STRATEGI PENGHIDUPAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN STASIUN LEMPUYANGAN, KOTA YOGYAKARTA
AHMAD DHILAL N, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc.
2019 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAHPedagang Kaki Lima di stasiun Lempuyangan merupakan gambaran dari sektor informal di perkotaan. Kebijakan pemerintah melalui menteri perhubungan berupa larangan berdagang di stasiun kereta api memberikan pengaruh dalam kondisi penghidupan pedagang kaki lima serta strategi penghidupan yang mereka ambil. Kondisi penghidupan pedagang kaki lima dapat diketahui dari sumberdaya berupa asset, akses dan aktivitas yang mereka miliki. Kombinasi dari sumberdaya ini menentukan strategi penghidupan yang akan mereka lakukan. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) mengetahui kondisi penghidupan pedagang kaki lima, 2) mengetahui strategi penghidupan yang dilakukan oleh pedagang kaki lima. Sampel penelitian ini diambil sesuai dengan kebijaksanaan peneliti atau purposive. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang terdiri dari analisis kuisioner, wawancara, dokumentasi dan observasi. Penentuan informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 informan yaitu pedagang kaki lima di stasiun Lempuyangan. Hasil dari penelitian menunjukkan pedagang kaki lima merupakan penduduk yang berada di usia kerja atau usia produktif dengan rentangan 18-64 tahun dengan tingkat pendidikan dari jenjang SD-D2. Alasan pedagang kaki lima berjualan di kawasan stasiun Lempuyangan karena sudah bekerja dan menempati lapak sejak lama, faktor warisan orang tua (lapak milik orang tua), lapangan pekerjaan formal yang sulit dimasuki, dan batu loncatan menunggu panggilan kerja. Faktor keterampilan merupakan aset manusia yang paling berpengaruh bagi pedagang kaki lima. Aset alam yang paling dibutuhkan adalah air bersih. Aset finansial keuangan pedagang kaki lima disimpan di bank dalam bentuk perhiasan, koperasi, dan celengan konvensional. Aset fisik pedagang kaki lima dapat berupa rumah (milik sendiri atau sewa), kendaraan (mobil, motor dan sepeda), alat komunikasi (Hp seluler biasa atau smartphone. Aset sosial yang dimiliki pedagang kaki lima di kawasan stasiun Lempuyangan diantaranya menjalin relasi melalui organisasi paguyuban Dayangkarta pedagang, ataupun mengikuti organisasi keagaamaan pengajian Muhammadiyah dan Majlis tahlil. Sedangkan Strategi penghidupan pedagang kaki lima dalam menjalankan kelangsungan perekonomian keluarga dapat dibagi menjadi tiga, yaitu bertahan sebanyak 7 pedagang kaki lima, konsolidasi sebanyak 12 pedagang kaki lima dan akumulasi sebanyak 11 pedagang kaki lima.
Street vendors at Lempuyangan station are an illustration of the informal sector in urban areas. Government policy through the minister of transportation in the form of a ban on trading at train stations has an influence on the livelihood conditions of street vendors and the livelihood strategies they take. The conditions of livelihood of street vendors can be known from the resources in the form of assets, access and activities that they have. This combination of resources determines the livelihood strategies they will undertake. The objectives of this study are: 1) to know the livelihood conditions of street vendors, 2) to know the livelihood strategies carried out by street vendors. The research sample was taken according to the wisdom of the researcher or purposive. This study uses a qualitative method consisting of questionnaire analysis, interviews, documentation and observation. Determination of informants in this study were as many as 30 informants namely street vendors at Lempuyangan station. The results of the study show that street vendors are residents who are in working age or productive age with a range of 18-64 years with an education level from the elementary-D2 level. The reason street vendors sell in the Lempuyangan station area is because they have worked and occupied stalls for a long time, inheritance factors of parents (parents' stalls), formal jobs that are difficult to enter, and stepping stones waiting for work calls. Skill factor is the most influential human asset for street vendors. The most needed natural assets are clean water. The financial assets of street vendors are kept in banks in the form of jewelry, cooperatives, and conventional piggy banks. The physical assets of street vendors can be in the form of houses (self-owned or rented), vehicles (cars, motorbikes and bicycles), communication devices (ordinary cellular phones or smartphones. Social assets owned by street vendors in the Lempuyangan station area include relationships through community organizations Dayangkarta traders, or join the religious teaching organization Muhammadiyah and tahlil Majlis, while the livelihood strategies of street vendors in running the family economy can be divided into three, namely to survive as many as 7 street vendors, consolidating 12 street vendors and accumulating as many as 11 street vendors.
Kata Kunci : strategi, pedagang, sektor informal