Laporkan Masalah

TINGKAT PENERIMAAN MASYARAKAT TERHADAP PEMIMPIN PEREMPUAN (Studi Kasus Dusun Sanggrahan, Ponjong, Gunungkidul)

BINAKA SUWASTI PUTRI, Dr. Suripto, A.Md., S.I.P., MPA.

2019 | Skripsi | S1 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Penelitian ini meneliti tentang tingkat penerimaan masyarakat Dusun Sanggrahan terhadap kepemimpinan Kepala Dukuh Perempuan. Terpilihnya Ayu Sari Galih menjadi Kepala Dukuh Sanggrahan yang baru untuk pertama kalinya melalui mekanisme uji penyaringan sesuai dengan UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, tidak sepenuhnya mendapatkan dukungan dari masyarakat. Pelaksanaan sistem rekruitmen yang berlandaskan meritokrasi, menyebabkan siapapun boleh menjadi Kepala Dukuh tanpa mempertimbangkan pengalaman maupun latar belakang calon. Masyarakat yang selama ini memilih langsung Kepala Dusun dengan mempertimbangkan pengalaman dan ketokohan calonnya, meragukan Kepala Dukuh yang muda dan berjenis kelamim perempuan (dalam masyarakat yang menganut Budaya Jawa kaum perempuan masih dianggap the second class). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat penerimaan masyarakat Dusun Sanggrahan terhadap kepemimpinan Kepala Dukuh perempuan. Metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, dan studi pustaka. Landasan teori yang digunakan pada penelitian ini meliputi gaya kepemimpinan khas perempuan dan tingkat penerimaan pemimpin melalui konsep Acceptance of leader. Secara garis besar, tingkat penerimaan masyarakat Dusun Sanggrahan terhadap Kepala Dukuh diindikasikan dengan seberapa besar partisipasi masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan dan kepatuhan pada kebijakan yang telah dibuat. Sementara itu, tingkat partisipasi dan kepatuhan dipengaruhi setidaknya oleh 2 faktor : gaya kepemimpinan dan Budaya jawa. dalam faktor Budaya Jawa sendiri, terdapat tiga aspek yang dapat mempengaruhi tingkat penerimaan masyarakat Sanggrahan, yaitu senioritas, kerukunan, dan patriarki. Walaupun begitu, dalam penelitian ini, tingkat penerimaan juga dipengaruhi oleh faktor sosialisasi yang mempengaruhi aspek pengetahuan masyarakat. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat Dusun Sanggrahan menerima Kepala Dusun Sanggrahan sebagai pemimpin perempuan. Hal tersebut diindikasikan dengan tingginya tingkat partisipasi dan kepatuhan masyarakat. Kepala Dukuh Sanggrahan menerapkan strategi gaya kepemimpinan yang demokratis untuk mempengaruhi tingkat penerimaan masyarakat. Gaya kepemimpinan tersebut secara langsung meningkatkan zona penerimaan dimasyarakat. Dan walaupun pemimpin perempuan bertentangan dengan peran perempuan jawa, tetapi masyarakat cenderung untuk mempertahankan harmoni dan kerukunan dengan menghindari konfrontasi terbuka dan menunjukkan penerimaan.

This research examines the level of acceptance of the Sanggrahan Hamlet community towards the leadership of the Head of Women's Hamlet. The election of Ayu Sari Galih became the new Head of Sanggrahan Hamlet for the first time through a screening test mechanism in accordance with Law No. 6 of 2014 concerning Villages, not fully gaining support from the community. The implementation of a recruitment system based on meritocracy causes anyone to become a Head of Hamlet without considering the experience and background of the candidate. The community that has directly chosen the Head of the Hamlet by considering the experience and character of the candidate, doubts that the Head of the Hamlet is young and of the type of woman (in a society that embraces Javanese culture of women is still considered the second class). This study aims to find out how much the level of acceptance of the Sanggrahan Hamlet community towards the leadership of the Head of Hamlet women. The method used in this study uses a qualitative approach. Data collection techniques used are observation, interview, and literature study. The theoretical foundation used in this study includes the typical female leadership style and the level of acceptance of the leader through the concept of Acceptance of leader. Broadly speaking, the level of acceptance of the Sanggrahan Hamlet community towards the Hamlet Head is indicated by how much community participation in each decision making and compliance with the policies that have been made. Meanwhile, the level of participation and compliance is influenced by at least 2 factors: leadership style and Javanese culture. in the factor of Javanese culture itself, there are three aspects that can affect the level of acceptance of the Sanggrahan community, namely seniority, harmony, and patriarchy. The results of this study show that the people of Sanggrahan Hamlet accepted the Head of Sanggrahan Hamlet as a female leader. This is indicated by the high level of community participation and compliance. The Head of Sanggrahan Hamlet tends to adopt a democratic leadership style. The leadership style directly increases the acceptance zone in the community. And even though female leaders contradict the role of Javanese women, but people adhere to Javanese harmony by tending to avoid confrontation by showing acceptance.

Kata Kunci : Meritokrasi, gaya kepemimpinan khas perempuan, tingkat penerimaan pemimpin, Acceptance of Leader, tingkat partisipasi, tingkat kepatuhan, budaya jawa, gaya kepemimpinan demokratis.

  1. S1-2019-366177-abstract.pdf  
  2. S1-2019-366177-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-366177-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-366177-title.pdf  
  5. SI-2019-26355-abstract.pdf  
  6. SI-2019-26355-bibliography.pdf  
  7. SI-2019-26355-tableofcontent.pdf  
  8. SI-2019-26355-title.pdf  
  9. SI-2019-366177-abstract.pdf  
  10. SI-2019-366177-bibliography.pdf  
  11. SI-2019-366177-tableofcontent.pdf  
  12. SI-2019-366177-title.pdf