Laporkan Masalah

Kelayakan Finansial Pengusahaan Madu di Desa Banaran Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta

MUTHIA DARY SHABRINA, Prof Dr. Ir. Wahyu Andayani, M.S.

2019 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Madu merupakan salah satu produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari lokasi penelitian yaitu Desa Banaran, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul harga jual madu pada tahun 2019 sebesar Rp500.000/ liter. Penelitian ini dilaksanakan di desa tersebut dengan mengambil responden petani pemelihara lebah madu sebanyak 30 responden. Kepemilikan stup responden bervariasi dengan perincian sebagai berikut: (1) Kepemilikan stup 4-10 stup sebanyak 9 responden, (2) Kepemilikan stup 11-20 stup sebanyak 11 responden, (3) Kepemilikan stup lebih dari 20 stup sebanyak 10 responden. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan usaha pemeliharaan lebah madu dengan menggunakan parameter analisis Benefit Cost Ratio dengan suku bunga sebesar 6,5%/ tahun. Hasil penelitian memberikan informasi sebagai berikut: (a) Kelompok responden dimana perstup/periode panen dapat menghasilkan madu lebih dari 170 ml dinyatakan untung secara finansial yaitu sebanyak 27 responden; (b) Kelompok responden yang hanya menghasilkan madu kurang dari 170 ml/stup/periode panen dinyatakan tidak untung secara finansial yaitu sebanyak 3 responden. Kesimpulan penelitian ini adalah untuk memperoleh hasil yang layak secara finansial disarankan perstup/periode panen dapat menghasilkan madu lebih dari 170 ml. Cara yang disarankan yaitu: (1) Melakukan seleksi koloni unggul, (2) Memperbanyak tanaman pakan lebah, (3) Secara periodik membersihkan stup

Honey is one of the non-timber forest products (NTFPs) with high economical value. Based on information obtained at the research location, that is Banaran Village, Playen District, Gunung Kidul Regency, the sales price for honey in 2019 is Rp500.000/liter. This research was conducted in the village by taking 30 respondents from local honey farmers. Respondents hives ownership is varied, detailed as follows: (1) 4-10 hives ownership 9 respondents; (2) 11-20 hives ownership 11 respondents; (3) more than 20 hives ownership 10 respondents. The aim of this research was to determine honey bee cultivation financial feasibility using Benefit Cost Ratio analysis parameters with an annual interest rate of 6.5%. The research results showed the following information: (a) respondent group with more than 170 ml honey production per hive per harvest-period was categorized as financially profitable, it consisted of 27 respondents; (b) respondent group with less than 170 ml honey production per hive per harvest-period was categorized as financially non-profitable, it consisted of 3 respondents. The research conclusion is that to obtain financially feasible outcome, it is recommended that farmers produce more than 170 ml honey per hive annually. The recommended methods include: (1) conducting high-rate colony selection; (2) increase the number of bee feed plants; (3) periodically clean the hives.

Kata Kunci : Analisis kelayakan finansial, pengusahaan madu;Financial feasibility analysis, honey cultivation

  1. S1-2019-366431-Abstract.pdf  
  2. S1-2019-366431-Bibliography.pdf  
  3. S1-2019-366431-Tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-366431-Title.pdf