Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mortalitas Pasien Leptospirosis di Kota Semarang
OSA ENDIPUTRA, dr. Yanri Wijayanti S., Ph.D., Sp.PD-KPTI FINASIM; Dr. dr. Ida Safitri L., Sp.A(K)
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KEDOKTERAN TROPISPenyakit infeksi merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Faktor iklim yang membuat udara terasa hangat, tanah basah, lembab dan memiliki pH alkalis juga menjadi pendukung bagi agent penyebab penyakit seperti bakteri untuk dapat hidup dan berkembang salah satunya adalah bakteri dari Genus Leptospira sebagai penyebab penyakit leptospirosis. Data terakhir kasus leptospirosis di Kota Semarang pada tahun 2014 tercatat sebanyak 75 orang dan kematian mencapai 13 orang. Dari 75 orang tersebut sebanyak 51 kasus menyerang laki-laki (68%) dan 24 kasus menyerang perempuan (32%). Jika dilihat dari usia, kasus tertinggi terjadi pada kelompok usia > 50 tahun sebanyak 38 kasus (51%), sedangkan terendah pada kelompok usia 0-10 tahun sebanyak 1 kasus (1%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas pada pasien leptospirosis di Kota Semarang. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan penelitian Cross Sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Kota Semarang antara 2010-2017. Data yang digunakan adalah data sekunder dari rekam medik penderita rawat inap, yang dianalisis menggunakan analisis bivariat dengan uji Chi Square. Diperoleh total subyek sebanyak 31 pasien yang memenuhi diagnosis leptospirosis, meninggal sebanyak 10 orang (32,25%) dan tidak meninggal sebanyak 21 orang (67,75%). Proporsi terbanyak pasien leptospirosis pada usia 41-60 tahun. Tidak ada pengaruh usia, kadar Hb, angka leukosit, angka trombosit, kadar ureum dan kreatinin. Manifestasi ikterik dan hiperbilirubinemia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas leptospirosis P=0,006 dan P=0,005. Didapatkan bahwa manifestasi klinis ikterik dan hiperbilirubinemia merupakan faktor yang mempengaruhi mortalitas pada pasien leptospirosis di Kota Semarang. Kondisi ikterik memiliki kemungkinan 8,4 kali lebih besar dan hiperbilirubinemia 2,0 kali lebih besar untuk meninggal pada pasien leptospirosis di Kota Semarang.
Infectious diseases is a major health problem in Indonesia. A warm temperatures of the air, wet and moise soil, and also alkaline pH becomes a support for agent of diseases, such as bacteria from genus Leptospira causes leptospirosis, to be able to live and develop. The latest data of leptospirosis in Semarang in 2014 were 75 patients with 13 patients were died. From 75 patients, cases between males and females are 51 (68%) and 24 (32%). Case by age group, the highest occurred in the age group > 50 years old as 38 cases (51%), while the lowest occurred in the age group 0-10 years as 1 case (1%). The research aims to determine factors that affecting mortality of leptospirosis in Semarang City. This was an analytical research using a cross sectional design. The study was conducted at Tugurejo Hospital between 2010 to 2017. The data was collected by secondary data of medical record patients. Chi-square test was employed for data analysis. A total of 31 leptospirosis patients acquired who divided into mortality case as 10 patients (32,25%) and survival case as 21 patients (67,75%). The main age group affected was 41-60 years old. There is no influence of age, Hb, leukocyte, platelets, ureum and creatinin. Icteric and hyperbilirubinemia have a significant effect on leptospirosis mortality P=0,006 and P=0,005. Clinical manifestation especially icteric and hyperbilirubinemia are factors that affecting mortality of leptospirosis in Semarang City. The icteric condition is 8,4 times more and hyperbilirubinemia is 2,0 times more likely to die in leptospirosis patients in Semarang City.
Kata Kunci : Leptospirosis, ikterik, hiperbilirubinemia, morbiditas