PERBANDINGAN TINGKAT RESILIENSI MASYARAKAT YANG DIRELOKASI DAN YANG TIDAK DIRELOKASI PADA AREA RAWAN BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI
SYABRINA DINAR N, Syahirul Alim, S.Kp.,M.Sc.,Ph.D; Sutono, S.Kp.,M.Sc.,M.Kep.
2019 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATANLatar Belakang: Erupsi Merapi 2010 mengakibatkan warga Padukuhan Kopeng yang berada di KRB III mengalami banyak kerugian dan kehilangan. Pemerintah menghimbau masyarakat yang bermukim di area rawan bencana untuk melakukan relokasi untuk melindungi masyarakat dengan menjauhkannya dari sumber ancaman. Seseorang ataupun masyarakat memerlukan kapasitas yang baik untuk bangkit, sembuh dari trauma yang terjadi, dan kembali menjalani kebiasaan hidupnya. Hal inilah yang disebut resiliensi. Komunitas yang resilien dapat meminimalkan risiko bencana serta kerugian terhadap kehidupan dan lingkungan masyarakat. Tujuan Penelitian: Mengetahui perbandingan tingkat resiliensi individu serta komunitas yang direlokasi dan yang tidak direlokasi pada area rawan bencana erupsi Merapi. Metode: Rancangan penelitian menggunakan metode cross sectional dan menggunakan analisis data deskriptif komparatif. Lokasi penelitian di Padukuhan Kopeng, Desa Kepuharjo. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari-Februari 2019. Populasi penelitian ini adalah 169 kepala keluarga dengan partisipan sebanyak 111 responden, dan responden yang valid berjumlah 103 (37 yang direlokasi dan 66 yang tidak direlokasi). Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara tingkat resiliensi individu dan komunitas dengan lokasi tempat tinggal masyarakat (p=0,334 & p=0,268) Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna terkait tingkat resiliensi antara responden yang direlokasi dan yang tidak direlokasi, baik pada tingkat resiliensi individu maupun tingkat resiliensi komunitas.
Background: Merapi eruption in 2010 resulted in residents of Padukuhan Kopeng in KRB III experiencing many losses. The government urges people living in disaster-prone areas to relocate, rebuild settlements and community life in a safer place to protect the community and reducing the vulnerability of the community. Someone or society needs a good capacity to get up, recover from the trauma that happens and return to living their habits. This is called resilience. A resilient community can minimize disaster risks and losses to the life and environment of the community. Objective: The objective of the study was to understand the comparison of resilience level of relocated and not relocated communities in the disaster area of Merapi mountain. Method: This was a cross-sectional study. Subjects of this study was 169 head of families with participants as many as 111 respondents, and valid respondents amounted to 103 (37 who were relocated and 66 who were not relocated). The measuring instrument used is a questionnaire. Data analysis using chi-square. Results: Based of Chi-square, there were no difference between the level of resilience of individuals and communities and the location of residence of the community (p = 0.334 & p = 0.268). Conclusion: There is no significant difference in the level of resilience between relocated and not relocated communities, both at the level of individual resilience and community resilience.
Kata Kunci : bencana, daerah rawan bencana, relokasi, resiliensi, resiliensi individu, resiliensi komunitas