Laporkan Masalah

Ketergantungan Nelayan Terhadap Alat Tangkap Arad dalam Mengurangi Resiko Ketidakpastian: Studi Kasus Nelayan Arad di Kabupaten Demak

MOHAMMAD WAHYU JATI, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A.

2019 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Sebagai salah satu desa nelayan yang berada di Pantai Utara Jawa, nelayan Morodemak seringkali dihadapkan dengan resiko ketidakpastian yang bersumber dari kondisi lingkungan yang tidak menentu. Contohnya, nelayan dihadapkan pada kondisi cuaca, ketersediaan sumberdaya, hingga keamanan kerja. Hal ini memungkinkan nelayan mendapatkan penghasilan yang tidak stabil, sehingga ekonomi rumah tangga nelayan seringkali diliputi rasa tidak aman. Agar bisa terus bertahan dengan kondisi tersebut, nelayan dituntut untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan lingkungan kerjanya. Untuk meminimalkan resiko ketidakpastian yang dihadapi, nelayan berinovasi dengan alat tangkap yang bernama arad. Alat tangkap ini dinilai memberikan rasa aman pada ekonomi nelayan, karena bisa digunakan sepanjang musim serta memberikan pendapatan yang stabil. Namun pada kenyataannya penggunaan arad di kalangan nelayan mendapat pertentangan dari pemerintah, setelah dikeluarkannya Permen Nomor 2/PERMEN-KP/2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (Trawls) dan pukat tarik (Seine Nets) di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia. Studi ini bertujuan menjelaskan kepada pembaca bagaimana nelayan Morodemak mencari cara agar tetap bisa menggunakan arad disaat Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah mengeluarkan Permen Nomor 2/PERMEN-KP/2015, serta mengapa nelayan Morodemak sangat bergantung pada alat tangkap arad untuk memenuhi kebutuhan perekonomiannya.

As one of the fisher villages on Java's North Coast, fishermen from Morodemak often face the risk of uncertainty due to uncertain environmental conditions. Fishermen, for example, will face weather conditions, resource availability, and job security. This allows fishermen to get unstable income per day so that the fisheries economy is often followed by insecurity. Fishermen are required to continue innovating and adapting to their working environment in order to continue surviving with these conditions. To overcome the risks incurred by fishermen, they innovate with a fishing rod called Arad. This fishing gear provides a sense of security for fishermen because it can be used throughout the season and provides stable income. However, in its use, the government has challenged the use of Arad by fishermen, following the issuance of permit No. 2/PERMEN-KP/2015 on the use of Trawl and Seine Nets in the Indonesian fisheries management area. This study aims to explain to readers how Morodemak fishermen are looking for ways to still be able to use Arad when the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries has issued permit No. 2/ PERMEN-KP/2015, and why Morodemak fishermen rely heavily on Arad to meet their economic needs.

Kata Kunci : Arad, Resiko, Peraturan, Ekonomi, Lingkungan.

  1. S1-2019-363684-abstract.pdf  
  2. S1-2019-363684-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-363684-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-363684-title.pdf