Laporkan Masalah

EVALUASI DESAIN TERAS SEBAGAI BANGUNAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DI DAERAH TANGKAPAN AIR KARANGKOBAR, BANJARNEGARA

Putri Kultsum Van Tando, Dr. Ngadisih, STP., M.Sc.

2019 | Skripsi | S1 TEKNIK PERTANIAN

Daerah tangkapan air Karangkobar merupakan bagian dari DAS Serayu. Sebagai daerah hulu, daerah tangkapan air (DTA) Karangkobar memiliki karakteristik berbukit dengan kemiringan lereng curam, solum tanah tebal, curah hujan tinggi, dan tekstur tanah lempung. Hampir semua wilayah DTA Karangkobar digunakan untuk pertanian. Sayangnya, sistem pertanian yang diterapkan mengabaikan prinsip konservasi tanah dan air. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi desain teras sebagai konservasi tanah dan air di DTA Karangkobar. Alat yang digunakan ialah GPS, roll meter, abney level dan laptop. Bahan yang digunakan adalah data curah hujan, kuisioner, dan peta satuan unit lahan hasil dari tumpang tindih dari peta kemiringan lereng dan penggunaan lahan. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Titik pengambilan sampel ditentukan dengan metode purposive sampling dari peta satuan unit lahan. Evaluasi kesesuaian teras menggunakan metode pencocokan aritmatika antara persyaratan teknis dengan pengukuran di lapangan. Studi ini mengungkapkan bahwa persentase penggunaan teras bangku di DTA Karangkobar sebesar 43,75 %, teras gulud 25 %, saluran pembuangan air 12,5 %, dan tanpa konservasi 18,75 %. Unit lahan yang menerapakan teras dengan konsidi sesuai sebesar 25 %, agak sesuai 18,75 %, dan tidak sesuai 56,25 %. Pembuatan dan perbaikan teras yang sesuai membutuhkan biaya lebih banyak dan menghasilkan areal tanam yang lebih sempit.

Karangkobar catchment is upland of Serayu watershed. Karangkobar catchment is characterized as rough topography, thick solum, high rainfall, and the land use dominated by agriculture. Unfortunately, the agricultural system ignores the principles of soil and water conservation. The purpose of this study was to describe and to evaluate the terrace design as soil and water conservation. The tools used were GPS, roll meter, and abney level. The study were conducted using qualitative descriptive. The purposive sampling method was adopted to determine the terrace point. The indicator to evaluate terrace design were slope, solum, soil texture, and land management. Terrace suitability evaluation used arithmetic matching methods based on technical requirements and observations of soil terracing. This study revealed that the percentage of bench terrace in study area was 43.75%, 25% ridge terrace, 12.5% water drainage channel, and without conservation 18.75%. The suitability of design: 25% was the fit design, moderate 18.75%, and bad design 56.25%. Making and repairing terraces to fit design was costly.

Kata Kunci : Teras, DTA Karangkobar, konservasi, unit lahan.