Laporkan Masalah

STRUKTUR JARINGAN SOSIAL ASIMETRIS ANTARA PALLAWANG DAN PAKKAJA LALLA DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DANAU TEMPE SULAWESI SELATAN

MUHAMMAD SAID, Prof. Dr. M. Baiquni, MA; Dr. Subando Agus Margono, M. Si; Dr. Bevaola Kusumasari, M. Si

2019 | Disertasi | DOKTOR ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

Disertasi ini mengangkat tema Struktur Jaringan Sosial Asimetris Antara Pallawang dan Pakkaja lalla dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam di Danau Tempe Sulawesi Selatan yang bertujuan: [1] Menjelaskan dinamika jaringan sosial yang berlangsung di balik kontestasi kepentingan antara Pallawang dan Pakkaja lalla dalam praktik pengelolaan sumber daya alam di Danau Tempe; dan [2] Menjelaskan struktur jaringan sosial asimetris antara Pallawang dan Pakkajalalla dalam praktik pengelolaan sumber daya alam di Danau Tempe. Penelitan ini menggunakan pendekatan studi kasus eksplanatif yang dilakukan di Kawasan Danau Tempe yang yang melintasi 3 Kabupaten (Wajo, Soppeng dan Sidenreng Rappang). Penentuan informan menggunakan teknik bola salju, yaitu penggalian data dan informasi dengan mencari informan pertama yang mengetahui konteks penelitian kemudian dilanjutkan ke infrorman kedua berdasarkan referensi informan pertama dan seterusnya sampai peneliti tidak menemukan data dan informasi baru lagi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan, Pertama, wawancara mendalam kepada informan dari pihak Pemerintah, aktor Pallawang (nelayan besar), aktor Pakkaja lalla (nelayan kecil), pedagang besar dan pedagan pengumpul ikan, dan aktor-aktor LSM. Kedua, observasi terlibat terhadap perilaku dan tindakan aktor Pallawang dan Pakkaja lalla serta situasi sosial yang berlangsung di Danau Tempe. Riset-riset terdahulu menyimpulkan bahwa jaringan sosial berfungsi membangun kerjasama, saling membagi sumber daya dan saling percaya antar aktor dalam pengelolaan sumber daya alam secara bersama dan adaptif. Penelitian ini menemukan bahwa tidak semua jaringan sosial berfungsi efektif meningkatkan kinerja pengelolaan SDA secara bersama dan adaptif, akan tetapi sangat tergantung kepada struktur jaringan sosial yang terbentuk. Penelitian ini menemukan bahwa struktur jaringan sosial asimetris yang terbentuk di balik kontestasi kepentingan antar aktor dalam praktik pengelolaan Danau Tempe menyebabkan eksploitasi SDA Danau Tempe dan menyulitkan pengelolaan secara bersama dan adaptif. Pendekatan pengelolaan yang lebih berorientasi pasar dan otoritas 3 Kabupaten dengan teritorialisasi dan pelelangan tanah ex-ornament Danau Tempe berkontribusi membentuk struktur jaringan sosial asimetris antara Pallawang dan Pakkaja lalla. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: [1] Dinamika jaringan sosial yang berlangsung di balik kontestasi kepentingan dan kekuasaan antar aktor dalam praktik pengelolaan Danau Tempe menunjukkan distribusi sumber daya yang asimetris. Ketidakseimbangan kepentingan dan kekuasaan antar aktor dalam mengaktifkan dan memobilisasi sumber daya jaringan sosial menyebabkan ketimpangan dalam mendapatkan nilai SDA di Danau Tempe. Aktor Pallawang yang mendominasi sumber daya jaringan sosial mendapatkan nilai/manfaat/keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan Pakkaja lalla yang cenderung termarjinalisasi. Sehingga untuk bertahan hidup, Pakkaja lalla melakukan tindakan resistensi dan gangguan-gangguan kecil terhadap mekanisme pengelolaan Danau Tempe. [2] Struktur jaringan sosial yang terbentuk dalam praktik pengelolaan Danau Tempe adalah struktur jaringan sentralitas dengan ikatan yang kuat (bonding) dalam klik pemerintah daerah 3 Kabupaten, klik Pallawang dan klik Pakkaja lalla. Struktur jaringan yang lain adalah struktur heterogenitas yang menimbulkan ketidakmampuan menjembatani (bridging) celah struktural antara klik yang kuat dengan klik yang lemah. Kata Kunci : Jaringan Sosial, Struktur Jaringan Sosial Asimetris, Kontestasi Kepentingan, Pengelolaan Sumber Daya Alam, Pengelolaan Bersama dan Adaptif, dan Danau Tempe.

