Pengembangan Kapasitas Pemuda Tangguh Bencana melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (Studi di Desa Jelok, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo)
Mei Nurul Aini, Dewi Cahyani Puspitasari, S.Sos., M.A.
2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIKejadian bencana menimbulkan dampak dan kerentanan baru bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana. Pada kondisi tersebut, penyintas diharapkan mampu segera menyesuaikan diri dalam waktu yang cepat. Dalam pengarusutamaan risiko bencana, pemuda menyandang peran ganda, yakni sebagai penyintas dan sebagai subjek berpengaruh dalam mengatasi permasalahan kebencanaan. Peran pemuda lokal diperlukan agar potensi bencana dan kerugian akibat bencana dapat diminimalisasi, salah satunya dengan melakukan manajemen bencana. Penelitian mengenai pengembangan kapasitas pemuda dalam menghadapi permasalahan bencana ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengambil lokasi di Desa Jelok, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Penelitian ini dibahas dengan konsep pandangan masyarakat dalam menghadapi bencana menurut Quarantelli, manajemen bencana, serta konsep-konsep kebencanaan dalam perspektif sosiologis lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, penyintas di Desa Jelok mengalami dampak dari kejadian bencana seperti kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal dan harta benda. Dampak tersebut menimbulkan kerentanan baru yang dapat dikelompokkan menjadi kerentanan fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kedua, setelah terjadi bencana pada tahun 2016 pemuda lokal di Desa Jelok berupaya mengembangkan kapasitas melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Pemuda melakukan pelatihan-pelatihan mengenai kebencanaan sehingga menjadi lebih cakap dalam mengambil tindakan untuk mengatasi peristiwa bencana. Pelatihan yang diikuti oleh pemuda terus memerlukan keberlanjutan dan pembaharuan agar kapasitas pemuda lokal dapat terus berkembang.
Disasters cause impacts and new vulnerabilities for the survivors who are living around the disaster site. In this situation, those survivors are expected to be able to adjust in such a fast time. In the process of mainstreaming disaster risk, local youngsters are carrying dual role, the first one is being survivor themselves and the other one is being an influential subject to resolve the disaster problems. The role of local youngsters is needed to minimize the potential disasters as well as the losses that caused by the disasters, one of which can be done by conducting the disaster management. This research on developing youngsters capacity to overcome disaster problems uses a qualitative research method by taking a place in Jelok Village, Kaligesing District, Purworejo Regency. This research is discussed with Quarantelli's concept by viewing the comunities perspective in dealing with disasters, disaster management, and other sociological perspectives about disaster. The results showed that: First, survivors in Jelok Village experienced the impacts of the disasters such as lossing of family members, houses, and properties. These impacts created new vulnerabilities that can be grouped into physical, social, economic and environmental vulnerabilities. Second, after the disaster that happened in 2016 local youngsters in Jelok Village have tried to develop their capacities through a disaster risk reduction forum (FPRB). Those yougters have participated on some disaster-related training in which made them become more capable to take some actions in dealing with disasters. This kind of training requires sustainability and renewal, so that the capacity of the local youngsters can grow continually.
Kata Kunci : pemuda, bencana, risiko, kerentanan, kapasitas