Laporkan Masalah

PERANAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKAR SOLAR DALAM PEMANENAN HASIL HUTAN (Studi kasus di Camp Swakelola Pimping, PT. Inhutani I Tarakan, Administratur Tarakan, Kalimantan Timur)

SYAM HIMAWAN, Ir. Siswantoyo, M.S.

1997 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Pemanenan merupakan kegiatan yang penting dalam sistem pengelolaan hutan pada suatu perusahaan hutan, karena dari pemanenan ini dapat dihasilkan keuntungan untuk melangsungkan kegiatan selanjutnya. Akan tetapi dalam pemanenan banyak hal-hal sebagai sarana dan prasarana pendukung yang harus dipenuhi agar kegiatan tetap berlangsung. Misalnya seperti peralatannya, tenaga kerja, modal kerja, jumlah alat, target produksi dan lain-lain. Skripsi ini akan membicarakan mengenai pengadaan persediaan bahan bakar solar (dengan metode EOQ = Economic Order Quantity) untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dalam kegiatan pemanenan maupun kegiatan sehari-hari lainnya, selama satu periode produksi, di Camp Swakelola Pimping, P.T. Inhutani I Tarakan. Dalam hal ini periode yang dimaksud adalah satu bulan dan disesuaikan dengan target produksi per bulan. Jadi hal-hal yang pokok di sini adalah mengenai jumlah pemesanan tiap periode dan jumlah tiap kali pembelian bahan bakar tersebut. Dalam pengadaan persediaan solar yang terpenting adalah menentukan jumlah pemesanan yang paling ekonomis dan total biaya persediaannya. Sedangkan biaya yang harus diperhitungkan adalah biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Total biaya persediaan akan minimum bila biaya persediaan sama dengan biaya penyimpanan. Dari total biaya persediaan minimum ini dapat diketahui jumlah pemesanan paling ekonomisnya. Rata-rata kebutuhan bahan bakar solar adalah sebesar 55.107 liter/periode. Biaya penyimpanan per unit dalam satu periode adalah Rp.30,-, sedangkan biaya pemesanannya adalah Rp.115.000,-. Dengan menggunakan rumus pada metode EOQ dapat dihitung jumlah pemesanan paling ekonomis yaitu sebesar 20.554,49 liter per periode, dengan frekuensi pembelian setiap 0,4 x 30 hari atau 12 hari sekali. Total biaya persediaan adalah sebesar Rp.616.640,-, yang merupakan jumlah dari total biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang besarnya adalah sama yaitu Rp.308.320,-. Setelah diketahui jumlah pesanan paling ekonomis, harus pula ditentukan waktu pemesanan kembali (reorder point) terhadap bahan bakar solar tersebut. Waktu pemesanan kembali ini dipengaruhi oleh waktu tunggu dan safety stock atau persediaan minimum di gudang. Waktu tunggu yang kemungkinannya paling besar adalah tiga hari, dengan safety stock sebesar 6.612,84 liter. Pemesanan kembali dilakukan pada pada saat persediaan di gudang tersisa 13.225,68 liter, yaitu pada hari kesembilan setelah pemesanan sebelumnya tiba.

Kata Kunci : -

  1. S1-FKT-1997-61757-abstract.pdf  
  2. S1-FKT-1997-61757-bibliography.pdf  
  3. S1-FKT-1997-61757-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FKT-1997-61757-title.pdf