Strategi Bertahan Hidup Pekerja Migran Tidak Berdokumen di Malaysia
NISRINA MUTHAHARI, Dr. Amelia Maika, M.A., M.Sc.
2019 | Tesis | MAGISTER SOSIOLOGIPekerja Migran Indonesia (PMI) tidak berdokumen di Malaysia tersebar di berbagai sektor pekerjaan di Malaysia. Mereka memiliki berbagai risiko dan kerentanan, seperti ketiadaan skema perlindungan sosial serta praktik-praktik curang yang dilakukan oleh majikan atau pengguna. Faktanya, jumlah PMI tidak berdokumen diperkirakan hampir sama dengan jumlah PMI berdokumen yang saat ini bekerja di Malaysia. Keinginan untuk tinggal dan bekerja di Malaysia membuat para PMI tidak berdokumen mengabaikan risiko dan berusaha mengembangkan strategi-strategi supaya tetap bertahan di Malaysia. Penelitian ini melihat bagaimana usaha para PMI tidak berdokumen untuk tetap dapat tinggal dan bekerja di Malaysia. Selain itu, penelitian ini juga memetakan peran dari berbagai pihak, yaitu pemerintah dan masyarakat sipil di Indonesia maupun Malaysia dalam menyediakan solusi atas persoalan yang dihadapi PMI tidak berdokumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif khususnya metode studi kasus dengan menekankan pada kedalaman analisa atas fenomena yang dihadapi oleh PMI tidak berdokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi lapangan. Penelitian ini mengambil lokasi di Puchong (Subang Jaya) dan Bandar Sunway (Petaling Jaya) yang termasuk dalam wilayah Negeri Selangor (Malaysia). Adapun informan yang terlibat dalam penelitian ini terdiri atas PMI tidak berdokumen, Komunitas PMI di Malaysia, masyarakat sipil (NGO) dan pemerintah Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PMI tidak berdokumen memiliki berbagai strategi untuk untuk mempertahankan hidupnya di Malaysia. PMI tidak berdokumen juga melakukan ‘perlawan sehari-hari’ agar mereka dapat bertahan dan mencari penghidupan di Malaysia. Jaringan sosial dan kondisi keuangan yang dimiliki PMI tidak berdokumen rupanya berperan signifikan sebagai alat bertahan hidup di Malaysia. Menyikapi permasalahan terkait pekerja tidak berdokumen, pemerintah Malaysia melakukan program legalisasi dan pengampunan yang kurang mendapat sambutan baik karena syarat-syarat yang rumit. Akibatnya, PMI tidak berdokumen tidak antusias untuk melegalkan statusnya. Sementara itu, peran KBRI sebagai perwakilan pemerintah Indonesia dan masyarakat sipil (NGO, komunitas migran dan serikat buruh migran) lebih banyak mengatasi kasus-kasus yang menimpa PMI tidak berdokumen secara kasuistik.
Undocumented Indonesian Migrant Workers (PMI) in Malaysia are spread across various employment sectors in Malaysia. They have various risks and vulnerabilities, such as the absence of social protection schemes and fraudulent practices carried out by employers or users. In fact, the number of undocumented PMI is estimated to be almost the same as the number of documented PMI who are currently working in Malaysia. The desire to live and work in Malaysia has made undocumented PMI ignore the risks and they try to develop strategies to stay in Malaysia. This research is trying to looks at how PMI can keep living and working in Malaysia without any documents. In addition, this study also maps the roles of various parties, namely the government and civil society in Indonesia and Malaysia in providing solutions to the problems faced by undocumented PMI. This study uses a qualitative approach, especially the case study method with emphasis on the depth of analysis of the phenomena faced by undocumented PMI. Data collection is conducted by in-depth interviews and field observations. This research took place in Puchong (Subang Jaya) and Bandar Sunway (Petaling Jaya) which the parts of Negeri Selangor (Malaysia) region. The informants involved in this research are consisted of undocumented PMI, PMI Community in Malaysia, NGO and the Indonesian government. The results of this study indicate that undocumented PMI have various strategies to maintain their lives in Malaysia. The undocumented PMI also carried out 'daily resistance' so they could survive and made a living in Malaysia. The social networks and financial conditions of undocumented PMI seem to play a significant role as the way for them to survive in Malaysia. Responding to the problems related to undocumented workers, the Malaysian government conducted a legalization and amnesty program that was not well received due to complicated requirements. As a result, undocumented PMI were not enthusiastic about legalizing their status. Meanwhile, the roles of the Indonesian Embassy as the representative of the Indonesian government and NGO, migrant workers communities and migrant trade unions, only offered solutions for casuistry faced by undocumented PMI.
Kata Kunci : Undocumented migrant workers, survival strategies, social networks, the role of government, migrant workers communities