INOVASI DAN KEPEMIMPINAN TOMON HARYO WIROSOBO DALAM MENGEMBANGKAN POTENSI DESA WONOKERTO
MICHAEL AGASTYA S D, Dr. Subando Agus Margono, M.Si
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PUBLIKDesa Wonokerto merupakan salah satu desa yang terletak di lereng Gunung Merapi. Desa ini memiliki beragam potensi baik potensi ekonomi maupun potensi alamnya, dan Wonokerto merupakan desa terluas di Kecamatan Turi, Sleman. Namun selama ini beragam potensi tersebut belum tergarap sehingga ekonomi masyarakat pun stagnan. Sekitar 3 tahun belakangan ini banyak terjadi perubahan di Desa Wonokerto. Berbagai macam perubahan tersebut muncul berkat adanya seorang kepala desa yang baru dilantik pada akhir tahun 2015, yaitu Tomon Haryo Wirosobo. Tomon dikenal masyarakatnya sebagai seorang pemimpin yang banyak ide inovatif. Dampak letusan Gunung Merapi, membuat Tomon berinisiatif untuk melaksanakan program penanaman pohon dan revitalisasi sumber mata air. Namun inovasi Tomon tidak berhenti disitu saja, Tomon kemudian banyak melahirkan beragam inovasi mulai dari di bidang ekonomi sampai pada seni dan budaya. Semua ini dilakukan dalam rangka untuk mengembangkan potensi perekonomian yang terdapat di Desa Wonokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepemimpinan Tomon Haryo Wirosobo dan mengetahui ide-ide inovasinya dalam mengembangkan keragaman potensi di Wonokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data lewat observasi, wawancara, dokumentasi yang berasal dari foto dan video serta studi pustaka. Secara teoritik kepemimpinan Tomon dapat dilihat berdasarkan dari pandangan Tomon mengenai kepemimpinan (Servant Leadership) seperti: keteladanan, srawung, empati, fleksibel/luwes (bisa mancolo putro dan mancolo putri) dan bahkan percaya akan adanya Wahyu/Pulung. Pengalaman sebelum menjadi kepala desa ikut memberi andil dalam membangun jaringan dengan pihak sluar serta memanfaatkan media sosial untuk membawa desanya menuju kepada perubahan yang lebih baik. Melalui modal tersebut Tomon membangun modal tersebut 5 strategi yang dilakukan dalam 6 tahun : pertama, menyamakan persepsi; kedua, membuat team work; ketiga perencanaan dan konsolidasi di bawah satu komando; keempat implementasi; kelima dan keenam evaluasi dan peningkatan program. Dari 5 strategi ini yang paling tampak adalah konsolidasi di bawah satu komando akibatnya team work sering diabaikan. Tomon lebih banyak menampilkan diri sebagai�One man show�. Banyak program yang diidekan yang merupakan inovasi Tomon tidak jelas keberlanjutannya atau belum dituntaskan. Bahkan, ada program kerja justru menimbulkan konflik dengan masyarakat seperti penanaman pohon di sumber mata air. Oleh sebab itu, direkomendasikan agar Tomon beserta pemerintah desa dapat fokus pada team work agar dapat memberikan hasil yang bermanfaat pada masyarakat, jangan sampai program kerja hanya terdengar di awal tetapi kemudian berhenti di tengah jalan dan berganti program lain tanpa ada keberlanjutannya. Tomon juga perlu untuk mengkomunikasikan perubahan yang terdapat pada program kerjanya sehingga tidak membuat program baru tanpa ada musyawarah dengan warga desa maupun Badan Perwakilan Desa/BPD.
Wonokerto village is one of the villages located on the slopes of Mount Merapi. This village has a variety of potential both economic potential and natural potential, and Wonokerto is the widest village in the Turi district of Sleman. However, so far the various potentials have not been explored so that the community economy is stagnant. In the past 3 years there have been many changes in Wonokerto Village. Various kinds of changes emerged thanks to the newly installed village head at the end of 2015, namely Tomon Haryo Wirosobo. Tomon is known by his community as a leader with many innovative ideas. The impact of the eruption of Mount Merapi, made Tomon take the initiative to implement a tree planting program and revitalize spring water sources. But Tomon's innovation did not stop there, Tomon then gave birth to a variety of innovations ranging from economics to art and culture. All this is done in order to develop the economic potential found in Wonokerto Village. This study aims to describe Tomon Haryo Wirosobo's leadership and find out his innovation ideas in developing the diversity of potential in Wonokerto. The method used in this research is qualitative research using data collection techniques through observation, interviews, documentation originating from photos and videos and literature studies. Theoretically, Tomon's leadership can be seen based on Tomon's view of leadership (Servant Leadership) such as: exemplary, srawung (gathering), empathy, flexible (mancolo putro and mancolo putri) and even believes in the existence of Wahyu/Pulung. The experience before becoming a village head contributed to building a network with outside parties and utilizing social media to bring his village towards better change. Through this capital Tomon built the capital 6 strategies: first, equating perceptions; second, making team work; third, planning and consolidating under one command; four, implementations; fifth and sixth, program evaluation and improvement. Out of these 6 strategies, the most visible is consolidation under one command, consequently team work is often ignored. Tomon presents himself more as a "One man show". Many of the programs that are desirable, which are Tomon's innovations, are not clear or not yet completed. In fact, there is a work program that actually creates conflict with the community, such as planting trees at a spring. That is why it is recommended that Tomon and the village government focus on team work so that they can provide useful results to the community, so that the work program is not only heard at the beginning but stops in the middle of the road and changes other programs without clarity of sustainabilityTomon also needs to communicate the changes contained in his work program so that he does not arbitrarily create new programs without any deliberations with villagers or Village Representatives/BPD.
Kata Kunci : kepemimpinan, inovasi, kepala desa