To Boto - Bissu; Kuasa, Relasi, dan Pandangan Masyarakat
FEBY TRIADI, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M. A., M. Phil
2019 | Tesis | MAGISTER ANTROPOLOGIBelakangan ini, narasi malu-malu perkara To Boto sudah mulai menguak dan menjadi pembicaraan dikalangan warga Pangkep. To Boto menjadi pembicaraan serius, dikarenakan mereka adalah laki-laki muda yang tinggal bersama Bissu, dan segala kebutuhan hidupnya digenapkan pula oleh Bissu. Sedangkan dalam tatanan masyarakat Bugis, Bissu menempati peranannya sebagai seseorang pendeta suci, yang dikenal tidak memiliki hasrat untuk melakukan hal duniawi. Dengan begitu, menjadi wacana empuk pada bibir-bibir lokal, serta ruang-ruang diskusi akedemik, tentang hubungan Bissu dan To Botonya. Adanya konsep To Boto dalam kehidupan Bissu, tidak serta-merta menjadikan mereka dijauhi dan dikucilkan dalam masyarakat Pangkep, justru semakin melanggengkan relasi pertukaran yang ada diantara mereka. Dengan begitu, dalam penelitian ini mengajukan tiga pertanyaan yang ingin dijabarkan. Pertama, bagaimana awal dan perkembangan relasi antara Bissu dan To Boto. Kedua, bagaimana kekuasaan Bissu bekerja di masyarakat Segeri. Ketiga, bagaimana pandangan warga melihat relasi Bissu dan To Boto. Pertanyaan ini, akan ditelaah dengan meminjam pendekatan Adams (1975) mengenai kekuasaan, Scott (1972) mengenai pertukaran, dan didukung dengan temuan Ahimsa-Putra (2007) tentang patron-klien di Sulawesi Selatan. Penelitian ini menemukan beberapa simpulan mendasar. Pertama, jika awal mula relasi antara Bissu dan To Boto, berangkat dari anak adopsi yang diangkat Bissu dari kerabatnya. Dalam perjalananya menjadi anak adopsi, To Boto dicukupkan segala kebutuhannya oleh Bissu, dalam relasi itu membuahkan pertukaran ekonomi, derajat sosial dan seksual. Kedua, adanya pelapisan sosial yang terjadi pada warga Pangkep, menjadikan Bissu menempati lapisannya sendiri, Bissu menjadikan keahliannya sebagai sanro (dukun) dengan basis kekuasaannya adalah arajang (pusaka), mantra dan tari, sedangkan keahliannya sebaga indo botting (perias pengantin) berbasiskan mantra dan pendapatan ekonomi, yang menjadikan pelapisan sosial mereka nyata adanya. Ketiga, pandangan warga terhadap relasi Bissu dan To Boto terbagi atas pandangan pro dan kontra, kelompok pro adalah dewan adat yang menguasai jabatan pemerintahan, dan kelompok kontra adalah orang-orang agamawan yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, namun dengan adanya pelapisan sosial yang bekerja, tidak memberikan penolakan yang berarti terhadap kelakuan Bissu dan To Boto.
Lately, To Botos narration has begun to unfold and become a conversation among the people in Pangkep. To Boto became a serious conversation, because they were young men who lived with the Bissu, and all their needs were fulfilled by him. Whereas, in Bugis;s society order, Bissu occupies his role as a holy priest, who is known to have no desire to do worldly things. Therefore, it becomes a soft discourse on local lips, as well as the academic discussion rooms, about Bissu and To Botos relations. The existence of To Boto concept in the Bissu life does not necessarily make them shunned and ostracized in the Pangkep community, instead of perpetuating the exchange relations that exist between them. Therefore, this study makes three questions such as; firstly, how is the beginning and development of relations between Bissu and To Boto; second, how the Bissus power works in the Segeri community; third, how do people see Bissu and To Boto relations each other?. This question will be explored by Adams conceptual (1975) about power, Scott (1972) regarding exchanges, and supported conceptual by Ahimsa-Putra (2007) on patron-clients in South Sulawesi. This research finds some basic conclusions. Firstly, Bissu and To Botos relationship are departing from the adopted adoption of Bissu from his relatives, in his journey to becoming an adopted child, To Boto. Such as all his needs were provided by the Bissu, in that relationship resulted in an economic, social and sexual exchange. Second, the social coating that occurs in Pangkep residents, makes Bissu occupy their own layers, Bissu makes his expertise as a sanro (dukun) with his power base are arajang (heirloom), mantra and dance, while his expertise as indo' botting (bridal makeup) is based on spells and economic income, which makes their social coating real. Third, the people's views on relations of Bissu and To Boto are divided into pro and contra views, the pro group is coming from adat council who has controls government positions, and the contra groups are coming from religious people who have received tertiary education, but with social layers that work, not provide meaningful rejection of Bissu and To Botos behavior.
Kata Kunci : Bissu, To Boto, Kekuasaan, Pertukaran, dan Pandangan Masyarakat. Bissu, To Boto, Power, Exchange, and Community Views.