SIGNIFIKANSI PEWARNAAN KAMPUNG DALAM PROGRAM PERBAIKAN KAMPUNG (STUDI KASUS: KAMPUNG PELANGI KOTA SEMARANG)
GITA TRIDHIASA PUTRI PRAHUTAMI, Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA, Ph.D
2019 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAProgram perbaikan kampung melalui kegiatan pewarnaan (pengecatan) saat ini sedang banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Seringkali program ini membuat kampung menjadi sebuah destinasi wisata yang dipercaya dapat membangkitkan perekonomian lokal dan mensejahterakan masyarakatnya. Namun dengan sifatnya yang mengikuti tren, program bertema pewarnaan ini cukup dipertanyakan keberlangsungannya karena ia akan terancam mati pada masanya. Upaya pewarnaan ini pun diragukan karena ketidakpastiannya dalam memunculkan dampak-dampak lain selain sekadar meninggalkan warna pada bangunan rumah masyarakat. Di sisi lain, saat ini justru semakin banyak kampung-kampung lain yang mengadopsi upaya tersebut dengan harapan yang sama, yakni untuk memunculkan atraksi unik, menarik perhatian publik, dan kemudian menjadi pemantik kegiatan ekonomi masyarakat lokal, salah satunya Kampung Wonosari Kota Semarang yang saat ini dikenal sebagai Kampung Pelangi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana signifikansi pewarnaan tersebut dalam program perbaikan kampung. Dimulai dengan mendokumentasikan proses perencanaan hingga pemeliharaan program, mengidentifikasi output, outcome, dan impact, serta pada akhirnya memahami nilai-nilai pembelajaran (lesson learned) yang dapat diambil dari program perbaikan kampung melalui pewarnaan. Pada penelitian ini, digunakan metode studi kasus holistik tunggal dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari proses perencanaan, implementasi, hingga pemeliharaan, memunculkan berbagai outcome baik pada aspek fisik, ekonomi, maupun sosial. Dampak dari program ini sendiri adalah adanya peningkatan manajemen aset-aset penghidupan (livelihood assets) masyarakat yang terdiri dari upaya perlindungan (protection), perbaikan (improvement), dan perluasan (expansion). Namun demikian, dampak ini baru berpengaruh pada penghidupan skala rumah tangga, bukan pada skala komunitas. Oleh karena itu masyarakat kesulitan dalam mempertahankan Kampung Pelangi sebagai aset komunitas itu sendiri. Ditemukan beberapa penyebab, yaitu: besarnya andil pemerintah, karakter masyarakat, dan belum terlibatnya masyarakat yang potensial sebagai penggerak komunitas. Pewarnaan itu sendiri ternyata dimaknai sebagai diberikannya sebuah pengakuan (recognition) oleh pemerintah sehingga akhirnya menumbuhkan perasaan aman (perceived security) pada masyarakat yang selama ini tinggal di permukiman informal. Hal ini akan mendorong masyarakat untuk mau berinvestasi dalam melakukan upaya-upaya peningkatan kualitas hidupnya secara mandiri.
Kampung improvement program through kampung colouring is currently being carried out in various regions in Indonesia. Oftentimes, this program transforms the kampung into a tourist destination which is expected to improve the local economy thus prospering the community. However, this coloring kampung sustainability is being questioned due to its nature that greatly follows the trend, made it susceptible when the trend itself is weakened. In addition, it appears that the program only change the visual from the outside while does not induce any other impact. On the other hand, nowadays more and more kampung are adopting this effort with the same expectation, which is to bring out kampung uniqueness, attract public attention, thus become a stimulant to liven up economic activity of local communities. One of them is Semarang's Kampung Wonosari which is currently known as Kampung Pelangi. The purpose of this study is to understand the significance of the colouring activity in kampung improvement program. Started with documenting the planning until maintenance process, identifying the outputs, outcomes, and impact, and eventually understanding the lessons learned which could be taken from the whole proccess. This study used a single holistic case study with qualitative approach. The result shows that from the whole process of the program, various results emerged in both physical, economic and social aspects. The impact of the program itself is that there is a development in the livelihood assets management (consist of protection, repairs, and expansion) of the community affected. However, it appears that this only occurs on a household scale. Therefore, they find it difficult to maintain the existence of Kampung Pelangi as an asset of the community itself. Some of the causative factors found are: excessive government support and influence, the character of the community itslef, and the non-involvment of potential figure of the community. The coloring itself was actually interpreted as a given recognition by the government and gives perceived security to the people who lived in informal settlements. This encourages people to invest in order to improve their quality of life independently.
Kata Kunci : pewarnaan kampung, program perbaikan kampung, dampak