Laporkan Masalah

ANALISIS MANAJEMEN FINANSIAL di PT. JAYA PRATAMA, KERJA SAMA OPERASIONAL (KSO) dengan PT. INHUTANI III (Camp Serawak, Administratur Cempaga, P.T. INHUTANI III unit Sampit) di Kalimantan Tengah

SUSILO HARTONO, Ir. Siswantoyo.,DP, MS.

1998 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

UU No 5 th 1967 dan PP No 21 th 1970 tentang HPH sebagai dasar eksploitasi hutan di Indonesia, telah menimbulkan manfaat antara lain: penciptaan devisa, peningkatan kemampuan pemilik modal, membuka kesempatan kerja dan peningkatkan nilai tambah. Pengusahaan hutan telah berjalan ± 30 th, dan masih banyak pengusaha hutan yang mengabaikan kelestarian hutan dengan lebih mementingkan pemanfaatan ekonomi jangka pendek. Konsekuensi logis adalah HPH dicabut ijin operasionalnya dan areal eks HPH tadi diserahkan kepada HPH BUMN (PT INHUTANI). Untuk mengelola areal tersebut diperlukan Investasi/modal yang besar. PT. (Persero) Inhutani III sebagai salah satu BUMN, mengikutsertakan mitra kerja melalui suatu kerjasama operasional sebagai bentuk kerjasama antara pihak Inhutani III dengan pihak swasta sebagai mitra kerja dalam mengusahakan hutan dengan tanggung jawab sebagai berikut: PT. Inhutani III sebagai pemegang areal melaksanakan pekerjaan: Perencanaan Hutan, Pembinaan Hutan, Produksi, Pemasaran hasil hutan, Monitoring dan Evaluasi. PT. Jaya Pratama sebagai mitra kerja melaksanakan kegiatan eksploitasi hutan ; meliputi penebangan, penyaradan dan hutan ke TPK, pemuatan di TPK, pengangkutan dari TPK ke logpond dan pembongkaran di logpond. Di dalam kerjasama operasional diperlukan keserasian antara kedua belah pihak terutama melalui suatu perencanaan yang matang, secara teknis, ekonomi dan lingkungan. Dari lingkup ekonomi dapat didekati melalui analisis manajemen finansial dengan alat analisis antara lain berupa Internal Rate of Return (ERR), Net Present value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Break Even Point (BEP). Bertitik tolak dari pemikiran-pemikiran di atas, dilakukan suatu penelitian dengan alat hitung berupa analisis Break Even Point (BEP), sehingga dapat diketahui pada volume (m3) berapa jumlah biaya total yang dikeluarkan sama dengan pendapatan dan mendatangkan keuntungan. Kegiatan produksi yang dilakukan oleh pihak mitra kerja, diperlukan investasi yang relatif besar, disamping itu diperkirakan perlu waktu yang cukup lama untuk mengembalikan modal yang telah ditanamkan. Pihak mitra kerja memperoleh pendapatan dari setiap meter kubik (m3) yang telah diangkut sampai ke Log Pond. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui titik impas (break event) antara biaya yang dikeluarkan oleh mitra kerja dengan upah yang didapat dari PT Inhutani III sebagai pemegang hak areal pengusahaan hutan PT Jaya Pratama, mengetahui hubungan antara volume produksi kayu yang dihasilkan oleh mitra kerja dengan tingkat keuntungan yang didapat, mengetahui sejauh mana kegiatan mitra kerja di bidang produksi pada PT. INHUTANI III dapat dipertanggungjawabkan secara finansial. Penelitian ini menggunakan metode Break even dengan menghubungkan antara pendapatan, biaya tetap, dan biaya variabel perusahaan. Setelah dilakukan perhitungan didapatkan hasil sebagai berikut: pendapatan perusahaan US $ 1,299,804.17, Biaya tetap US $ 992,738.047dan Biaya Variabel US $ 225,571.62. Keuntungan perusahaan US $ 81,494.503. BEP (Q) = 22,078.85 m1 BEP (US $) = US $ 1,201,862.03. Analisis sensitivitas : Contribution margin = US $ 1,074,232.55, Contribution margin of ratio = 82.6 %. Maigin of safety = US $ 97,942.14 Margin of safety ratio = 7.5 %, Marginal income = 1,074,232.55, Marginal income ratio = 83%, margin laba = 6.22 %.

Kata Kunci : kerja sama operasional, mitra kerja, produksi, biaya map, biaya variabel pendapatan, break even

  1. S1-FKT-1998-85621-abstract.pdf  
  2. S1-FKT-1998-85621-bibliography.pdf  
  3. S1-FKT-1998-85621-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FKT-1998-85621-title.pdf