Petani Tembakau Kabupaten Temanggung dalam Pusaran Ketidakadilan Pasar Tata Niaga
DESTRIANA GALUH H, Wahyu Kustiningsih, M.A.
2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIPetani tembakau di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah tidak hanya menjadi sebuah profesi saja tetapi sudah menjadi sebuah ideologi. Bagi petani, kehadiran tembakau mampu memberi warna baru kehidupan, khususnya dalam aspek ekonomi dan kebudayaan. Namun dibalik itu, kesejahteraan petani tembakau belum terjamin dengan layak karena adanya ketidakadilan dalam pasar tata niaga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat proses ketidakadilan tata niaga tembakau bagi petani dan mengidentifikasi gerakan bersama atau collective action dari petani tembakau. Teori yang digunakan adalah teori gerakan sosial dari Donatella dan Diani serta teori pengetahuan dan kekuasaan dari Michel Foucault. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Ada tiga desa di Kecamatan Tlogomulyo (Kab. Temanggung) yang menjadi lokasi penelitian ini, antara lain Desa Tlogomulyo, Desa Losari dan Desa Legoksari. Informan terdiri dari petani tembakau, tengkulak, asosiasi petani tembakau dan pemerintah. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan kajian literatur. Penelitian ini memenunjukkan bahwa skema tata niaga tembakau di Temanggung mengalami ketidakadilan baik pada skema non kemitraan maupun skema kemitraan, terutama pada petani skema kemitraan. Skema kemitraan ternyata berusaha mengekang kebebasan petani melalui kesepakatan yang mengikat. Temuan kedua, adanya gerakan petani tembakau berupa collective action menjadi wujud perlawanan petani dalam merespon ketidakadilan tata niaga tersebut. Gerakan petani ini sangat mengandalkan asosisasi sebagai media aspirasi, tetapi kepentingan asosiasi petani tersebut ternyata memiliki dualisme kepentingan yang bersangkutan dengan industri.
For people in Temanggung Regency (Central Java, Indonesia) being a tobacco farmer is not a profession, but also an ideology. For farmers, tobacco is able to give a new color to their life, especially in economic and cultural aspects. But behind that, the welfare of tobacco farmers has not been properly guaranteed because of injustices in the trade system market. This study aims to look at the process of injustice in the tobacco trade system for farmers and identify the collective action of tobacco farmers. The theory used is the theory of social movements from Donatella and Diani and the theory of knowledge and power from Michel Foucault. This study uses a qualitative approach in a case study method. There are three villages in Tlogomulyo District (Temanggung Regency) which are the locations of this study, including Tlogomulyo Village, Losari Village and Legoksari Village. Informants consisted of tobacco farmers, middlemen, tobacco farmer associations and the government. The method of data collection is done through observation, in-depth interviews and literature review. This research shows that the tobacco trade scheme in Temanggung has experienced injustice both in the non-partnership scheme and in the partnership scheme, especially in the partnership scheme farmers. The partnership scheme was apparently trying to curb the freedom of farmers through binding agreements. The second finding, the existence of the tobacco farmers movement in the form of collective action is a manifestation of farmers resistance in responding to the injustice of the trade system. This peasant movement relied heavily on association as a media aspiration, but the interests of the farmer association turned out to have dualism of interests concerned with industry.
Kata Kunci : petani tembakau, tata niaga, ketidakadilan, collective action.