memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial yakni munculnya tambahan mata pencaharian yang berkaitan dengan ekowisata mangrove, interaksi sosial berupa kerja bakti dengan persentase yang sama pada kondisi sebelum adanya ekowisata mangrove yakni 47,5%, terdapat aturan yang mengikat masyarakat dengan tingkat kepatuhan yakni sedang (52,5%), dan dampak negatif yakni konflik sosial masyarakat (67,5%). Dampak positif terhadap kondisi ekonomi yaitu meningkatkan pendapatan masyarakat dan munculnya peluang usaha yang berkaitan dengan ekowisata mangrove.

Jangkaran Village is one of the areas in the Special Region of Yogyakarta that has mangrove forests. Mangrove forests have unique characteristics and the value of natural beauty so that it has the potential to be managed into mangrove ecotourism. Mangrove ecotourism has been carried out since 2016 by involving the local community, of Dusun Pasir Mendit and Pasir Kadilangu Sub-Village community. The purpose of this study is to find out (1) the social and economic conditions of the community before the existence of mangrove ecotourism, (2) the level of community participation of mangrove ecotourism management, and (3) the impact of mangrove ecotourism management on the social and economic conditions of the community. The study was conducted using survey methods with questionnaire instruments to collect data. Targetting those who involved and not involved in mangrove ecotourism management. Determination of the number of samples using quota sampling was 40 respondents. Data was processed into frequency tables and scoring with a Likert scale to determine the level of community participation. Data analysis was quantitative descriptive and statistical analysis using the T-test to determine differences in community conditions before and after and involved and those who not involved in mangrove ecotourism. The results showed (1) the condition of the community prior to the existence of mangrove ecotourism, that most people worked as fish farmers (40%), more social interactions were carried out namely voluntary work (47.5%), there were no rules that bound the community (72.5 %), and there is no community conflict (100%). The average income of the community before the existence of mangrove ecotourism is Rp. 1,965.00.00, (2) the level of community participation in mangrove ecotourism management, namely the medium planning stage (3.05), very high implementation (4.24), very high benefit taking (4.60), and high evaluation (3.56), and (3) management of mangrove ecotourism has a positive impact on social conditions, namely the emergence of additional livelihoods related to mangrove ecotourism, social interaction in the form of voluntary work with the same percentage of conditions before the presence of mangrove ecotourism which is 47.5%, there are rules that bind the community with the level of compliance namely moderate (52.5%), and the negative impact of social conflict (67.5%). Positive impact on economic conditions, namely increasing community income and the emergence of business opportunities related to mangrove ecotourism.

Kata Kunci : ekowisata mangrove, partisipasi masyarakat, dampak sosial ekonomi/mangrove ecotourism, community participation, social economic impact

  1. S1-2019-377533-abstract.pdf  
  2. S1-2019-377533-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-377533-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-377533-title.pdf