The title of this dissertation is The Asymmetric Structure of Social Network between Pallawang and Pakkaja Lalla in The Natural Resource Management of Lake Tempe in South Sulawesi. This study aims: [1] to describe the dynamics of social networks on the contestation of interest between Pallawang and Pakkaja Lalla in the natural resources management of Lake Tempe; and [2] to explain the asymmetric structure of social network between Pallawang and Pakkaja Lalla in the practice of natural resource management of Lake Tempe. This study applied an explanatory case study approach carried out in the neighborhood of Lake Tempe which crosses 3 Regencies (Wajo, Soppeng, and Sidenreng Rappang). The informants were identified using a snowball technique, which is started by finding the first informant who knows the context of the study then proceed to the second informant based on the first informant's reference and so on until the researcher does not find new data and information and decides to stop. Two data collection techniques that were performed: [1] in-depth interviews with Government Actors, Pallawang (big scale fishermen), Pakkaja Lalla (small scale fishermen), traders, and NGOs; and [2] participatory observation on the behaviors and actions of Pallawang and Pakkaja Lalla as well as the social situation in the surroundings of Lake Tempe. Previous researches concluded that social network function to build cooperations, sharing of power, and trust each other among actors in the collaborative and adaptive natural resource management. This study found that not all social networks is effectively functioned to improve the performance of joint and adaptive natural resource management, but was highly dependent on the structure of social networks formed. This study showed that the assymmetric structure of the social network formed behind the contestation of interest between Pallawang and Pakkaja Lalla in the management of Lake Tempe led to the exploitation of natural resources and the difficulty of collaborative and adaptive management. The management approach with more market-oriented, and territorialization�s authority of the 3 districtsas well as the auctions of ex-ornament land of Lake Tempe contributed to form the asymmetric structure of social network between Pallawang and Pakkaja lalla The results of this study concluded that: [1] The dynamics of social network behind the contestation of interests and power amongs actors in the management of Lake Tempe showed an asymmetrical distribution of resources. The imbalance of interests and power among actors for activating and mobilizing the social network resources causes inequality in obtaining value/benefits/profits of the natural resources of Lake Tempe. Pallawang actor who dominates the social network resources reached greater value / benefit / profit compared to Pakkaja lalla which tends to be marginalized. Pakkaja Lalla, in order to survive, performed a resistance and minor disturbances in the management of Lake Tempe. [2] The structure of the social network formed in the management of Lake Tempe is a centrality network structure with strong ties (bonding) with the click 3 districts, click Pallawang, and click Pakkaja Lalla. Another network structures formed is a heterogeneity structure that unable to bridge (Bridging) the structural gap between the strong and weak clicks. Key words: Social Network, Assimetric Structure of Social Network, Contestation of Interest, Natural Resources Management, Collaborative and Adaptive Management, Lake Tempe.

Kata Kunci : Jaringan Sosial, Struktur Jaringan Sosial Asimetris, Kontestasi Kepentingan, Pengelolaan Sumber Daya Alam, Pengelolaan Bersama dan Adaptif, Danau Tempe

  1. S3-2019-355075-abstract.pdf  
  2. S3-2019-355075-bibliography.pdf  
  3. S3-2019-355075-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2019-355075-title.pdf