Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kota Terpadu Mandiri Belitang di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatra Selatan
Septi Mooi Cahyani, Doddy Aditya Iskandar, S.T, MCP, Ph.D
2019 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAParadigma tranmigrasi pada era otonomi daerah tidak hanya pemerataan penduduk tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dibawah koordinasi Kementrian Transmigrasi kemudian dilakukan Pembangunan dan Pengembangan Kota Terpadu Mandiri sebagai embrio perkotaan baru di sejumlah kawasan transmigrasi. KTM Belitang di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Provinsi Sumatra Selatan telah menjadi KTM generasi pertama sejak diinisiasi sekitar tahun 2007-2008. Setelah 10 tahun masa implementasinya, investasi pemerintah yang dilakukan dalam bentuk pembangunan sarana-prasarana produksi, ekonomi, dan sosial terlihat terbengkalai dan belum sepenuhnya terfungsikan. Efek turunan yang diharapkan berupa pembukaan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi lokal masih belum terwujud. Pada penelitian ini, digunakan pendekatan studi kasus dengan metode deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan perkembangan KTM Belitang serta mengidentifikasi faktor apa saja yang diduga berpengaruh. Hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan KTM Belitang cenderung mengalami penurunan kualitas terhadap hasil pembangunan di Pusat KTM. Investasi pembangunan Pusat KTM tidak diiringi dengan peningkatan interaksi daerah pusat dan hinterland. Perkembangan yang terjadi dipengaruhi oleh adanya faktor penghambat interaksi yaitu aksesibilitas, kesiapan institusi daerah, keputusan politik lokal, dan kualitas sumber daya manusia. Sedangkan faktor pendorong terjadinya interaksi adalah ketersediaan pendanaan serta bahan baku, partisipasi masyarakat, dan komitmen aktor terkait.
Implementation of local autonomy has been shifting the paradigm of transmigration, not only population distribution but also encouraging local economic growth. Coordination through the Ministry of Transmigration executed the creation of towns or cities called new urban area development as the center of Kota Terpadu Mandiri (Integrated self-sufficient city) in several transmigration areas. KTM Belitang in East Ogan Komering Ulu, South Sumatra had been initiated between 2007 - 2008. After 10 years of implementation, the project investment in the form of production, economic, and social facilities seems neglected and has not been fully functioned. This condition indicated that the expectation of multiplier effect of increase local community welfare and job creation did not receive yet. In this study, a case study approach was used with a qualitative descriptive method to describe the development of KTM Belitang and identify the influential factors. The results of the study showed that the development of KTM Belitang tended to experience a decline in the quality of the project investment. Investment in the New Urban Area is not accompanied by increased interaction between the central and hinterland areas. The development that occurs is influenced by the existence of inhibiting factors of interaction : accessibility, capacity of local institutions, local political decisions, and the quality of human resources. While the driving factors for interaction are the development funds, community participation, and commitment of related actors.
Kata Kunci : Kata Kunci : Kawasan Transmigrasi, Kota Terpadu Mandiri, Interaksi, Perkembangan