35 per minggu). Dengan pendekatan LUA, terdapat pengangguran tersembunyi sebesar 27,17% di Dusun Randualas. Adanya "proyek MR", berdasarkan ketersediaan lahan pertanian, terjadi penurunan tingkat pengangguran tersembunyi pada tingkat dusun (dari 29,9% menjadi minus 40,7%) maupun tingkat desa (dari 51,1% menjadi 17,9%). Penduduk miskin atau sangat miskin menurun dari 45,8% (TP) menjadi 20,8% (DP). Distribusi tingkat kesejahteraan semakin merata, ditandai dengan perubahan nilai Gini dari 0,3103 (TP) menjadi 0,2191 (DP). Volume tanaman yang relatif luas menyebabkan minat masyarakat untuk mengambil andil baru menjadi berkurang. Hanya 52% responden KK yang berminat tanpa mengajukan persyaratan, selebihnya tidak berminat dengan alasan 'repot' (kurang tenaga kerja) atau karena jarak yang relatif jauh. Rerata andil yang dimiliki seluas 0,885 ha, sedangkan yang tergarap hanya 0,711 ha. "> 35 per minggu). Dengan pendekatan LUA, terdapat pengangguran tersembunyi sebesar 27,17% di Dusun Randualas. Adanya "proyek MR", berdasarkan ketersediaan lahan pertanian, terjadi penurunan tingkat pengangguran tersembunyi pada tingkat dusun (dari 29,9% menjadi minus 40,7%) maupun tingkat desa (dari 51,1% menjadi 17,9%). Penduduk miskin atau sangat miskin menurun dari 45,8% (TP) menjadi 20,8% (DP). Distribusi tingkat kesejahteraan semakin merata, ditandai dengan perubahan nilai Gini dari 0,3103 (TP) menjadi 0,2191 (DP). Volume tanaman yang relatif luas menyebabkan minat masyarakat untuk mengambil andil baru menjadi berkurang. Hanya 52% responden KK yang berminat tanpa mengajukan persyaratan, selebihnya tidak berminat dengan alasan 'repot' (kurang tenaga kerja) atau karena jarak yang relatif jauh. Rerata andil yang dimiliki seluas 0,885 ha, sedangkan yang tergarap hanya 0,711 ha. ">
STRUKTUR TENAGA KERJA LOKAL DAN KAITANNYA DENGAN PROGRAM KEHUTANAN SOSIAL MANAGEMENT REGIME (Studi kasus di Desa Randualas, BKPH Dungus, KPH Madiun)
Muhammad Zulhasridsyah, Ir. Heru Iswantoro, M.A.
1997 | Skripsi | S1 KEHUTANANKemunduran potensi hutan jati di Jawa dipengaruhi oleh adanya kondisi kemiskinan masyarakat karena menurunnya rerata kepemilikan lahan pertanian dan meningkatnya jumlah tenaga kerja (TK), terdiri dari angkatan kerja (AK) dan bukan angkatan kerja (BAK), sedangkan kesempatan kerja non-pertanian belum mencukupi. Kondisi sosial setempat menuntut adanya perubahan pendekatan dalam pengelolaan hutan dari conventional forestry kepada social forestry. Di KPH Madiun, uji coba pilot project pengelolaan hutan jati optimal (di lapangan lebih dikenal dengan "proyek MR"), sebagai satu pendekatan kehutanan sosial, telah dilakukan sejak tahun 1991. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Struktur tenaga kerja diketahui dari sampel anggota keluarga pada dua kelompok rumah tangga (pesanggem dan bukan pesanggem) secara proporsional. Tingkat pengangguran dianalisis secara langsung (direct method) dengan pendekatan penggunaan tenaga kerja (labor utilization approach, LUA), dan dilengkapi dengan perhitungan tidak langsung (indirect method) berdasarkan standar kebutuhan dan ketersediaan lahan pertanian. Analisis dilakukan pada tingkat desa, dusun, atau kelompok, tergantung keperluan. Kaitan terhadap program, dilihat berdasarkan fakta-fakta yang ada, serta perubahan variabel tertentu berdasarkan kondisi analisis "tanpa proyek" (TP) dan "dengan proyek" (DP). Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan struktur umur penduduk, pada tingkat desa berstruktur umur muda, dan tingkat dusun berstruktur umur tua. Penduduk Dusun Randualas, proporsi tenaga kerja mencapai 85,1% (36,08% AK, 49,02% BAK), bukan tenaga kerja (BTK) sebanyak 14,9%. Tenaga kerja keluarga pesanggem cenderung bekerja lebih lama daripada tenaga kerja keluarga bukan pesanggem. Tidak ada AK yang bekerja kurang dari 16 jam seminggu, namun AK muda (10-29 tahun) hanya 16,7% yang termanfaatkan cukup (bekerja >35 per minggu). Dengan pendekatan LUA, terdapat pengangguran tersembunyi sebesar 27,17% di Dusun Randualas. Adanya "proyek MR", berdasarkan ketersediaan lahan pertanian, terjadi penurunan tingkat pengangguran tersembunyi pada tingkat dusun (dari 29,9% menjadi minus 40,7%) maupun tingkat desa (dari 51,1% menjadi 17,9%). Penduduk miskin atau sangat miskin menurun dari 45,8% (TP) menjadi 20,8% (DP). Distribusi tingkat kesejahteraan semakin merata, ditandai dengan perubahan nilai Gini dari 0,3103 (TP) menjadi 0,2191 (DP). Volume tanaman yang relatif luas menyebabkan minat masyarakat untuk mengambil andil baru menjadi berkurang. Hanya 52% responden KK yang berminat tanpa mengajukan persyaratan, selebihnya tidak berminat dengan alasan 'repot' (kurang tenaga kerja) atau karena jarak yang relatif jauh. Rerata andil yang dimiliki seluas 0,885 ha, sedangkan yang tergarap hanya 0,711 ha.
Kata Kunci : Struktur, Tenaga Kerja, Angkatan Kerja, Bukan Angkatan Kerja, Tingkat pengangguran tersembunyi